BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
SERUNDENG PEDAS MANIS


__ADS_3

Erlina dan Gendis sedang mengawasi Bu Yani membuat ULI atau JADAH kalau orang Solo bilang atau juga ada yang bilang TETEL. Mereka memang habis memarut kasar kelapa muda lalu dikukus dan ditumbuk bersama beras ketan yang sudah dimasak dengan santan kental sehingga rasanya sangat gurih tentu saja ditambah sedikit garam.


“Kalau di Jakarta, mungkin kebiasaan dari Bogor jadahnya itu dibakar Mbak. Lalu dimakannya dengan serundeng manis pedas jadi aku terbiasa dengan itu. Kalau yang tidak di bakar, dimakan dengan tape ketan maka di sebut tape uli,” kata Gendis yang sejak gadis memang tinggal di Jakarta. Bahkan berkenalan dengan Suripto malah di Jakarta.


“Aku pernah makan juga satu kali, tetel dengan serundeng pedas itu. Memang enak sih. Kebiasaan orang sini kan tetel itu dengan tempe bacem. Makanya disebut jadah tempe karena mereka dipasangkan tempe bacem dengan jadah. Cuma aku nggak suka saja. Buat aku lebih senang kalau jadah ya jadah tempe bacem ya tempe bacem dimakan pakai rawit saja,” jelas Erlina tentang seleranya.


“Ya itulah keragaman kita ya Mbak,” kata Gendis.


“Kalau di sini senangnya dihidangkan seperti apa?”


“Kadang aku bakar saja begitu di teflon, kadang di kasih daun pisang dulu supaya baunya enak. Nanti anak-anak paling makannya dengan gula pasir. Tapi sejak aku perkenalkan mereka dengan serundeng pedes manis itu,  mereka ya pasti mintanya pakai serundeng pedes manis. Nanti aku buatkan juga serundeng pedesnya manis sehabis jadahnya selesai,” jalas Gendis.

__ADS_1


“Aku mau lah kalau bikin serundeng pedas manisnya,” kata Erlina.


“Oke nanti aku bikin lebih banyak dari biasanya biar bisa dibagi dua,” jawab Gendis. Memang sehabis bikin uli atau tetel atau jadah itu baru bikin serundeng. Karena kan uli, juga nggak baru bikin langsung dimakan. Jadi dibiarkan agak set dulu, biar agak padat dulu. Yang penting saat ketan panas-panas atau hangat begini ditumbuk dulu sampai halus jadi bikin adonan padat.


“Kalau begitu aku akan minta tambahkan kelapa parutnya dua lagi yang sedang.”


“Memang kamu pesan di mana?” tanya Erlina.


“Lho Herry ke mana?” tanya Suradi yang baru ke belakang.


“Tadi ngelihat tambak katanya, makanya aku titipkan kelapa parut untuk bikin serundeng,” kata Gendis.

__ADS_1


“Aku pikir dia ada di rumah,  cuma di dalam kamar,” duga Suradi.


“Enggak. Dari tadi pagi dia pergi. Katanya ada bibit baru datang,” jelas Gendis.


“Oh pantas. Aku nggak lihat. Aku pikir ada Herry di rumah,” kata Suradi lagi. Suradi dan Erlina mereka memang baru datang. Tria dan Satrio lebih dulu datang.


Fitri memasak sayur bening daun kelor dengan oyong atau gambas yang dia petik di kebun. Tentu saja kelor dipetik di pinggir pagar.


Bumbu yang berupa rimpang tak pernah beli baik kencur, jahe, kunyit. Pokoknya empon-empon nggak pernah beli. Kemarin Fitri baru mengambil beberapa ruas kencur yang sudah tua. Yang muda dia biarkan dibenamkan lagi supaya tumbuh lagi. Begitu pun kunyit, jahe dan bumbu lainnya kalau yang empon-empon Fitri tinggal ambil. Hal itu pun diikuti oleh Satrio sehingga bibi di rumah kalau butuh bumbu yang berupa umbi rimpang sudah siap di terasnya yaitu di plastik-plastik yang Satrio tanami.


Tadi cabe rawit untuk rica-rica juga tinggal petik saja. Yang mereka belum tanam itu bawang merah  dan bawang putih karena agak sedikit sulit panennya. Biasanya hanya tumbuh daun saja. Tapi tetap Fitri akan mencoba menanam kedua jenis bawang itu.

__ADS_1


__ADS_2