
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
“Maaaaas,” Fitri langsung berteriak ketika melihat mata Yanto menatap matanya.
Erlina kaget mendengar jeritan putrinya dia mengamati Yanto yang ternyata telah membuka mata.
Fitri menciumi wajah Yanto tanpa malu ada Erlina dia juga menciumi tangan kanan Yanto yang terbebas dari infus dan menempelkan telapak tangan itu di wajahnya.
“Kamu sadar Mas, kamu sudah sadar,” pekik Fitri tertahan. Perempuan itu teramat bahagia.
“Langsung lapor dokter,” Erlina menyadarkan Fitri agar segera melaporkan perkembangan yang terjadi. Fitri langsung memencet tombol untuk memanggil dokter.
Selanjutnya Fitri terus menciumi Yanto menaruh telapak tangan Yanto di pipinya dan Yanto menghapus air mata di pipi istrinya.
“Jangan menangis,” kata Yanto pelan, sangat pelan dan lambat pengucapannya. Tapi Fitri jelas mendengar kata-kata itu.
“Aku bukan menangis sedih Mas, aku menangis bahagia karena Mas sudah sadar,” jawab Fitri.
__ADS_1
Fitri langsung memeluk suaminya dan menangis tersedu-sedu di ceruk leher suaminya.
“Sudah Bu, sudah,” nasihat seorang suster yang datang ke ruangan itu akibat Fitri memencet bell tadi.
“Ibu tidak boleh terlalu emosi, ingat Ibu bisa pingsan lagi. Kasihan calon bayinya,” kata suster tersebut membujuk Fitri agar tak terlalu emosi.
“Bayi?” tanya Yanto bingung menatap istrinya. Suaranya hampir tak terdengar. Fitri hanya mengangguk tersenyum.
“Ya Mas kita akan punya bayi,” kata Fitri. Dia meletakkan telapak tangan Yanto di perutnya. Yanto tentu tak percaya dia akan menjadi ayah yang sebenarnya. Suatu predikat yang sangat mereka harapkan sejak mereka menikah.
Sekarang Yanto jelas menangis karena bahagia.
Dokter jaga langsung datang ke ruangan dan mengobservasi kondisi Bambang saat itu. Fitri duduk bersama Bu Erlina.
Sejak tahu Yanto sadar, Erlina langsung menghubungi pak Suradi mengatakan bahwa Yanto sudah sadar dan sekarang Fitri menuliskan pesan pada Herry. dia tahu tak bisa menghubungi Herry secara langsung karena ini adalah jam sekolah adiknya.
“Ayah bilang sudah mengirim orang ke desa untuk menjemput bu Gendis. Jam segini kan Herry enggak bisa ngabari ibumu di rumah.
“Aku kasih tahu Herry kasih tahu lewat tetangga yang dekat rumah kali aja ada yang dia tahu,” jawab Fitri.
Jam istirahat Herry langsung lari menggunakan motor temannya mengabarkan pada ibunya bahwa Yanto sudah sadar. Tentu saja Bu Gendis langsung menghubungi Fitri dengan nomor telepon Herry.
__ADS_1
“Loh Ibu kok bisa telepon?” tanya Fitri.
“Herry diboncengi temannya izin pulang mengabarkan Yanto sudah sadar. Apa benar?” tanya Gendis.
“Benar Bu. Dan ayah sudah suruh orang buat jemput ibu. Sebentar lagi pasti sudah datang karena sudah dari tadi berangkat dari rumah. Ibu siap-siap ya,” kata Fitri.
“Ini mas Yanto lagi diperiksa sama Dokter,” kata Fitri menjelaskan pada Gendis kalau Yanto masih di periksa jadi dia belum bisa memberikan ponsel agar Yanto bicara dengan Gendis.
“Iya, Ibu akan segera datang,” jawab Gendis.
“Hati-hati Her, kamu juga Yanto ( nama temannya Herry kebetulan juga Yanto ) hati-hati bawa motornya ya. Enggak boleh ngebut,” nasihat Gendis mereka memang naik motor berdua.
“Injih Bude,” kata Yanto. Lalu kedua anak SMP itu langsung kembali ke sekolah karena mereka memang tadi hanya izin untuk memberi kabar bahwa kakaknya Herry sudah sadar di rumah sakit Kota Solo.
Gendis segera menyiapkan semua makan siang Putra dan putrinya untuk prepare dia juga sudah menyiapkan makan malam bagi keduanya karena dia takutnya lama di rumah sakit sehabis itu dia langsung bersiap untuk berangkat menemui anak sulungnya yang sudah sadar setelah 32 hari Yanto tak sadarkan diri.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok.
__ADS_1