BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TAK BACA PESAN


__ADS_3

“Yah kita tidak usah nungguin Yanto datang juga jangan tanya Yanto mau ke sini kapan dan jam berapa. Kita tunggu aja sampai dia datang. Jangan bikin dia merasa dikejar-kejar harus datang ke sini,” Kata Erlina pada Suradi. Tentu tak di dekat Fitri agar putri tunggal mereka tak mendengar.


“Iya Bu sejak tadi Ayah juga berpikir begitu. Kita tidak bisa ngejar-ngejar Yanto lagi karena bukan salah dia. Dia sudah sabar menunggu Fitri membuka hati, tapi Fitri-nya yang tidak mau. Sekarang saat dia terpuruk seperti itu ya sudah, kita hanya bisa mengamati saja,” balas Suradi sedih. Biar bagaimana pun kedua orang tua Fitri sedih melihat rumah tangga putrinya.


“Sudah mau magrib, Ayah berangkat ke masjid dulu ya nanti pulangnya sekalian beli makan buat kita.


“Iya,” jawab Erlina.


“Bu aku ke rumah sakit ya gantian sama Bu Erlina dan Pak Suradi,” pamit Yanto pada Gendis. Mereka sudah rampung salat magrib Yanto langsung memberikan makan malam buat anak-anak.


“Kamu makan dulu Nto,” kata Gendis mengingatkan putra sulungnya.


“Kamu tadi makan siang juga cuma sedikit. Ibu tahu kamu tidak nafsu makan, tapi jangan dituruti seperti itu. Biar bagaimana pun jangan sampai kamu juga ikutan sakit. Bisa bahaya kalau kedua orang tua anak-anakmu sakit. Anak-anak siapa yang mau urus? Memang benar semua orang bisa mengurus Daffa dan Daanish, tapi kan beda kalau diurus orang tuanya, karena kalau diurus orang tuanya tentu dengan kita kasih orang tua.”


“Iya Bu. Nanti aku makan,” jawab Yanto.

__ADS_1


“Sudah makan dulu sebelum berangkat,” desak Gendis.


“Aku sudah ganjal roti kok,” jawab Yanto.


“Kalau begitu Ibu bawakan kamu lemper ya, tadi ada lemper dari toko depan toko, Ibu beli saat pulang dari rumah sakit,” Gendis pun membawakan Yanto lemper untuk dia makan di mobil sepanjang perjalanan. Yanto memang bawa mobil sejak mengambil anak-anak di rumah desa.


“Kamu sudah makan Nto?” tanya Suradi saat melihat Yanto datang ketika dia dan Erlina sedang makan malam.


“Sudah Yah, tenang aja.”


“Ini makan, tadi Ayah memang beli 3 box,” ujar Suradi.


“Pa, pesanan Mama dibeliin tidak?” tanya Fitri lembut.


“Pesan apa?” tanya Yanto,

__ADS_1


“Kan Mama dari tadi kirim pesan di ponsel Papa minta belikan bakso kuah di tempat yang biasa kita makan,” kata Fitri.


“Maaf, aku tidak baca. Ya sudah aku belikan sekarang,” Yanto langsung balik badan tanpa menunggu jawaban dari Fitri. Dia juga tidak pamit lebih dulu pada Erlina dan Suradi.


‘Sebegitu marahnya dia sampai tak mau membaca pesanku sama sekali,’ kata Fitri dalam batinnya, dia pun meneteskan air mata.


Erlina melihat semua itu, dia tak ingin rumah tangga anaknya berantakan. Tapi kalau sudah begini apa mau dikata?


Erlina mengakui kesalahan ada pada Fitri, belum tahu kejelasannya tidak mau berkomunikasi. Fitri berkeras bahwa Yanto salah sebelum bertanya faktanya. Saat mengetahui fakta bertolak belakang dengan yang dia perkirakan Yanto sudah berbalik arah.


Yanto membelikan bakso di tempat yang biasa Fitri dan dia makan. Tapi dia tidak membaca pesan apa yang diminta Fitri. Yanto membelikan bakso telur dengan mie campur.


Yanto juga makan di situ mie ayam bakso pangsit agar lumayan kenyang karena dia juga belum makan. Lemper dari Gendis tadi tentu tak membuat perut lelaki itu kenyang.


“Maaf lama,” kata Yanto dia mengambilkan piring juga sendok untuk bakso kuah tersebut.

__ADS_1


“Ibu, ini tolong disuapin,” kata Yanto pada Erlina, dia lalu duduk di teras menemani Suradi di sana.


‘Astagfirullah sampai segitunya kamu tidak mau ngurusin aku,’ perih tangis yang ada dalam batin Fitri. Dia hanya bisa menangis dalam hatinya saja.


__ADS_2