
“Ma, Papa kepengen belut atau ayam digoreng, lalu diuleni dengan bumbu pecel,” kata Yanto sambil menyerahkan belut yang dia ambil tadi dari tambak. Sudah dia bersihkan juga dia potong-potong sehingga bawa pulang sudah bersih. Tinggal diolah saja oleh Fitri.
“Bumbu pecelnya mau bikin sendiri apa yang beli?” tanya Fitri dengan lembut. Dia selalu seperti itu tidak menolak apa pun yang diperintah oleh suaminya.
“Pengennya sih yang kamu bikin sendiri. Banyakin daun jeruk, juga gula merahnya walaupun pedas,” kata Yanto lagi.
“Kalau begitu besok ya bikinnya. Apa harus sekarang? Karena kacangnya habis. Terus juga aku nggak punya jeruk limo. Jeruk limo kan nanti pas dihidangkan diberi perasan airnya. Kalau bumbunya Timah ada semua,” kata Fitri. Kebetulan buah jeruk limonya masih sangat kecil. Yang besar sudah diambil Gendis semua lalu dia serahkan ke warung penjual sayur.
“Kalau Papa belikan kacang tanahnya bisa bikin sekarang?” tanya Yanto penuh harap.
“Ya sudah belikan saja kalau Papa pengen buat makan malam sekarang,” kata Fitri. Yanto baru pulang kerja lalu sudah bawa belut hasil tambak milik Herry.
“Terasinya mungkin kurang Pa. Tapi Papa tetap beli bawang merah dan bawang putih juga. Takut butuh untuk bumbu apa-apa besok,” pesan Fitri.
“Papa ikut,” pinta Daffa saat Yanto mau ke warung.
__ADS_1
“Ayo, tapi kan jalan kaki,” jawab Yanto.
“Kenapa sih Papa sekarang kerjanya jalan kaki saja ke mana-mana?” tanya Daffa.
“Biar sehat Sayang. Cuma ke warung begitu masa kita naik motor. Kalau mau ikut ayo jalan kaki,” ajak Yanto. Memang sejak 2 bulan lalu sepulang dari Jogja dia dan Fitri menerapkan jalan kaki untuk jarak yang dekat-dekat kecuali memang terburu-buru.
“Aku ikut,” kata Daanish yang sudah umur 4 tahun. Badan Daanish sedikit lebih besar dari Daffa sang kakak.
“Ya sudah, ayo,” jawab Yanto. Sedang Daffa tak mau ikut dia malas kalau harus jalan kaki.
“Ini Bu, Mas Yanto minta ayam atau belut goreng, tapi dimakan dengan diaduk pakai sambal pecel. Entah apa rasanya. Tapi itu yang dia minta. Jadi ini bukan pecel lele. Kalau pecel lele kan hanya nama saja, sambalnya pakai sambal terasi. Ini beneran pecel ayam dan belut,” jawab Fitri.
“Terus Yantonya ke mana?” tanya Gendis. Dia tahu putra sulungnya sudah pulang karena motornya ada di depan.
“Dia beli kacang tanah Bu. Kita nggak punya stock kacang tanah. Jadi beli kacang tanah dulu. Nanti baru kita bikin bumbu pecel nya. Mas Yanto minta yang banyak irisan daun jeruknya serta pedas manis,” kata Fitri.
__ADS_1
“Kok tumben kalian bareng? tanya Fitri. Karena jarang kedua adiknya itu bisa barengan. Saat itu Timah pulang dari sekolah ternyata dia bareng dengan Herry.
“Tadi aku janjian sama Satrio buat melihat lahan dia, terus aku tanya Timah sudah pulang belum karena aku akan lewat sekolah dia. Ternyata Timah sudah pulang baru mau pesan ojek online. Jadi ya sudah aku jemput saja,” jawab Herry sambil memberi salim pada kakak ipar dan ibunya.
“Dek, kamu kalau sudah cuci tangan dan ganti baju tolong petikin daun jeruk dong. Yang agak banyak karena mau bikin sambal pecel,” pinta Fitri pada Timah yang sedang salim.
“Ya Mbak, aku mandi dulu sekalian salat Ashar. Mbak butuh keburu-buru enggak?”
“Enggak. Ini aku mau ngurusin ayam goreng sama belut gorengnya dulu. Daun jeruk buat sambal pecel koq,” kata Fitri.
“Ya wis, tak sholat ashar dulu sekalian mandi,” jawab Timah.
“Dek, nggak usah petikin daun jeruk, tadi aku sudah petikin sekalian aku jemur sajadahku,” kata Herry. Rupanya dia tadi sekalian ke belakang memetik daun jeruk purut yang dibutuhkan Fitri.
“Ya wis, matur nuwun ya Mas,” jawab Timah. Dia langsung mengambil ubi rebus yang ada di meja makan. Memang sehari-hari hanya ada ubi rebus, pisang rebus, singkong rebus. Itu yang rutin disiapkan di meja. Jarang ada gorengan bila tidak terlalu diinginkan. Karena memang untuk mengurangi kolesterol Bu Gendis.
__ADS_1