
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Pengajian sembuhnya Yanto dan Fitri baru selesai diadakan. Ada ibu Gendis hadir tanpa Timah dan Herry rencananya malam ini sehabis pengajian Fitri dan Yanto akan menginap di desa selama 4 atau 5 hari. Jadi seharian tadi adik-adik tetap sekoalah dan ibu Gendis pulang tengah malam bersama Yanto dan Fitri.
Yanto dan Fitri akan istirahat di desa untuk kesembuhan mereka. Tentu saja Fitri senang karena dia akan ke tambak juga berjalan di pesawahan. Usia kandungan Fitri saat ini sudah 14 minggu atau lebih dari 3 bulan.
Suradi sudah mengizinkan anak dan menantunya istirahat di desa selama proses penyembuhan agar Yanto juga tidak stress di rumah mertuanya. Rencananya mereka akan kembali ke kota bersamaan dengan jadwal periksa Yanto yang kedua juga jadwal pemeriksaan kandungan Fitri saat 4 bulan sekalian pengajian 4 bulan kehamilannya nanti.
Ini sudah hari kedua Fitri dan Yanto ada di desa kemarin mereka baru datang Gendis melarang mereka berjalan-jalan di luar. Mereka hanya boleh di dalam rumah saja sekalian istirahat dan makan makanan yang dari rumah Ibu Erlina aja karena dari sana bawa banyak makanan yang sudah matang.
“Mas, hari ini kita ke tambak ya,” rengek Fitri.
“Ya sayank, sebentar ya. Dan ingat kamu tidak boleh pakai sendal yang licin,” jawab Yanto sambil menghabiskan bubur candil miliknya. Sekarang dia sudah tidak mengalami morning sickness lagi. Tapi kalau urusan ngidam makanan dia semakin menjadi. Emosinya juga sudah kembali normal. Tak lagi marah di luar kendali seperti awal kehamilan.
“Iya. Mas bawa uang ya pinta Fitri. Walau uang Fitri lebih banyak dari uang Yanto, tetap dia tidak mau mengeluarkan uang karena nanti menyinggung perasaannya Yanto. Fitri sangat menghargai suaminya yang sekarang lebih mudah tersinggung sejak dia hamil. Walau sekarang sudah tak terlalu emosional, teta\[ saja Yanto masih lebih sensitif daripada saat Fitri belum hamil.
“Iya Sayank, kamu mau apa?” tanya Yanto.
__ADS_1
“Aku cuma ikan patin aja sih. Tapi nanti kalau di luar ada sayur atau apa yang aku pengin kan Mas harus bawa uang? Dan ingat jangan bawa uang besar nanti penjualnya terbebani bila tak ada kembalian. Usahakan bawa uang maksimal yang rp 50.000-an aja. tapi aku sarankan mendingan bawa 10 ribuan atau rp 20.000-an aja. Kalau kita kasih lebih tetap aja tidak seperti menghina bila tidak ada kembalian,” ujar Fitri.
“Iya sayang Mas lebih suka dengan pemikiranmu itu, karena kalau tidak ada kembalian lalu kita bilang sudah kembaliannya buat situ aja nanti mereka akan tersinggung. Ini kan di desa sendiri. Tak baik bila kita dianggap menghina dengan merelakan uang kembalian,” jawab Yanto.
“Jadi lebih baik kita bayar pas lalu kita beri kelebihan.”
“Ayo Mas, mumpung belum panas kita jalan.” ajak Fitri tak sabar.
“Tetap aja kamu harus bawa payung,” pinta Yanto. Suasana di desa super panas untuk perempuan kota seperti istrinya.
“Enggak Pa, aku enggak mau bawa payung. Aku pakai topi aja, bawa payung itu ribet Pa,’ tolak Fitri dengan wajah cemberut yang menggemaskan.
“Nah gitu dong, itu namanya Papa tuh cinta sama Dedek dan sama Mama, bukan cinta Mama aja,” ujar Fitri senang.
“Lah selama ini juga Papa cinta Mama, cinta dedek juga kok. Bukan cuma cinta dedek aja. Enggak akan ada Dedek kalau enggak ada Mamanya. Dan Dede’ mesti tahu mamanya tuh super judes kalau ke Papa lho. Tapi tetap aja cinta Papa mengalahkan sifat judes Mama,” Yanto mengecup kening istrinya karena dia sedang berdiri untuk membawa mangkok bubu bekas makannya.
“Ih judes apanya coba?” Fitri mengikuti Yanto ke dapur karena dia penasaran mengapa disebut judes oleh Yanto.
__ADS_1
“Inget enggak pertama kali nyuapin sarapan di mobil?” pancing Yanto.
“Lupa tuh.”
“Pertama kali nyuapin, Mama tu ngancem : kalau kamu enggak makan aku juga enggak makan, saat Papa menolak disuapi.”
“Gimana coba Papa mau enggak makan kalau Mama nanti kelaparan karena ikutan enggak makan? Papa makan kan karena takut mama kelaparan. Padahal nolak disuapi karena merasa rendah diri enggak pantas disuapi anak majikan.”
“Iiiiiih Papa kok gitu sih,” rajuk Fitri sambil memukul punggung suaminya yang sedang cuci mangkok. Yanto berbalik badan dan memeluk tubuh istrinya dengan lembut
“Ya itu kenyataannya. Coba bayangin gimana Mas enggak mikirin kamu kelaparan selama di kampus kalau kamu ikutin Mas enggak sarapan? Kalau enggak mikirin itu, Mas juga enggak mau makan karena enggak enak disuapin majikan.”
“Kalau enggak cinta, enggak akan mikirin kamu enggak makan kan?” jelas Yanto.
“Saat itu pikiranku cuma kamu. Jadi aku terima aja disuapin karena aku sayang kamu. Jadi sekarang tahu kan sejak duku Mas itu mikirin kamu dan cuma kamu aja. Bukan mikirin orang lain yang jelas-jelas ngejar Mas.”
“Iya, aku tahu soal mikirin aku. Tapi engga percaya aja sedemikian dalam cinta tapi enggak berani bilang,” ucap Fitri mengeratkan pelukan pada suaminya.
“Papa cuma punya cinta sejati Yank. Jadi saat itu cuma berpikir mencintaimu dalam hati dan berharap kamu bahagia dengan siapa pun pilihan hatimu,” Yanto mengecup bibir istrinya sekilas tanda cinta. Bukan penuh nafsu.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.