BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
ANAK KECIL DENGAN BAJU LAB


__ADS_3

“Bagaimana tadi pertemuan dengan Satrio?” tanya Fitri di kamar setelah makan malam tentunya. Mereka bersiap tidur dan dua jagoan sudah terlelap. Jagoan merasa senang karena papanya kasih oleh-oleh buku cerita bergambar.


“Seperti yang kamu bilang, memang dia sepertinya sedang meraba-raba untuk mencari langkah berikutnya. Belum tahu yang dia minati apa. Tapi setidaknya dia ingin maju, karena dia ingin tahu tentang Timah. Dia sudah termotivasi dengan anak kelas 5 SD yang tak mau di belikan sepeda,” ujar Yanto.


“Ya Mas  kita memang harus memacu mereka seperti itu, membuat iri dengan prestasi bukan dengan produk lain.” balas Fitri sambil membereskan meja rias setelah dia membersihkan wajah.


“Mas  juga tahu lah seperti itu,” balas Yanto. Dia sudah di ranjang memandang foto di ponselnya. Setiap saat dia suka membuat foto anak-anaknya.


“Terus tadi Timah juga sudah ngajak Satrio buat main kalau pulang sekolah. Mas kasih saja mereka izin jadi nggak perlu nunggu hari Sabtu atau Minggu karena kalau hari Sabtu dan Minggu kan ada Herry. Mungkin Tria nggak enak sama Herry bila bertemu.”


“Nanti biar saja Timah dan Satrio berdua tanpa perlu ada Tria,” lanjut Yanto. Dia tersenyum saat istrinya mulai ikut berbaring di sisinya.


“Oh iya seperti itu, nanti aku bilang sama Tria deh. Kalau Satrio janjian sama Timah biarin saja, nggak perlu dia dampingi lagi. Kecuali kalau memang dia mau ke sini sama Satrio.”


“Sip lah,” kata Yanto sambil meletakkan ponselnya dan berpaling fokus pada istrinya.


“Kok belum ada lagi?” ucap Yanto sambil mulai mengusap perut istrinya.

__ADS_1


“Ya Allah. Masih saja kepikiran itu,” jawab Fitri memegang tangan suaminya agar berhenti mengusap perutnya.


“Ya masih lah. Sekarang sudah 2 tahun si Daanish. Masa belum ada lagi,” ucap Yanto. Tak boleh mengusap perut tentu dia gerilya yang lain.


“Ya sabar, mungkin memang cuma itu jatah kita. Yang penting kan enggak di tunda.


“Boro-boro ditunda Yank. Bisa fatal lah kalau ditunda,” jawab Yanto.


“Maksud aku kita nggak pakai KB. Kalau tunda itu sih aku sudah tahu. Mas orangnya nggak bisa ditunda 1 hari pun, kecuali pas aku memang dapat jatah libur bulanan,” ucap Fitri.


‘Aku besok ke sekolahmu ya? Mbak Tria ada janjian dengan orang di peternakannya yang ingin tanya-tanya. Dia enggak bisa.’


‘Oh boleh Mas. Nanti kalau sudah mau pulang aku kasih tahu. Jadi Mas  nggak nunggu lama,’ balas Timah saat ada chat masuk dari Iyok.


‘Tunggu lama nggak apa-apa kok,’ jawab Satrio.


‘Ya sudah, silakan saja. Sudah tahu kan sekolahku?’

__ADS_1


‘Sudah, aku sudah tahu. Aku dulu sering main ke sekolahmu juga. Karena kita sering tanding basket atau futsal saat aku SMP,’ balas Iyok.


‘Oh gitu,’  tulis Timah agak lama, karena dia sedang membaca di lapotopnya.


‘Oke Mas. Aku tunggu besok ya. Aku mau langsung balik ke laptop lagi karena masih banyak yang ingin aku rangkum.’


‘Oke,’ jawab Satrio dengan berat hati. Sebenarnya dia masih ingin ngobrol walau hanya melalui chat dengan anak kecil itu. Dia pandangi foto profil di aplikasi hijaunya Timah.


Timah menggunakan foto profil sedang menggunakan baju laboratorium berwarna putih dengan memegang tabung reaksi, latar belakangnya juga memang berada di laboratorium sekolahan.


“Pastilah anak kecil itu bangga berada di lab. Waktu SD pasti dia belum menggunakan baju lab seperti itu,” kata Satrio memandang foto Timah.


Baju lab memang seperti sneli-nya dokter dan tentu siapa pun akan bangga menggunakan baju tersebut.


Satrio pun lalu membuka laptopnya dia juga ingin lebih giat belajar agar tak kalah dengan Tria maupun Timah yang sudah lebih dulu berprestasi dalam hal apa pun di luar prestasi sekolah.


Dia ingin ke rumah Timah melihat bagaimana pemanfaatan limbah di kebunnya ibunya Timah.

__ADS_1


__ADS_2