
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
"Aku suka yang ini Mas," kata Fitri memberi pendapat soal rumah yang akan mereka kontrak.
"Kalau menurut Mas ini terlalu besar Dek. Buat apa empat kamar tidur? Kita cukup yang dua kamar tidur saja."
"Satu untuk kita berdua satu untuk kalau ada tamu. Kita kan nggak butuh pembantu rumah tangga. Nanti kalau sudah ada momongan baru kita cari rumah yang besar sekalian kita beli."
"Sekarang biar yang tadi aja, yang sebelumnya gimana? Yang dua kamar tidur." Usul Yanto.
\*'Iya juga, buat apa kami ngambil yang empat kamar?' \*pikir Fitri. Terbiasa tinggal di rumah besar Fitri jadi belum biasa berpikir realistis.
"Oh iya. Mas bener. Sudah kita balik yang tadi," akhirnya Yanto membayar kontrak rumah itu dua tahun.
"Bismillah semoga untuk berikutnya kita enggak memperpanjang ya Dek," kata Yanto sehabis menerima kwitansi pembayaran kontrak rumah.
"Loh kenapa?" Fitri bingung akan doa Yanto yang tak ingin memperpanjang kontrak rumah.
"Mas berharap di tahun ketiga kita sudah bisa beli ya Dek," ujar Yanto penuh harap.
"Aaamiiiiin," Fitri tentu berharap impian suaminya bisa terwujud.
"Insya Allah kita bisa. Nanti kita beli yang sederhana dulu aja lalu kita bangun sedikit demi sedikit." Yanto tak ragu dengan harapannya. Dia yakin bisa menggapainya.
"Aku manut," kata Fitri.
"Kita mau langsung pulang atau piye Mas?"
"Kamu cape Dek?"
"Enggak lah."
"Kita maem dulu, lalu cari peralatan standar yang primer dulu. Maksud Mas setidaknya kita harus punya kasur Dek walau tidak pakai ranjang."
"Kasur dulu satu, lalu kita harus beli kompor, alat dapur masing-masing satu dulu aja."
"Masalah sofa atau yang lain urusan itu menyusul aja."
__ADS_1
"Kita memang mau masuk kapan Mas?"
"Kamu minggu depan sudah kerja kan, paling tidak 2 hari sebelum kerja masuk sini. Itu pun kita masih cape."
"Nanti kita Insya Allah ngisi rumah dulu aja ,biar nanti kita tinggal bawa baju aja sedikit sedikit dari Solo. Kita bawa tiap minggu aja."
"Selama kamu kerja nanti Mas beres-beres rumah dulu."
"Mas kapan mau ndaftar kerja disini?"
"Nanti Mas atur ya. Walau enggak kerja uang Mas masih cukup untuk hidup kita. Kamu enggak perlu khawatir ya," Yanto membalas ucapan Fitri dengan kata-kata menghibur agar Fitri tak khawatir.
'Mas Yanto ini cuma driver aja tabungannya banyak banget. Bayar kontrakan ini aja sudah besar. Belum lagi dia mau beli alat rumah tangga.'
'*Padahal mau bawa apa pun dari Solo akan sangat irit karena hanya sewa satu truk saja rumah bisa langsung penuh*.'
'*Rupanya dia memang sangat hemat dan sangat cermat untuk menghitung penghasilannya*.'
Mereka pun membeli kompor gas dan tabungnya, beberapa alat dapur yang primer dulu juga satu buah ranjang dan beberapa spreinya.
"Iya Mas, nanti terlihat dari luar. Berapa jumlahnya?"
"Beli yang ukuran standar. Kita butuh berapa ya Dek?"
"Kamar satu Mas, apa dua? Ruang depan kan dua. Karena dua kamar jadi enam Mas."
"Oh ya udah beli 6 aja satu kamar tidur dan kamar ruang tamu aja Mas."
"Atau beli empat aja Dek. Nanti kalau kurang kamar yang kosong enggak usah dipasang dulu. Kalau cukup ya dipasang semua. Daripada sisa. Mending beli lain warna jadi bisa ganti-ganti." Saran Yanto.
"Pintu-pintu pakai nggak?"
"Enggak usah lah pintu."
"Terus beli tikar Mas," usul Fitri.
__ADS_1
"Tikar buat apa?"
"Untuk duduk saat makan Mas, masa kita duduk di lantai?"
"Oh iya." Mereka pun juga tak lupa membeli sapu dan alat pel.
Sejak tadi semua dibayar oleh Yanto. Fitri sama sekali tak boleh membayar oleh suaminya.
'*Aku yakin kalau terus di rumah orang tuaku dia akan bingung sendiri karena tidak memberi nafkah pada istrinya. Dia pasti ingin ngasih uang belanja tapi buat apa kalau masih tinggal di rumah Ibu*?' batin Fitri.
Mereka pun membeli satu lusin piring, satu lusin gelas serta satu lusin sendok garpu dan sendok kecil.
"Sudah cukup Dek?"
"Standarnya segitu dulu lah. Nanti gampang seperti parutan atau apa bisa nyusul sedikit sedikit." Fitri berniat tiap pulang kerja dia ingin beli alat dapur, sehingga dia juga mengeluarkan uang untuk isi rumah.
"Eh kamu sudah beli dandang toh?"
"Sudah dandang kecil sudah, panci kecil dan wajan kecil sudah," kata Fitri.
"Mas aku boleh beli blender enggak?" Fitri sangat berharap dia boleh beli blender. Kalau tak izin dia takut Yanto marah. Tentu saja Fitri ada uang buat beli alat rumah tangga.
"Kenapa?" Pertanyaan baku yang selalu Yanto lontarkan.
"Buat ulek-ulek sekalian bikin jus buat kamu." Fitri ingin membawakan bekal juice bagi suami tercinta setiap dia berangkat kerja. Fitri ingin suaminya sehat.
"Kalau ulek-ulek kenapa nggak pakai cobek?" Yanto tadi belum melihat Fitri beli cobek. Tak apalah itu tak urgen.
"Iya nanti beli cobek tapi juga tetap beli blender."
"Beli saja. Kamu enggak butuh Magic Jar?" tanya Yanto.
"Boleh Mas?"
"Kenapa enggak boleh. Beli aja yang kecil. Dandang kan prepare kalau mati listrik aja." Yanto pun mengambil dan mengecek apakah mesinnya baik.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU yok
__ADS_1