
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
"Pak, Bu, aku diterima kerja di Jogja," Fitri memberitahu surat panggilan kerja yang baru dia terima.
"Ngopo tho Nduk? Wong kerja di Solo aja banyak, koq malah kerja di Jogja." Erlina tentu tak mengizinkan anaknya kerja di luar kota.
"Ini kantornya dekat dengan stasiun Tugu Bu. Aku bisa naik kereta PRAMEKS saja. Dari stasiun numpak ( naik ) becak, atau kalau naik angkutan umum juga hanya satu kali tak perlu ganti-ganti angkutan koq."
Suradi hanya diam. Anak satu, perempuan pula. Mau dia kekang ya susah. Enggak dikekang dia takut anaknya kenapa-kenapa.
"Sudah Bu, jangan dibuat ribut. Kamu enggak mikir kamu pun begitu terhadap orang tuamu?"
"Kamu anak tunggal dari Cilacap. Kuliah di Jogja malah enggak pulang, malah nikah ama aku dan tinggal di Solo. Jadi wajar bila nanti Fitri ikut suaminya."
"Sekarang biar dia merasakan bekerja mengembangkan ilmu yang dia miliki," Suradi menasihati istrinya.
"Kapan Nduk kamu mulai bekerja?" Tanya Suradi.
"Ini ditulis aku akan diterima gelombang kedua, jadi masih tiga minggu lagi Yah," ucap Fitri.
__ADS_1
"Semoga lancar ya Nduk," Suradi malah memberi restu buat Fitri.
\*\*\*
"Mbang …, mBang," mbok Darmi membangunkan Bambang yang baru pulang tadi pagi. Tumben dia tak langsung pulang ke desa tapi tidur di kamar kost. Entah mengapa Bambang tumben seperti itu. Serasa ada yang mengharuskan dia kembali ke kamar kost, bukan langsung ke rumah keluarganya di desa.
"Ono opo Mbok?" Tanya Bambang dengan mata rapat.
"Itu, ibu nangis-nangis karena bapak jatuh di kamar mandi," ucap mbok Darmi.
"Ya ampuuun," Bambang langsung lompat mengambil kaos dan langsung berlari ke rumah utama. Tanpa sempat ganti celana pendek. Kaos saja dia kenakan sambil berlari karena kebiasaan Bambang tidur tanpa menggunakan kaos.
\*\*\*
"Bu maaf ambil kunci mobil dan buka pintunya." Bambang memberi aba-aba membawa pak Suradi ke mobil.
"Bu, kartu berobat Bapak di bawa. Saya mau ambil dompet karena SIM di sana," Bambang lari ke kamarnya. Dia ganti celana panjang dan mengambil dompet dan ponselnya.
Lalu bu Erlina dan Bambang membawa pak Suradi ke rumah sakit. Fitri tak ada dan sejak tadi Bambang juga tak bertanya kemana anak majikannya itu.
__ADS_1
"Bapak jatuh dan sekarang sedang ibu bawa ke rumah sakit. Kamu nyusul aja ke rumah sakit," Bambang mendengar bu Erlina menghubungi Fitri. Rupanya Fitri sedang menginap di rumah budenya.
\*\*\*
"Kamu enggak narik?" Tanya Erlina karena ini hari ketiga. Seharusnya hari ini Bambang berangkat membawa bus ke Purwokerto.
"Saya izin Bu," Bambang ingin memberi bakti tenaga pada pak Suradi. Dia ingat bagaimana dia tak bisa menunggui ayahnya ketika ayahnya sakit dulu.
Erlina tak menyangka Bambang memberi pengorbanan seperti itu. Bambang full menjaga dan mengurus Suradi. Dia juga yang bolak balik mengurus surat rujukan, resep dan hal lainnya.
\*\*\*
"Fit, kamu nggak boleh loh dekat-dekat orang lelaki seperti yang kamu lakukan selama ini dengan Bambang. Kamu enggak ngapa-ngapain, tapi pandangan orang akan buruk terhadapmu."
"Ayah enggak ingin kamu jauh jodoh karena pandangan orang sudah buruk terhadapmu. Kamu harus bisa jauhi Bambang."
"Ayah suka dengannya, sikapnya baik. Dia orang yang bertanggung jawab. Dia juga gigih bekerja. Tapi kalian tak ada ikatan apa pun. Kecuali kalian menikah. Itu tak jadi masalah."
Mereka bisa bicara seperti itu karena Bambang sedang keluar mengantar Erlina mengurus asuransi di perusahaan Suradi. Tadinya Bambang akan mengurus bersama Fitri, tapi Suradi melarangnya dengan alasan orang kantor lebih familiar dengan Erlina daripada dengan Fitri.
Padahal Suradi ingin bicara berdua dengan Fitri melihat kedekatan Fitri dan Bambang.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok
__ADS_1