
“Kasihan anak itu,” kata Gendis pada Fitri setelah Tria pamit pulang.
“Kenapa Bu?” Fitri tak mengerti tentang cerita mengenai keruwetan di keluarga Tria.
“Keluarganya itu bermasalah. Masih bagus dia bisa berprestasi dan punya pemikiran yang bagus yaitu melarikan diri membuat sesuatu yang berguna seperti peternakan. Kalau dia seperti kakaknya melarikan diri ke hal yang buruk tentu akan makin hancur keluarga itu,” ulas Gendis sambil menarik napas panjang.
“Memang kakaknya kenapa?” tanya Fitri.
“Kakaknya ternyata sejak SMA sudah menjadi simpanan om-om.”
“Oh, kalau orang sekarang bilangnya sugar baby Bu buat si perempuannya. Dan om-omnya di sebut sugar daddy.”
“Iya, tadi dia bilang kakaknya menjadi sugar baby dan sudah pernah aborsi,” timpal Gendis.
“Dan sekarang kakaknya dipenjara karena telah jadi pengedar narkoba.”
“Astagfirullah, sepahit itu?” kata Fitri. Dia tak menyangka nasin Tria demikian buruk.
__ADS_1
“Iya dan orang tuanya semakin menekan Tria serta adiknya. Mereka tak boleh keluar ke mana pun padahal selama ini dia dan adiknya bertingkah laku yang benar. Walau katanya mereka sering membantah tapi mereka malah berprestasi.”
“Banyak orang tua yang menilai anak yang manis dan penurut adalah anak baik, padahal mereka manis dan penurut hanya di depan orang tua. Di belakang mereka malah melakukan tindak-tanduk tidak benar seperti yang kakaknya Eka lakukan. Tadi Tria cerita bahwa kakaknya manis tapi sudah aborsi, juga sudah 3 tahun jadi simpanan lelaki berduit.”
“Pantas tadi Tria minta tolong ke aku Bu,” ucap Fitri.
“Minta tolong apa?” tanya Gendis. Kalau bisa dia akan menolong gadis baik seperti Tria.
“Dia minta adiknya berkenalan dengan Mas Yanto, buat dikasih motivasi karena takut adiknya salah jalan.”
“Adiknya lelaki atau perempuan dan kelas berapa?” Tanya Gendis.
“Ya sudah kenalkan saja dengan Yanto. Biar mereka bisa ngobrol bareng. Kenapa nggak suruh kenalan dengan Herry saja?” tanya Gendis lagi.
“Tria sudah menjauh dari Herry Bu. Karena rupanya Herry mengancam mereka boleh berteman tapi Tria jangan dekat dengan Herry. Itu sebabnya Tria selalu menghindar Herry bilang dia ada di rumah ini. Dia tak mau kehilangan aku dan Timah tapi dia takut ancaman Herry.”
“Astagfirullah, kenapa Tria jadi berpikir seperti itu? Padahal Herry maksudnya pasti bukan begitu,” ucap Gendis. Dia tak yakin Herry bersikap buruk pada Tria.
__ADS_1
“Entahlah Bu. Pokoknya Tria sama sekali tak mau bersinggungan dengan Herry dalam hal apa pun, karena itu dia juga tak mau kalau minta bantuan Herry untuk berteman dengan adiknya. Dia lebih minta Mas Yanto untuk membantunya.”
“Ya sudah Ibu harap kalian juga mau menolong Tria dan adiknya. Jangan sampai anak baik seperti mereka malah masuk ke jurang yang salah seperti kakaknya.”
“Iya Bu, aku akan cerita ke Mas Yanto,” jawab Fitri.
“Kamu sudah kasihkan nomornya ke Tria?” tanya Yanto, begitu istrinya selesai cerita permasalahan dalam keluarga Tria. Dia juga sama seperti Gendis, tak ingin Tria dan Satrio kandas karena salah jalan.
“Sudah Mas. Aku sudah kasih tahu mungkin malam ini dia akan telepon aku untuk bicara apakah besok Satrio bisa main ke bengkel bersama dia. Kalau Mas bisa dan Satrio-nya bisa tentu dia akan antar ke bengkel sepulang sekolah,” jawab Fitri.
“Sepertinya besok sore, pulang anak-anak sekolah Mas kosong kok. Mungkin Timah bisa pulang bareng Mas saja. Suruh dia ke bengkel juga biar sekalian ngobrol bareng. Biar Satrio biasa bersama kita. Anak-anak seperti itu harus kita rangkul,” kata Yanto.
“Aku dan Ibu setuju Mas. Jangan sampai mereka terjatuh ke jurang yang sama seperti Eka,” balas Fitri.
“Ya dan prestasi mereka juga bagus, buktinya seharusnya kemarin Tria itu juga menjadi wakil sekolah untuk pekan weekend se Jawa Tengah sama seperti Herry. Cuma dia karena sudah punya jadwal dengan pak RW dan Pak lurah jadi dia tak ikut di pertemuan weekend itu.”
“Dan prestasi olahraga Satrio juga bagus Mas, kalau dia terkena narkoba tentu tak akan seperti itu. Dia bagus kok, sering juga ikut lomba antar sekolah walaupun masih kelas 1 karena dia jago futsal dan basket,” jelas Fitri berdasarkan info dari Tria.
__ADS_1
“Oke, kalau nanti dia telepon bilang saja suruh datang dan bilang juga sama Timah suruh datang jam pulang sekolah, biar pulang sama aku.”
“Iya Pa,” kata Fitri.