BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
FOCUS KE RUMAH TANGGAMU SAJA


__ADS_3

Heru pamit pada Fitri dia tak bisa berlama-lama di rumah sakit karena banyak kerjaan di yayasannya.


“Mas pulang dulu ya nanti akan ke sini mungkin bersama istri Mas atau mungkin juga ibu dan bapak akan ke sini, karena sudah Mas beritahu barusan mereka kaget kamu kecelakaan.”


“Iya Mas. Nggak apa-apa kok. Enggak usah ngerepotin, aku tadi manggil Mas hanya buat sharing aja. Aku enggak mengerti harus bagaimana menghadapi carut marut rumah tanggaku saat ini.”


“Seharusnya kamu fokus saja sama suamimu. Kamu yang harus berperan aktif. Sekarang kamu yang harus bicara lebih dulu karena aku yakin dia sudah tidak akan mau bicara lagi sama kamu takut ada penolakan.”


“Jadi sekali lagi, kamu yang harus berperan aktif agar dia tidak berpikir bahwa kamu ingin berpisah dengan dia. Itu memang kalau kamu mau mempertahankan rumah tanggamu.” saran Heru.


“Sampai kapan pun aku enggak ingin bercerai Mas. Terlebih aku sangat mencintai suamiku. Aku enggak pernah berpikir berpisah dari dia.” balas Fitri dengan emosional.


“Kalau kamu enggak mau berpisah, seharusnya ya itu tadi. Kamu berperan aktif, kamu hubungi dia dulu atau kalau dia ada ya kamu ngajak bicara dulu. Kamu lakukan komunikasi aktif.”


“Iya Mas nanti akan aku lakukan. Terima kasih waktumu mau mengunjungiku sesuai permintaanku tadi.”


“Iya sama-sama. Tidak apa-apa, jangan lupa kamu langsung hubungi pengacaramu untuk mengurus persoalan ini. Sehingga kamu hanya fokus pada suamimu. Persoalan ini biar pengacara saja yang urus. Kamu enggak perlu repot lagi.”


 Iya Mas akan aku lakukan,” kata Fitri sambil mengangguk, dia memastikan akan melakukan hal itu. Fitri tak ingin rumah tangganya karam.

__ADS_1


Sejak tadi Gendis hanya duduk di luar kamar rawat. Dia biarkan Heru dan Fitri bicara dia tak mau mengganggu privasi menantunya.


Suradi dan Erlina datang pada saat jam kunjung pasien walau sebenarnya untuk kamar VIP jam kunjung tidak baku mereka boleh terima tamu kapan pun.


Jadi saat Erlina dan Suradi datang mereka melihat Gendis duduk di teras kamar.


“Tante, Om saya pamit dulu,” Heru menyalami tiga orang tua di depan kamar rawat Fitri.


“Iya nak Heru. Terima kasih kehadirannya,” jawab Gendis.


“Sama-sama Tante.”


“Lho kok pulang?”


“Iya saya kan tadi habis salat subuh langsung berangkat ke sini. Belum ngapa-ngapain sama sekali. Lagian cukup Mbak dan Mas saja yang jaga Fitri,” ucap Gendis.


“Ya sudah, biar diantar sama sopir saja,” kata Suradi. Dia langsung menghubungi sopirnya agar bersiap mengantar Gendis pulang.


Sampai sore Yanto belum mau berangkat ke rumah sakit, walau sejak tadi Gendis sudah menyuruhnya.

__ADS_1


“Biar aja Bu. Kan masih ada ayah dan ibu di sana. Cukuplah mereka aja yang jaga. Aku bagian jaga malam aja,” jawab Yanto ogah-ogahan.


‘Ya ampun sampai sore, dia tetap belum mau datang ke sini,’ keluh Fitri dalam hatinya.


‘Rupanya Mas Yanto benar-benar menyerah. Dia sudah tak mau lagi memperjuangkan aku. Mungkin dia sudah pesimis bisa melanjutkan hidup berumah tangga denganku.’


‘Benar yang Mas Heru katakan, aku harus berperan aktif. Tidak boleh pasif menunggu bola. Aku harus menjemput bola!’


‘Mas kok belum ke sini?’ tanya Fitri melalui pesan. Dia tidak mau langsung telepon takut ditolak.


‘Kalau ke sini bawakan aku bakso urat yang biasa kita beli ya? Ingat enggak pakai mie sama sekali.’


Itu yang Fitri kirimkan ke nomor Yanto. Tapi jangankan dibalas dibaca pun tidak oleh Yanto. Padahal Fitri melihat Yanto baru membuka kotak pesan 10 menit lalu. Artinya ponselnya aktif.


Fitri mencoba bersabar.


Sehabis magrib Fitri melihat kembali ponselnya dan terlihat Yanto baru saja membuka pesan karena notifikasi tertulis bahwa terakhir Yanto buka pesan 3 menit lalu. Tetapi pesannya tetap tidak dibaca.


‘Mungkin ini yang Mas Yanto rasakan ketika aku tak menggubris dia. sekarang gantian aku yang tak dipedulikan oleh dia.’ Fitri sedih mendapati kenyataan sekarang Yanto tak peduli pada dirinya.

__ADS_1


__ADS_2