
“Kenapa Yah?” tanya Yanto kepada Suradi yang menghubunginya malam ini sebais mereka selesai makan malam.
“Sekarang juga sopiri Ayah ke rumah kota,” kata Suradi tanpa basa basi seperti biasanya.
“Ada apa?” tanya Yanto takut, karena suara Suradi sepertinya berbeda.
“Sudah segera ke sini. Pakai mobilmu atau mobil Ayah. Yang penting kamu antar Ayah sekarang juga,” jawab Suradi lagi.
“Ya wis aku ke situ. Sebaiknya sama Fitri atau bagaimana Yah?”
“Sendiri saja karena takutnya kita pulang besok.”
“Baik, aku bilang Fitri dan pamit langsung berangkat kesitu Yah,” kata Yanto.
“Ayah kenapa?” tanya Fitri.
“Nggak tahu Ma barusan Ayah cuma bilang Papa suruh antar Ayah ke rumah kota. Nggak usah sama kamu karena takutnya nginep. Boleh pakai mobil Papa atau mobil Ayah. Menurut Mama enaknya bagaimana?
“Pakai mobil Ayah saja lah jadi kalau nggak dibutuhin kamu bisa pulang sendiri naik ojek online atau minta antar anak-anak di bengkel,” kata Fitri memberi pendapat pada suaminya.
“Ya sudah Papa siap-siap dulu. Maaf ya nggak bantuin ngurus anak-anak malam ini.”
__ADS_1
“Nggak apa-apa,” Fitri pun membawa kedua putranya untuk basuh menjelang tidur.
“Papa mau ke mana?” tanya Daffa.
“Antar eyang dulu ke rumah kota ya. Kamu sama Mama sama eyang Gendis,” kata Yanto.
“Kok ayah nggak cerita apa-apa ya Pa?” tanya Fitri.
“Mungkin nggak ingin kamu dengar sebelum tahu kejelasannya,” balas Yanto ambil memakai jacketnya.
Sampai di rumah Suradi, Yanto melihat kedua mertuanya sudah siap.
“Pakai mobil Ayah?” tanya Suradi.
“Sebenarnya ada apa sih Yah, kok nggak mau kasih tahu ditelepon tadi?” tanya Yanto penasaran.
“Satpam bilang ada seorang anak kost yang bunuh diri. Mereka baru tahu dan Ayah bilang jangan ada yang nyentuh dulu apalagi ada yang lapor polisi. Nanti tunggu Ayah sama kamu datang baru kita yang urus. Takutnya ada barang bukti yang hilang atau apa pun,” kata Suradi lemah.
“Innalillahi,” jawab Yanto.
“Yang kamar berapa?”
__ADS_1
“Kamar paling depan. Jadi pas ada yang lewat melihat pintunya sedikit terbuka dan orang itu terlihat kepalanya menyuntai dari tempat tidur.”
“Kita panggil dokter dulu atau panggil polisi dulu ya?” tanya Suradi.
“Enaknya sih panggil dokter bersamaan dengan ketua RT sudah dokter datang baru kita panggil polisi. Apa bareng saja sih dokter dan polisi yang penting yang sudah ada ketua RT di lokasi,” kata Yanto.
‘Pantas ayah tadi bilang Fitri nggak usah ikut. ternyata urusannya seperti ini. Nggak mungkin aku pulang cepat’.
Bu Erlina sejak tadi hanya diam baru satu kali ini ada kejadian menimpa warga kostnya. Mereka punya tiga rumah kost dan baru sekarang mengalami hal tersebut.
Dulu pernah terjadi di rumah kost putra, seorang warganya dibunuh oleh teman kencannya yang sama-sama pria tapi kalau yang bunuh diri baru kali ini.
Tentu saja sebagai pengusaha rumah kost dia lemas. Takut nama rumah kostnya berdampak buruk.
“Nggak usah grasa grusu bawa mobilnya Nto,” kata Bu Erlina.
“Ini pelan kok Bu. Biasa saja Ibu tenangin saja perasaannya jadi nggak ketakutan seperti ini. Saya yakin nggak akan apa-apa kok,” jawab Yanto. Dia tahu ibu mertuanya sedang nervous, sehingga dia yang bawa mobil biasa saja dibilang grasa grusu.
“16 tahun membuka rumah kost baru sekarang ini kejadian. Semoga ini yang pertama dan terakhir,” kata Bu Erlina.
“Bukannya dulu pernah ada ya Bu yang di kamar laki-laki.”
__ADS_1
“Iya yang di kamar kost pria pernah satu kali, tapi kan bukan bunuh diri Nto,” kata Suradi.
Yanto pun diam, dia membelokkan mobil memasuki halaman rumah mertuanya.