BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
INGIN CEPAT ANAK KE 3


__ADS_3

Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



 “Besok kita jadi mau lihat jenis kelamin dede’?”



“Iya Mas enggak apa apa,” jawab Fitri.



“Tapi kamu enggak boleh kecewa ya kalau dapatnya laki-laki lagi,” Yanto berupaya menguatkan mental istrinya lebih dulu



“Enggak bakal kecewa lah, wong ini anak aku,” balas Fitri.



“Anak kita Yank, anak kita!” Yanto meralat ucapan istrinya.



“Memang dede bisa ada di dalam, kalau Papa enggak setor bibit?” goda Yanto.



“Lah kalau anak sudah di dalam, kenapa Papanya setor bibit terus nggak pernah berhenti?” tanya Fitri balik menggoda suaminya.



“Kan seperti waktu mas Daffa, dede tuh manggil-manggil Papanya. Kalau enggak ditengok dia nanti ngambek. Dia bilang Papa cuma sayang masnya. Cuma gendong-gendong Mas Daffa, tapi enggak mau tengokin dia,”  Yanto tak mau kalah dengan istrinya.



“Ah itu mah bisaan Papa aja,” Fitri kalau kalau sudah bicara tengok menengok. Ada aja alasan Yanto buat perang dunia tiap malam.



“Berati besok berarti kita tetap ya, mau tahu jenis kelamin anak.  Kita enggak boleh kecewa bila tidak seperti keinginan kita yaitu punya anak perempuan.”



“Iya Mas. Kalau pun tiga anak kita nanti lelaki semua ya udah mau diapain? Kita tetap STOP. Jangan kita berharap perempuan karena nanti mungkin tambah 10 tetap laki semua juga. Bisa aja kan?” kata Fitri mengingatkan kalau mereka hanya akan punya 3 anak saja.


__ADS_1


“Pokoknya target kita 3 ya 3. Jangan karena harus dapat perempuan lalu kita terus berproduksi,” lanjut Fitri lagi.



“Iya Mas ngerti. Pokoknya tiga aja ya Yank. Habis ini mau di tunda lagi atau bagaimana?”



“Sama seperti waktu habis ngelahirin mas Daffa aja Pa. Kita pakai pencegahan 3 bulan aja, biar enggak sundulan. Sesudah itu lillahi ta'ala kita dapatnya kapan.”



“Kalau keputusanmu seperti Mas nurut. Yang penting jangan ada keterpaksaan. Karena batin ibu yang tersiksa akibat terpaksa itu tidak baik bagi kehamilan,” ucap Yanto yang terbiasa membaca apa pun untuk penambahan ilmu bagi dirinya.



“Bayinya sehat ini Bu, Pak,” kata dokter yang menangani Fitri.



“Alhamdulillah kalau sehat, apa bulan ini sudah bisa lihat jenis kelaminnya Bu dokter?” tanya Fitri.



“Bisa ini bisa kok, sudah kelihatan dengan jelas. Sebenarnya bulan kemarin sudah terlihat tapi saya kan belum yakin. Kalau sekarang sudah jelas sudah masuk minggu ke-17.”




“Sepertinya ini anak papa lagi nih. Sama seperti kakaknya dulu, kakaknya laki-laki kan?” Kata bu dokter.



“Alhamdulillah,” jawab Fitri.



“Berarti adiknya nanti laki-laki Dok?” Fitri berucap dengan bahagia tanpa beban. Dia memang tidak mengharuskan dapat anak perempuan karena mendapat mukjizat punya anak aja sudah anugerah yang terbesar buat dia dan Yanto.



“Sepertinya begitu Bu. Calon anak Ibu kembali laki-laki. Bulan depan akan lebih jelas. Tapi saya yakin sih dari bulan kemarin juga sudah terlihat. Cuma masih samar. Kalau sekarang sudah jelas ini bayinya laki-laki,” kata dokter.



“Ada keluhan lain Bu?”


__ADS_1


“Tidak ada Dok. Alhamdulillah tidak ada keluhan,” kata Fitri.



“Kalau begitu saya hanya memberi vitamin seperti biasa ya Bu. Karena tidak ada keluhan, yang pasti semakin besar tidak boleh mengangkat kakaknya ya. Karena perut sudah semakin besar.”



“Baik Dokter saya mengerti kok. Alhamdulillah suami dan ibu mertua saya serta adik-adik ipar saya sangat men-support saya. Mereka mendukung kehamilan ini kok. saya tak pernah angkat apa pun,” jawab Fitri tangannya berada dalam genggaman Yanto sambil melihat monitor.



Yanto masih tak percaya dia kembali diberi kepercayaan mempunyai anak setelah perjuangannya 2 tahun minum obat tidak pernah berhenti. yang menjadi beban adalah obat dari  sinshe.



 satu karena berobatnya harus dicemaran tempat Pak Suradi berobat yang kedua karena obatnya mahal dan banyak pil kecil-kecil yang harus langsung dia minum



“Alhamdulillah ya Ma. Kita dapat jagoan lagi,” kata Yanto dengan bahagia. Tak ada kekecewaan dalam nada bicaranya karena memang mereka tidak mengharapkan mereka akan mendapat anak perempuan. Walau ingin tapi tidak mengharapkan karena kalau harapan lalu tidak dapat nanti bisa kecewa. Mereka tak mau kecewa.



“Bagaimana kalau nanti anak ketiga enggak usah cek kelaminnya Pa?” usul Fitri seakan yakin mereka akan segera punya anak ketiga.



“Boleh juga enggak cek kelamin, jadi buat kejutan ya,” Yanto setuju dengan usulan istrinya.



“Serius ya nanti anak ketiga enggak usah cek jenis kelaminnya. Serius ya Pa?” Fitri jadi ingin segera dapat kejutan di anak ketiga.



“Iya Sayank, yang penting Mama dan dede sehat.”



“Insya Allah sehatlah selama Papa tetap di samping Mama dan selalu care terhadap anak-anak.”



“Insya allah kami semua sehat,” kata Fitri. Mereka sedang menunggu obat di Puskesmas.



Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.



__ADS_2