
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Gendis dan Erlina melihat bagaimana Fitri sangat telaten membujuk Yanto makan.
“Cukup,” kata Yanto pelan.
“Sayank ini tinggal sedikit lagi lho maemnya. Papa pegang Dede’ deh,” Fitri mengambil tangan kanan Yanto dan menaruh di perutnya. Tangan Yanto mengusap lembut perutnya yang belum buncit.
“Sudah mulai kelihatan ya Mas,” kata Fitri sambil bicara tapi menyodorkan sendok ke mulut suaminya.
“Memang belum gede, tapi ya sudah mulai kelihatan perutku enggak langsing seperti dulu ya Mas,” kata Fitri lagi. Yanto tersenyum dan mengangguk.
“Mas mau dia cepat besar kan ?” Yanto tahu apa maksud dari arah pembicaraannya Fitri. Pasti dia disuruh makan banyak agar Fitri juga makan banyak sehingga bayi mereka cepat besar.
Yanto pun kembali makan sampai akhirnya satu porsi menu dari rumah sakit bisa habis. Fitri lalu memberikan obat yang harus diminum Yanto setelah itu dia membasuh wajah Yanto dengan tissue basah agar bersih dan kembali bau harum, lalu Fitri membiarkan Yanto yang mengantuk karena pengaruh obat kembali tidur. Saat Yanto tidur baru Fitri mengajak kedua ibunya untuk makan siang.
__ADS_1
“Alhamdulillah,” ucap Gendis, Erlina, Suradi juga Pak Ustad begitu Yanto dan Fitri kembali rujuk setelah Yanto kembali membaca kata ijab. Pak Ustad sudah diberitahu bagaimana terjadinya proses perceraian mereka sehingga dia pun senang kembali merujukkan pasangan yang telah salah paham tersebut. Pak ustad juga diberitahu bahwa Yanto sudah tidak sadar selama 32 hari. Sesuai dengan yang sudah dijelaskan, pak Ustad tak bisa terlalu lama. Dia langsung pamit begitu ijab qabul telah terlaksana.
Sehabis itu semua pulang, sopirnya Fitri mengantarkan Gendis. Suradi pulang bersama Erlina dan sopir tentunya karena Suradi memang tak pernah bawa mobil sendiri sejak sakit dulu. Fitri membuat su5u ibu hamil dan juga dia minum vitamin-vitamin kehamilannya. Sekarang dia akan tidur bersama Yanto.
“Kamu tiap malam tidur sini? Kenapa enggak di sana aja biar enggak sempit dan keganggu?” tanya Yanto.
“Iya Mas,” jawab Fitri.
“Kenapa enggak tidur di kasur sebelah itu kan ada,” Yanto bertanya ulang.
“Kenapa kamu sampai sakit?” tanya Yanto cemas.
“Waktu itu Mas sudah kritis,” kata Fitri. Dia lalu menceritakan saat Yanto sampai tak ada detak jantung. Garis monitor sudah datar saat itu Fitri pingsan, ketika pingsan itulah dokter tahu kalau Fitri hamil.
“Karena tahu aku hamil aku sangat bahagia sehingga aku pingsan lagi. Jadi aku pingsan pertama karena takut kehilangan kamu,” kata Fitri.
__ADS_1
“Aku pingsan kedua karena aku terlalu bahagia akan punya anak tapi juga sedih karena suamiku meninggal. Aku kan saat itu belum tahu kalau Mas bisa diselamatkan oleh tim dokter.”
“Saat aku pingsan yang kedua aku langsung diputuskan untuk dirawat oleh dokter karena aku tidak boleh turun dari ranjang takut kandungan ku gugur. Begitu tahu bahwa kandungan aku lemah karena stres. Aku selalu jaga, aku enggak pernah mau muntah atau apa pun. Kalau muntah itu kan sakit Mas, dan itu bisa membuat aku berlari untuk mencari wastafel atau ke kamar mandi. Tentu hal tersebut sangat bahaya bagi anak kita, jadi aku lebih baik ngalah. Aku pindah tidur dekat kamu agar tidak mual, aku enggak bisa tidur kalau jauh dari kamu.”
“Kalau kamu dibawa keluar untuk periksa aja aku langsung mual. Baby enggak mau jauh dari Papanya sekejap pun. Semua bukan kemauanku, memang itu semua tahu dan dokter juga tahu. Makanya dokter akhirnya menyetujui aku tidak pulang karena kalau pulang malah lebih bahaya.”
“Jadi kamu tetap bayar sebagai pasien?” tanya Yanto.
“Mas enggak usah mikirin biaya,” Fitri tahu ke mana arah pembicaraan Yanto.
“Sejak aku keluar sebagai pasien, aku tentu enggak bayar. Kita hanya bayar ruangan ini aja kan memang kita pakai. Sendiri atau berdua tidak mempengaruhi biaya kamar kan?” jawab Fitri menenangkan Yanto.
“Lagian ini tidak full dibayar oleh kita kok, ada yang ditanggung oleh Jasa Raharja dan juga sedikit oleh PO. Tapi PO sekarang sudah lepas tangan. Selisih yang ditanggung oleh jasa raharja itu yang kita bayar secara pribadi. Tapi kalau pun semua bayar pribadi pun aku rela kok enggak apa apa yang penting Mas sembuh,” jawab Fitri.
“Ya sudah sekarang bobok yuk,” ajak Fitri, Yanto menarik tubuh istrinya agar tidur dalam pelukannya. Lalu mereka pun tidur. Yanto sangat bahagia dia telah kembali memiliki Fitri seutuhnya dengan bonus baby di dalam perut Fitri. Baby yang sudah sangat mereka dambakan sejak lama, buah ketelatenan dan kesabaran mereka berobat dan minum obat.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok.
__ADS_1