
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Ternyata yo enak ya belut di pepes,” ungkap Erlina mengomentari masakan besannya.
“Kalau yang besar kayaknya enak karena ada dagingnya, tapi enak yang kecil mungkin lebih enak digoreng garing seperti yang dijual-jual jadi keripik belut itu,” jawab Gendis.
“Iya sih ya, tergantung mau digunakan buat apa. Kalau yang buat keripik pakai yang besar pasti jadi enggak kering,” Erlina membenarkan pendapat besannya sambil terus membuka bungkus pepes berikutnya.
Mereka makan dalam suasana yang nikmat, tak perlu mahal tapi nikmat dalam kehangatan keluarga.
“Yah, Bu, aku mau *matur* ( bilang ).” Selesai makan, Fitri baru bicara pada kedua orang tuang di ruang tengah.
“Kenapa Nak,” Kata Erlina dia mulai ketakutan bila Fitri bicara serius seperti itu.
“Kalau nanti minggu-minggu besok aku mbolos ke sini, aku minta Ibu sama Ayah ngertiin aku ya?” pinta Fitri.
“Lho, memangnya kamu mau ke mana?” tanya Suradi. Dia tak bisa membayangkan kalau harus terlalu lama berpisah dengan Daffa cucu tersayangnya. Jarak 2 minggu sekali aja itu dia sering siang-siang menghampiri ke desa untuk menemui cucunya. Dia dan Erlina tak bisa lama-lama tidak melihat cucu mereka.
“Aku takutnya aku atau Mas Yanto mabuk,” jawab Fitri.
__ADS_1
“Loh tenane?” Erlina yang langsung menangkap apa maksud Fitri dan dia tentu saja sangat senang.
“Iya Bu, kemarin hari Rabu kami periksa ke dokter,” jawab Yanto.
“Hasilnya sudah isi 3 minggu Yah, Bu.”
“Alhamdulillaaaaah,” jawab Erlina.
“Semoga kali ini bisa dapat perempuan ya. Biar sepasang,” kata Suradi yang baru mengerti saat Yanto bilang telah isi 3 minggu.
“Aku enggak tahu Yah, dapatnya perempuan atau laki. Tapi kami tetap akan terima dan bersyukur apa pun jenis kelamin adiknya Daffa nanti.” Ungkap Fitri.
“Benar Bu. Kami memang hanya mencegah 3 bulan awal sejak kelahiran agar tidak sundulan, tapi setelah 3 bulan memang kami tidak menggunakan pencegahan,” kata Yanto.
“Iya enggak usah pakai pencegahan. Nanti *nek* ( kalau ) sudah tiga baru kalian stop. Kasihan anak-anak kalau terlalu minim perhatian dari orang tuanya,” Kata Erlina.
“Walau kita senang banyak anak, tapi kasihan bila perhatian kita tak optimal buat mereka.”
“Iya Bu. Memang tujuan kami cuma 3 kok. Semoga aja diberi seperti itu. Kita kan juga enggak tahu. Kita kepengennya 3 dikasih 5 atau kita kepengen 3 cuma dikasih 2 ya kan? Yang penting Alhamdulillah karena akhirnya kami bisa berhasil punya momongan,” jawab Fitri.
__ADS_1
“Iya Nduk yang penting kalian sehat semua,” jawab Erlina.
“Ya sudah nanti setiap hari Sabtu biar Ayah sama Ibu yang nginep di sana aja,” Suradi memberi jalan keluar bagi persoalan ini. Dia juga tak ingin Fitri lelah kalau harus ke kota menengok dirinya saat hamil dan masih punya bayi.
“Alhamdulillah kalau Ayah sama Ibu yang mau ke desa, kami tentu menerima dengan sangat senang,” kata Yanto.
“Enak koq suasana desa,” jawab Erlina.
“Terlebih kalau makan hasil kebun, kemarin kami senang makan lalapan langsung dari kebun. Itu nikmat yang tiada tara. Ibu jadi ingat kampung Ibu di Cilacap,” ujar Erlina.
“Iya memang kehidupan di desa itu enggak ada yang bisa menggantikan biar sudah pernah hidup di tengah kota sekali pun ya,” kata Gendis.
Dulu awal pernikahan Gendis bukan tinggal di Solo. Awalnya dia tinggal di Jakarta lalu pindah ke Singapura. Begitu hamil Yanto baru kembali ke Solo.
Gendis bukan perempuan yang tidak mengerti apa-apa, dia dulu bekerja di Jakarta waktu saat bertemu dengan Suripto. Sejak awal mereka memang berniat kembali ke Solo jika Gendis hamil.
Saat Gendis masih bekerja di Singapura, Suripto yang mengikuti Gendis di sana. Dia hanya menjadi driver taksi karena istrinya yang bekerja di kantor perwakilan Singapore. Tak ada rasa merendahkan, mereka memang bahu-membahu tak pernah takut berkekurangan. Mereka menabung sampai Gendis hamil. Mereka memang kabur dari Solo berkali-kali karena orang tua Suripto pernah menyuruh menikah lagi sebab Gendis tak juga hamil.
Setelah tabungan mereka penuh mereka kembali ke Solo. Di Solo gantian Suripto yang bekerja sampai bisa berhasil beli rumah mobil dan kendaraan lainnya. Tapi semuanya habis saat Suripto sakit. Jadi pada dasarnya Gendis memang bukan perempuan desa yang miskin namun tetap bisa membina anak-anaknya dengan kesederhanaan dan bersahaja pada saat dia tidak punya harta.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul REVENGE FOR MY EX HUSBAND yok.
__ADS_1