BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
NAHKODA YANG MEMIMPIN


__ADS_3

“Mas, tadi Imah bicara dia dapat beasiswa tapi untuk SMP yang di kota.  Dia tanya sama aku boleh enggak diambil kesempatan itu.” Fitri membuka percakapan intim malam ini setelah kedua jagoan mereka tidur.


“Kamu bilang apa sama Imah?” Tanya Yanto penasaran.


“Aku bilang kemungkinan ibu enggak akan kasih izin, karena ibu enggak akan lepasin anak perempuan sendirian di kota dan aku juga bilang aku akan bilang ke Mas dulu,” jawab Fitri. Walau usia lebih tua Fitri, tetap saja sikap dewasa Yanto lebih dominan. Dewasa bukan ditentukan oleh usia.


“Aku udah pesankan sama Imah, bersiap-siap menerima kemungkinan terburuk yaitu tidak dapat izin dari Mas dan ibu,” jelas Fitri.


“Kalau Mas jelas tidak akan pernah mengizinkan dia untuk tinggal sendirian di kota, walau itu di rumah ayah,” tegas Yanto menolak soal pemberian izin. Dia tak akan membiarkan Imah yang masih labil harus sendirian jauh dari pengawasan dirinya dan Gendis.


“Tapi tetap semua keputusan di tangan ibu. Mas enggak mau mendahului ibu, wewenang tetap di tangan beliau,” jelas Yanto.


“Aku juga sudah bilang begitu, makanya aku lapor Mas dulu sebelum ke ibu.”

__ADS_1


“Mas yakin kalau ayah dan ibu Erlina juga enggak akan kasih izin buat Ima tinggal di kota sendirian.  Jangankan masih SMP, kalau SMA saja kayanya enggak akan di kasih izin tinggal di luar rumah kalau anak perempuan,” Yanto berasumsi demikian, karena dia yakin bu Lina dan ayah Suradi over protektif pada semua anaknya termasuk pada Herry dan Imah.


“Padahal anak perempuan atau laki tetap aja resikonya sama Pa, kalau dibiarkan mereka tanpa pengawasan.” jelas Fitri.


“Mas tahu itu, tapi maksudnya kesempatan untuk dapat izin tuh lebih berat saat anak perempuan masih SMP daripada SMA.” Yanto menerangkan apa maksud perkataannya agar Fitri tak salah paham.


“Iya sih.  yang penting aku sudah bicara sama Mas. Jadi Mas enggak blank saat Imah nanti bilang sama ibu dan sama Mas.”


“Iya, terima kasih kamu mendahulukan pendapatku sebelum bicara dengan ibu,” Yanto mengecup lembut bibir istrinya sekilas.


“Tapi sekarang Mas pengen nahkodanya yang pegang kendali,” pinta Yanto


“Iih kok jadi aku?” kata Fitri, dia mengerti apa maksud suaminya.

__ADS_1


“Ayolah sekali-kali puasin kaptennya. Masa kapten terus yang pegang kendali,” kata Yanto sambil membalik tubuh istrinya agar berada di atas.


Malam itu peperangan pun dipimpin oleh nahkoda.


Timah dan Herry sedang tidak sekolah pagi ini. Timah karena menunggu hasil ujian sedang Herry karena sedang class meeting. Dia tidak ikut pertandingan sehingga hari ini malas berangkat karena sedang gerimis.


“Bu mumpung sedang kumpul, aku mau bicara,” kata Timah.


“Kenapa?” Jawab Gendis.


“Kemarin aku dapat pemberitahuan beasiswa untuk bersekolah di SMP 1 Kota. Kalau menurut Ibu aku boleh ambil enggak dan bila boleh aku akan tinggal di rumah kota milik ayah,” ucap Timah.


Gendis diam mendengar itu, biar bagaimana pun dia sangat bangga putrinya dapat beasiswa sebelum diberitahu lulus dari SD. Tapi di sisi lain dia sangat keberatan melepas putri tunggal serta putri bungsunya itu. Dia harus mengatur kata agar tak melukai perasaan putri kecilnya. Karena Gendis tahu luka di hati tak mudah diobati, walau dengan kata-kata maaf sekali pun.

__ADS_1



__ADS_2