
Akhirnya ujian semester usai sudah. Sejak kemarin Timah sudah memasak ayam jamur untuk topping mie yang akan dia bawa besok di kandang ternak milik Tria.
Fitri dan Gendis sudah tahu rencana itu. Timah memang membuat ayam jamurnya itu sangat banyak. Separuh dia tinggal di rumah untuk semua keluarga makan dan di kemas oleh Fitri di thinwall kecil-kecil jadi siapa yang butuh nanti akan mengeluarkannya sendiri dari freezer. Sedang yang separuh dimasukkan ke thinwall besar oleh Timah untuk dia bawa besok sekalian ke sekolah karena pertemuannya adalah pulang sekolah.
“Sudah lama banget ya nggak ngumpul? Hampir sebulan,” kata Satrio begitu Timah datang. Timah memang tidak mau dijemput. Dia bilang dia mau berangkat sendiri karena sekolah Satrio itu bertolak belakang dengan sekolahnya kalau menuju ke rumah Satrio atau kandangnya Tria.
“Iya Mas, hampir sebulanan lah. Sejak aku hiatus masuk goa. Aku memang selalu seperti itu. Masuk goa ketika akan ulangan umum. Terserah orang mau bilang aku sombong atau apa. Yang penting aku memang mempersiapkan diri di saat terakhir. Kalau sebelum-sebelumnya aku pasti mau kasih ilmu atau ngajarin atau luangkan waktu buat semua orang yang bertanya. Tapi kalau di last minutes, aku mau waktu itu hanya untuk diriku sendiri,” jelas Timah.
Saat itu Tria baru masuk karena dia memang baru pulang sekolah. Tria mau pun Satro tidak masuk ke rumahnya dulu, mereka langsung ke kandang. Ketiganya semua masih pakai seragam dan masih bawa tas sekolah masing-masing.
“Ini bawaanku,” kata Timah mengeluarkan dua thinwall besar. Banyak kepala dan ceker yang dia bawa sehingga bila hanya bawa satu thinwall saja.
“Aku sebentar. Aku petik dulu sawi-sawi yang kalian butuhkan,” kata Satrio. Dia memang belum menyiapkan sawi yang akan mereka olah. Kalian perlu cabe rawit nggak?” tanya Satrio sambil menyiapkan gunting khusus tanaman.
__ADS_1
“Sepertinya nggak sih Mas. Tapi petik saja sekitar 5 butir mungkin Mas Pujo mau,” kata Timah. Pujo adalah nama pegawainya Tria. Sekarang mereka sudah tidak lupa lagi kalau beli makanan pasti Pujo akan diberikan.
“Ah iya benar. Kalau Pujo suka banyak pasti. Aku petiknya sekitar 10 ya yang merah,” ucap Satrio. Pujo memang paling jago makan cabe rawit.
“Dan ini bawaan aku,” kata Tria mengeluarkan tas kresek dari lemari di kandang itu. Rupanya dia sudah beli sejak kemarin. Ada banyak mie di sana masing-masing jenis sengaja dia siapkan 2 bungkus. Belum lagi stock mie pertemuan sebelumnya. Jadi di situ sekitar ada 20 bungkus mie dengan beda rasa.
“Assalamu’alaykum,” sapa seseorang.
“Aku ikutan ya di pertemuan kali ini,” izin Herry. Dia tahu Timah pasti belum bercerita tentang kehadirannya.
“Silakan saja,” jawab Satrio. Tria tak menjawab, hanya melempar senyum.
Herry meletakkan kerupuk bawaannya di meja tempat mereka berkumpul.
__ADS_1
“Mohon tasnya taruh di rak ya. Jadi nggak kumpul di meja,” kata Tria. Semua pun memindahkan tas dari meja itu. Memang mejanya tak terlalu besar kalau ada tas-tas tentu jadi mengganggu dan di situ hanya ada dua kursi panjang dari kayu yang artistik. Memang seperti itu kondisi di kandang dibuat tak formil agar terkesan hangat.
Timah dan Tria meletakkan ponselnya di meja agar tidak di sakunya takut terlupa atau basah kalau mereka nanti masak.
“Ayo kita sudah lapar, Dek ( Timah maksudnya ) kita siapkan masakannya,” kata Tria.
“Mas Iyok, kamu petik dulu sawi dan rawitnya cepetan,” Timah malah melempar tugas pada Satrio.
“Ya adikku Sayang, aku akan petik semua permintaanmu. Jadi cuma sawi hijau saja sama cabe rawit buat Mas Pujo kan?”
“Apa saya cuma dikasih cabe rawitnya saja?” kata Pujo.
Tentu saja semua tertawa mendengar kelakar dari Pujo.
__ADS_1