
“Kalau lokasi di sini, aku pikir aku nggak bisa tiap hari lihat sesuka hatiku Mbak. Kalau aku bikin di rumah kan tiap pulang sekolah aku bisa lihat. Malam pun pas sempat, aku keluar aku lihat. Begitu loh Mbak. Karena aku pengennya bisa ngelihat perkembangannya kapan pun.”
“Dan kendala kalau di sini itu aku nggak mau sering ketemu Herry. Karena aku nggak ingin dia salah tangkap bahwa aku sering ke sini karena ingin ketemu dia. Walau bagaimana pun aku punya harga diri kok. Aku memang salah waktu itu sudah mengatakan aku suka sama dia, tapi ketika dia sudah menolak ya sudah. Aku nggak kepengen lagi berhubungan lebih lanjut,” kata Tria dengan getir. Dia tak ingin Herry salah duga.
“Lalu mau bikin di mana Mbak?” tanya Timah. Dia tak menduga sahabat barunya mempunyai pemikiran seperti itu tentang kakaknya.
“Aku akan bikin di seberang jalan rumahku. Ada lahan kosong di seberang jalan. Nanti aku akan hubungi satpam yang memang kebetulan posnya di depan rumahku. Aku akan tanya aku bisa kontrak ke siapa. Aku mau buka di situ. Aku mau bikin kandang permanen di situ yang bisa menampung urine dan kotorannya. Itu tentu tidak berhubungan dengan rumah tangga papa dan mamaku karena di luar rumah. Di luar pagar di seberang jalan dan aku akan nyewa secara tertulis hitam atas putih jadi bukan sembarangan bikin usaha.”
“Semangat! Mbak senang kamu punya keputusan seperti itu. Mbak setuju kalau kamu bikin di luar pagar rumah, karena itu sudah bukan wewenang kedua orang tuamu. Orang tuamu tidak bisa melarang. Lebih-lebih apabila kamu sudah melakukan hitam atas putih bahwa kamu kontrak tanah tersebut,” kata Fitri.
__ADS_1
“Iya Mbak. Aku benar-benar akan terjun total. Ini uang tabungan aku, memang jujur ini asalnya dari kedua orang tua aku. Mereka ngasih aku setiap minggu lalu aku tabung. Dan aku rasa cukup buat modal pertama yaitu membangun saung agar ternak tidak kepanasan dan kehujanan. Nanti aku akan bikin kandang yang atapnya itu menggunakan asbes tapi yang separuh akan aku bikin dengan atap asbes mika sehingga mereka tetap kena cahaya matahari atau bisa juga aku biarkan diumbar tanpa mika, tapi tetap dengan pagar kawat keliling dari atas ke bawah. Sehingga nggak ada yang mencuri,” lanjut Tria
“Sebaiknya kamu tanya sama beberapa tukang. Jangan hanya satu orang tukang bikinnya bagaimana dah habis berapa bahan. Kamu juga bisa cari-cari referensi di Google,” saran Fitri.
“Ya Mbak. Aku beneran mau terjun ke sini seperti yang tadi kita bahas. Buat pergerakan uang cepat walaupun harganya lebih murah aku akan ternak yang kelinci lokal. Jadi nanti pakan untuk kelinci yang import itu tertutup dari penjualan kelinci lokal tersebut. Keuntungannya nanti aku ambil dari penjualan kelinci impor,” kata Tria lagi.
“Iya Mbak, mereka hanya akan di campur ketika kecil saat di kandang umbaran. Begitu dewasa kandang umbarannya berbeda.”
“Ah aku jadi nggak sabar pengen lihat usahamu Mbak, aku senang kalau kamu punya motivasi seperti ini,” kata Timah.
__ADS_1
“Semua karena aku kenal kamu Dek. Serius aku termotivasi dengan kemajuanmu. Aku termotivasi dengan sepak terjangmu,” kata Tria.
“Memang seperti itulah yang terjadi. Kita bergaul dengan penjual minyak wangi, kita akan bau wangi. Kita bergaul dengan tukang daging kita akan bau amis. Kalau kamu bergaul dengan orang yang sukses kamu akan termotivasi, tapi kalau kamu bergaul dengan orang yang gagal kamu akan ikutan gagal,” kata Fitri.
“Itu sebabnya kita harus hati-hati mencari teman yo Mbak?” jawab Timah.
“Benar, kenalkan temanmu pada orang tua agar mereka bisa memantau temanmu itu baik atau tidak.”
Tria sedih mendengar penjelasan Fitri yang terakhir.
__ADS_1