BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
BELUM DAPAT ADEK BARU


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



“Alhamdulillah,” kata Gendis Setelah semua pulang dari rumahnya. Belum semua sih maksudnya tamu yang diundang makan siang di rumah itu sudah pulang. Saat ini masih ada Suradi dan Erlina serta para pegawai RUMAH KOTA. Sekarang rumah Suradi yang di tengah kota Solo disebut rumah kota dan yang di sini disebut RUMAH DESA.



Makan siang tadi hanya makan siang antara semua pegawai Suradi di rumah kota ditambah semua pegawainya Yanto di bengkel juga semua anak-anak kost putri.



Penghuni kost putra memang tidak diundang karena kalau kost putra jumlahnya sangat banyak. Rumah Gendis tak akan cukup menampungnya.



Hari ini makan siang berkaitan dengan 1 tahunnya usia Daanish. Tidak ada potong tumpeng atau tart ulang tahun. Mereka hanya makan siang seperti biasa. Kali ini menggunakan tampah kecil-kecil bukan daun pisang seperti yang pernah dibuat di rumahnya Suradi.



Bahan makanan telur hasil sendiri. Tentunya ayam, itik juga ikan semuanya dari hasil tambak serta peternakan sendiri. Suradi dan Gendis membayar pada Herry dan Timah karena yang dipotong adalah ayamnya Timah. Timah memang membeli banyak telur ayam kampung yang ditetaskan di mesin tetasnya Herry sehingga ayamnya Timah banyak tapi dititip di kandang umbarnya Suradi.



“Daanish sudah 1 tahun kok belum dapat adek ya?” kata Yanto.



“Sabar ya Mas. Mungkin memang harus dua dulu,” kata Fitri.



“Iya Dek, dua aja alhamdulillah banget ya. Ingat kita bertahun-tahun menunggu dengan selalu meminum obat dokter dan minum obat sinshe. Banyak waktu yang kita lalui penuh harap setiap bulan. Dan pastinya juga banyak uang keluar buat berobat itu,” kata Yanto



“Iya Mas, Alhamdulillah. Sudahlah kita enggak usah terlalu berharap. Yang dua ini aja kita didik sebaik mungkin dan sayangi sepenuh hati,” kata Fitri.



“Iyalah Dek walau bagaimana pun tetap berharap, tapi enggak ngoyo lagi seperti sebelum kita punya anak. Mungkin memang hanya dua ini yang diberikan buat kita. Amanatnya hanya dua ini.”



“Enggak Mas. Enggak. Kalau aku yakin nggak Mas. Aku yakin ada tambahan cuma mungkin enggak secepat waktu dapat Daanish sehabis Daffa.”



“Amin Yank kalau memang seperti itu. Aku juga berharap punya anak lebih dari dua. Mungkin seperti yang kamu bilang, kita didik dulu yang dua ini. Nanti agak gedean baru Allah kasih lagi,” kata Yanto.



“Bagaimana hasilnya?” tanya Fitri melihat Herry baru masuk ruang tengah. Timah pulang bersama Herry, tapi gadis kecil itu akan langsung ke belakang untuk menaruh karung berisi pakan rumput buat kambingnya.



“Enggak tahu Mbak, tapi aku yakin bagus kok.” jawab Herry dengan percaya dirinya.


__ADS_1


“Aalhamdulillaaaah Dek. Terus kamu mau masuk mana SMK seperti Masmu atau SMA?”



“Ayah maunya aku di SMA begitu pun Ibu Lina dan ibu Gendis karena kan mereka berharap aku masuk ke teknik bangunan nantinya. Mereka ingin aku jadi arsitek.”



“Coba sekarang kamu pejamkan matamu, kamunya ingin jadi apa. Lihat tujuanmu di sana,” kata Fitri.



“Kamu jangan dengar apa yang ibu Gendis, ibu Erlina dan ayah bilang. Kamu lihat keinginanmu jadi apa saja dulu,” kata Fitri. Sesuai dengan arahan Fitri, Herry pun memejamkan matanya melihat apa yang ingin dia tuju.



Herry langsung menggeleng sendiri sambil terpejam. Seakan dia ingin menepis apa yang tergambar di benaknya saat ini.



“Sudah?” tanya Fitri.



“Sudah Mbak,” Jawab Herry.



“Mau jadi apa coba kamu? Arahkan pilihan sekolah lanjutan atasmu ke cita-citamu itu saja. Itu lebih baik daripada menuruti permintaan ayah dan para ibu. Mereka juga enggak akan marah bila kamu mengatakan keinginanmu dengan jujur. Sama seperti waktu masmu ngotot masuk STM. Saat itu masih ada ayah Ripto dan ibu kan?”



“Ternyata feelingnya mas betul. Dia masuk STM karena dia punya firasat kalau saat itu dia harus jadi pilar keluarga dan dia berhasil survive.”




“Ya aku juga tahu masmu tidak mau kuliah, padahal waktu itu dia punya uang buat kuliah. Tapi dia bilang kalau dia kuliah waktu untuk cari uangnya sedikit. Dia tidak mau, dia mau cari uang sebanyak-banyak lalu dia buka bengkel. Dia memang bilang sama mbak dia mau jadi sopir hanya sebentar buat cari modal saja.”



“Sekarang tak usah urusin mas-mu. Kamu mau jadi apa, itu dulu kamu yang pikirkan saat ini.”



“Aku sebenarnya takut Mbak dengan keinginanku sejak dulu. Keinginanku sejak kecil.”



“Katakan saja, kalau itu sudah tercetus baru kamu perjuangkan.” kata Fitri meyakinkan adiknya.



“Keinginanku sejak dulu cuma satu, aku ingin membahagiakan ibu aku ingin membawa ibu ke mancanegara, aku ingin mengajak ibu naik haji karena aku adalah seorang pilot!”



“PILOT?” tanya Fitri kaget akan keinginan mulia Herry.


__ADS_1


Herry hanya mengangguk-angguk saja tidak menjawab dengan kata-kata.



“Lalu kenapa tadi saat memejamkan mata kamu menggeleng seakan kamu tidak mau mengejar cita-citamu?”



“Aku nggak mau. Aku nggak mau ngejar cita-cita itu aku berpikir bahayanya,” keluh Herry.



“Kamu pikir karena kamu di atas udara sana lalu bahaya? Kamu pikir kalau jatuh kamu akan langsung hancur lebur gitu kan.” kata Fitri.



“Bener banget Mbak.”



“Apa kamu pikir penegemudi becak itu enggak bahaya, karena dia hanya di jalan raya rodanya tiga enggak mungkin terjatuh seperti sepeda atau motor dan kalau jatuh pun tidak sakit seperti jatuh dari pesawat?”



“Apa kamu pikir sopir angkot itu enggak bahaya?”



“Apa kamu pikir masinis kereta api itu enggak bahaya?”



 ”Apa kamu pikir sopir bus itu enggak bahaya?”



“Apa kamu pikir koki itu enggak bahaya?”



“Apa kamu pikir dokter itu enggak bahaya?”



“Semua pekerjaan apa pun bidangnya pasti ada sisi bahayanya Dek. Tergantung dari sudut mana kita melihat sisi itu.”



“Mas Yanto pernah bilang ke Mbak waktu Mbak protes akan pekerjaannya yang berbaya membawa bus ke luar kota. Dia bilang : *sebilah pisau di tangan seorang bandit bisa untuk membunuh orang, tapi pisau yang sama di tangan seorang koki bisa menghasilkan makanan yang super mewah dan lezat*!”



“Jadi tergantung siapa yang mengelolanya atau memegang kendalinya Dek.”



Herry diam, dia bukan anak kecil yang tak mengerti semua itu.



Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.



__ADS_2