
“Besok-besok kamu bantuin aku ngedisplay ruangan sama belanja alat-alatnya ya Dek,” pinta Satrio.
“Aku nggak tahu bisa apa nggak Mas. Tapi kalau aku bisa pasti aku bantu kok.” jawab Timah.
“Kamu jangan bilang sama Mbak Tria dulu. Ini rahasia kita. Aku takut bocor. Sama lah seperti Mbak Tria kan juga nggak ingin semuanya ketahuan sebelum pembukaan.”
“Kalau dari aku sih, kalau dibilang seperti itu nggak akan bocor Mas. Tapi ya nggak tahu kalau orang lain yang boocorin. Aku yakinkan kalau dari aku nggak akan aku bocorin kalau sudah ada permintaan seperti itu.”
“Iya Dek. Aku nggak ingin bocor dulu.”
“Ada usulan cat ruang dalam warnanya apa Dek?”
__ADS_1
“Kalau satu warna kayanya sudah monoton Mas. Di mana-mana sama. Coba Mas cat 4 dinding itu dengan warna beda. Asal tabrak warna saja. Memang aneh nggak kesannya, tapi jadi menarik. Terlihat cozzy.”
“Boleh juga tuh idenya,” kata Satrio. Dia malah ada ide lainnya dari ide dasarnya yang Timah berikan.
“Iya Mas, kita bikin yang nyeleneh. Jangan mononton. Biar orang jadi inget oh ke toko makanan itu tuh yang catnya antik, begitu nanti pembicaraan orang.”
“Di papan nama Mas tulis hanya jual makanan mamalia saja atau bagaimana?”
“Mungkin satu dua kali orang akan tanya ada makanan ikan nggak atau Mas ada jual makanan burung ini nggak gitu. Mas mungkin harus sabar kasih tahu bahwa toko Mas adalah spesial makanan mamalia atau mungkin di plang-nya ditulis hanya menjual makanan dan obat untuk mamalia saja. Sehingga orang tahu nggak cari yang tidak ada di tempat kita bolak-balik.”
“Kalau begitu tujuannya oke sih, biar orang iseng datang. Kali saja tertarik dagangan kita,” kata Timah.
__ADS_1
“Jangan lupa, Mas siapin air mineral super kecil. Kalau bisa yang botol. Jadi nggak tumpah. Kalau yang gelas walaupun super kecil nanti airnya tersisa dibuang. Kalau yang botol kan sisanya biar mereka bawa di tas. walaupun tersisa dia tetap masih bisa dibawa pulang. Yang super kecilnya 200 mili atau kalau ada yang lebih kecil lagi sehingga konsumen merasa kita memperhatikan mereka.”
“Siap. Aku tampung sarannya. Terus apa lagi?”
“Mas bilang kan di sini nanti cari pegawai. Kalau bisa cari pegawai dari lingkungan sini saja. Tapi yang harus diketahui kejujuran dan loyalitasnya. Jangan sampai dia nanti hanya nampung orang-orang ngobrol.”
“Iya sih, harus menyerap sumber daya masyarkat dari lingkungan sekitar dulu. Kayak Mbak Tria tuh enak, rekomendasinya dari satpam sehingga pasti kalau ada apa-apa satpamnya juga punya rasa malu kalau keluarga yang bekerja di tempat Mbak Tria tidak menjalankan tugas dengan baik dan benar.”
“Nah itu maksud aku. Kita kan belum kenal orang sini. Jadi benar-benar harus menelisik siapa yang bagus buat bekerja.”
“Besok kan aku akan lapor lingkungan. Aku akan tanya-tanya Dek,” jawab Satrio.
__ADS_1
Satrio akhirnya senang satu langkah sudah terlampaui. Dia sudah memegang kunci untuk tempat usahanya. Tadi dia juga sudah minta dibuatkan tanda terima dengan bermaterai kuitansinya karena uang besar seperti itu kalau tidak bermaterai bahaya. Dia juga meminta draft kontrak untuk tokonya sehingga benar-benar ada legalitas. Tidak mau asal kontrak tanpa keterangan jelas. Satrio tidak mau toko sedang berjalan tiba-tiba dibilang dia belum bayar atau apa pun. Ketentuan kontrak harus ditulis dengan jelas,
Sebelum pembayaran mereka sudah coret-coret apa yang akan ditulis pada kontrak tentu saja pemilik rumah tidak mau main-main walaupun pada anak kecil sekali pun. Pemilik tahu anak-anak ini pasti berani maju karena backingnya orang besar. Itu yang mereka pikir. Tidak mungkin sewa jutaan dalam per tahun dibayar oleh anak sekolah. Jadi pasti orang di belakangnya adalah orang besar. Belum lagi bahasa draft kontrak yang Satrio berikan tadi adalah bahasa hukum yang baku. Tentu saja itu sudah dibuatkan oleh Gultom.