
“Wah beneran tuh Ma, mereka sedang susun kekuatan. Berarti Mama orang yang patut diperhitungkan sampai barisan sakit hati menyusun pertemuan seperti itu. Mama tolong buat foto Papa dengan latar belakang dua perempuan itu. Papa di samping aja dari jauh yang penting kedua orang tersebut terlihat dengan jelas,” pinta Yanto.
“Mau apa sih Pa?” kata Fitri, tapi tetap dia buat foto sesuai permintaan suaminya itu.
“Bukan cuma mereka yang bisa atur barisan kekuatan. Papa lebih bisa. Tenang aja Ma,” kata Yanto. Dia punya niat sendiri.
‘Kira-kira apa ya yang sedang dibahas oleh dua manusia yang sakit hati ini?’ kirim Bambang di grup WA sekolahnya. Yanto mengirim foto dirinya disudut frame dan Tini bersama Aisy di tengah frame.
Semua langsung tahu karena di situ ada foto separuh wajah Yanto dan di belakangnya ada Tini dan Aisy.
‘Dua perempuan tak tahu malu,’ kata seorang teman.
‘Sama-sama nggak laku.’ kata yang lain.
Tini dan Aisy tak sadar sejak tadi ponsel mereka banyak notif masuk. Mereka sedang serius bicara.
__ADS_1
Yanto dan Fitri makan dengan santai mereka benar-benar menikmati waktu bersama.
“Papa dari tadi senyum-senyum aja kenapa sih Pa?” tanya Fitri penasaran.
“Nanti ya ceritanya di rumah aja. Sekarang kita rasakan kebahagiaan dulu berdua,” kata Yanto.
“Mau nambah Ma?” tanya Yanto pada istrinya.
“Cukup Pa, lumayan kenyang,” jawab Fitri menolak. Padahal Yanto ingin tambah satu porsi lagi untuk berdua.
“Cuma lumayan?” tanya Yanto memastikan.
“Ya sudah yuk, kita pulang,” ajak Yanto.
Yanto sengaja melewati mejanya Tini dan Aisy.
__ADS_1
“Diskusi nyusun rencana apa nih?” tanya Yanto sinis ketika di dekat meja kedua perempuan itu.
“Kalian nggak sadar ya grup rame loh bicarain kalian,” kata Yanto, lalu dia pun pergi.
Aisy dan Tini berpandangan, mereka tak percaya Yanto berada di satu lokasi dengan mereka.
Tini langsung bergegas mengambil ponselnya dan melihat banyak notifikasi di grup sekolah.
Kalau nggak sayang sama harga HP, Tini ingin membanting ponselnya. Di grup terlihat dia sangat direndahkan oleh teman-temannya satu sekolah saat SMP dulu.
Di group Tini dan Aisy benar-benar dicap sebagai perempuan tak laku. Rupanya ada beberapa teman yang tahu kalau Tini bermasalah dengan Bambang. Bukan Bambang yang salah karena Tini yang ngejar-ngejar sampai ke sekolah, bahkan sampai dipecat oleh ketua yayasan sebab sebelumnya sudah diberitahu oleh ketua yayasan jangan pernah mendekati Fitri.
Sedang Aisy benar-benar makin geram mengetahui Bambang lah yang memposting hal itu. Bukan orang lain karena jelas di situ ada foto Bambang dan barusan Bambang ada di lokasi yang sama dengan dirinya.
Sekarang harga dirinya benar-benar sudah tak ada sama sekali. Karena memang terlihat dia tetap berambisi untuk mendapatkan Bambang. Dirinya sudah dibuang oleh bapaknya, oleh keluarga besar bapaknya juga oleh keluarga besar ibunya. Sekarang ditambah lagi mendapat kenyataan bahwa dirinya hanya sampah karena tetap mengejar Bambang.
__ADS_1
Kalau Tini beda. Tini tidak mengejar Bambang dalam arti mengejar cintanya, Tini hanya sakit hati karena ingin bicara tidak bisa. Tini memang tidak mencintai Bambang, dia hanya ingin menjelaskan tentang kejadian kemarin. Hanya itu, kalau Aisy memang cinta sejak dulu.
Tentu saja sekarang mereka berdua tambah runyam mengetahui bahwa pertemuan mereka yang diprakarsai oleh Tini ternyata ketahuan oleh Bambang sendiri dan disampaikan ke teman-teman satu alumni.