BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
SIAPA DIA?


__ADS_3

Empat bulan berlalu sekarang usahanya Tria sudah berjalan bagus. Dia sudah banyak mendapatkan uang dari penjualan anak-anak kelincinya. Baik kelinci lokal maupun kelinci ras Holland. Begitu pun usahanya Satrio. Semua berjalan mulus tanpa kendala.


Saat ini semua anak sekolah di Indonesia sedang sibuk persiapan semesteran. Mereka akan kenaikan kelas atau kenaikan tingkat atau pendaftaran mahasiswa baru seperti yang dialami oleh Fabianto atau Totok dia bersiap mendaftar kuliah menjadi mahasiswa baru di universitas lain bukan dari tempat dia DO dulu.


“Halo,” sapa Herry pada Tria yang sedang duduk di perpustakaan. Tria mengangkat wajahnya tersenyum lalu kembali menekuni bukunya. Memang sudah lama sekali dia tak pernah bertegur sapa dengan Herry sama sekali. Sejak dia datang ke rumah Herry terakhir. Waktu selamatan di tambak Herry sudah lepas dari permasalahan hukum. Itu saja. Selebihnya tak pernah bicara apa pun. Kalau ketemu di rumahnya Tria hanya sekedar say hello tanpa bicara, tanpa ngobrol. Pokoknya sejak ketemu Timah, Tria sama sekali tidak pernah berhubungan dengan Herry lagi. Bahkan Satrio pun tidak kenal akrab dengan Herry.


‘Ih sombong amat dia, aku tegur hanya senyum begitu,’ kata Herry. Tentu saja dia keqi mendapat perlakuan seperti itu,  karena selama ini Tria lah yang mendekati dia.


“Kamu sudah selesai?” tanya seorang lelaki pada Tria.

__ADS_1


“Sudah, kan aku dari tadi nungguin kamu. Kamunya nggak rampung-rampung,” jawab Tria pelan. Karena di perpustakaan memang semua harus bicara dalam volume yang kecil.


“Ya sudah yuk keluar,” jawab lelaki tersebut. Tria pun langsung membereskan bukunya dan mereka keluar. Tria sama sekali tidak pamit pada Herry.


Tria ingat waktu itu Herry sudah bilang tidak akan menghindar dari Tria bila dirinya berteman seperti teman-teman lainnya. Tidak ada rasa ingin memiliki, tidak ada perasaan lebih. Benar-benar berteman. Jadi sejak itu Tria benar-benar menarik garis untuk tidak punya perasaan apa pun pada Herry.


Besoknya kembali Herry melihat Tria sedang berbincang akrab di bawah pohon dengan lelaki tersebut. Mereka sedang makan bekal entah apa yang Tria bawa. Tapi hanya ada satu kotak makan dan mereka makan berdua. Sesekali terdengar tawa mereka. Tentu saja tawa di ruang bebas itu boleh keras karena bukan di perpustakaan.


‘Lelaki itu siapa ya? Kayanya bukan teman sekelasnya Tria, bukan dari anak IPS karena aku lihat buku yang di kemarin dipinjamnya adalah buku anak IPA. Tak seperti jurusannya Tria.’

__ADS_1


Herry jadi penasaran ingin mengetahui siapa lelaki yang selalu bersama Tria. ‘Aduh sebenarnya bukan SELALU sih. Aku baru dua kali liat mereka bersama. Tapi aku yakin mereka ada hubungan khusus,’ kata Herry dalam hatinya.


Mau tanya ke Timah tidak mungkin karena sudah satu bulan ini Timah sama sekali tak pernah keluar bersama Tria. Timah memang seperti itu. Menjelang akhir semester dia tak mau keluar bermain atau hanya sekadar bertemu dengan siapa pun. Dia akan menekuni pelajarannya sendirian.


‘Nanti sehabis pulang sekolah, meeting OSIS dan kamu mewakili siswa kelas 10!’ Demikian pesan whatsapp dari pengurus OSIS. Pasti akan ada pergantian pengurus karena sudah akhir semester.


Herry pun mengisi polling di undangan tersebut dia mengisi akan hadir.


Saat pulang sekolah Herry sengaja makan dulu dia tak mau perutnya kosong. Tadi makan siang dia sudah menghabiskan bekal nasinya. Tapi dia masih punya satu burger kecil yang memang sengaja dia simpan buat saat mau pulang sekolah.

__ADS_1


__ADS_2