BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
MEMELUKMU


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



 "Udah biarin aja Mas. Nanti diberesin sama pembantu," Fitri melarang suaminya ikut beberes rumah sehabis pengajian.



"Kalau aku masih bisa kerjain ngapain nungguin pembantu Dek?" Bambang melipat tikar juga menggulung karpet bekas pengajian. Dia bersihkan dulu semuanya agar karpet dan tikar tidak kotor.



Setelah tikar dan karpet beres Bambang langsung menyapu dan mengepel ruangan.



Dibantu dengan sopir dan beberapa karyawan lain Bambang memasukkan kursi-kursi kembali ke posisi semula.



"Mas Bambang sebelum dan sesudah jadi majikan yo tetep wae seperti biasa,  enggak berubah. Yo tetap aja rajin enggak asal perintah." Seorang karyawan ngomongin Bambang.



"Dia memang sejak dulu kan kayak gitu, mana pernah dia berpikir aji mumpung," kata Mbok Darmi.



"Iyo, dia tetep aja seperti biasa Mbok."



"Alhamdulillah, semoga aja pernikahan mereka langgeng ya Mbok," kata karyawan lainnya.



"Iya.  Dan bukan kemauannya Mas Bambang kok untuk mendapatkan Mbak Fitri. Walau sejak dulu dia menyukai Mbak Fitri tapi dia tidak mengambil kesempatan karena takut dikira hanya mengejar harta Mbak Fitri yang anak tunggalnya pak Suradi pengusaha rumah kost."



Tak mendengar bisik-bisik karyawan pak Suradi, sehabis membereskan ruang tamu Bambang ke belakang mengambil tas ransel dan satu buah kardus.



"Kok cuma ini Mas?" Tanya Fitri melihat suaminya hanya membawa sedikit barangnya.



"Ya nantilah bertahap Dek enggak enak wira wiri. Cukup kok ini buat malam ini aja nggak apa-apa. Ada alat salat dan baju bersih untuk besok masih ada."



"Nanti semua atur sini aja Mas. Aku sudah kosongkan satu lemari ini untuk barangmu," Fitri membuka satu lemari yang dari atas hingga bawah memang kosong.


__ADS_1


"Mas mau mulai masuk  kerja kapan?" Fitri mencari topik pembicaraan.



"Sebentar ya Dek aku tarik napas dulu. Aku baru merasa plong lho Dek."



"Ya udah aku juga enggak maksa kok. Aku cuma tanya,  untuk mempersiapkan batinku kamu tinggal kerja selama satu atau dua hari," kata Fitri.



"Itu kamar mandinya ya Mas," Bambang memperhatikan kamar itu. Kamar yang didominasi warna hijau warna kesukaannya Fitri. Dia melihat kamar itu sangat besar tapi ranjangnya tidak terlalu besar hanya queen size bukan king size. Ada lemari pakaian besar dari jati lemari sepatu dan tas dari kaca.



\*'Aku ini seperti semut yang masuk kandang gajah,' \*kata Bambang dalam hatinya.



Bambang merasa tak enak. Dia mau tidur di mana.  Biar gimana pun dia tak berani menyentuh Fitri walau sudah jadi istri sah-nya.



Bambang bukan laki-laki yang mudah sembarangan menyentuh perempuan.



"Kalau capek istirahat aja ke sini," kata Fitri mengajak Bambang untuk tidur di sisinya. Bambang tentu tak enak Fitri mematikan lampu besar dan mengganti dengan lampu tidur. Fitri berbaring lebih dulu.




Bambang memang masih ragu. Sebagai seorang lelaki pasti tak menampik kesempatan emas di depan mata tapi Bambang berpikir dia juga punya adik perempuan, dia tak ingin adiknya disakiti oleh laki-laki dan dia tidak berani menyentuh Fitri walau sudah resmi karena dia merasa nggak pantas.



"Bisa aku bicara?" Tanya  Bambang.



"Bicara aja."



"Aku bingung harus memulai dari mana. Kamu itu istriku. Sah secara agama dan negara tapi aku belum bisa menerima kenyataan ini," jelas Bambang ragu.



"Apa karena aku ini enggak pantas buat kamu? Apa karena aku terlalu tua?" tanya Fitri.



"Bukan seperti itu tapi aku yang merasa terlalu kerdil dibandingkan dirimu," ujar Bambang jujur.


__ADS_1


"Itulah yang aku benci dari kamu sejak dulu," ungkap Fitri.



"Maksudmu?".



"Aku tahu, sejak dulu kamu suka sama aku, tapi enggak berani mengatakannya," Bambang kaget tak percaya Fitri mengetahui perasaannya itu.



"Benar aku memang menyukaimu tapi aku merasa bermimpi terlalu tinggi bila mencoba menggapaimu.  Maka aku selalu tidak berani. Saat itu aku malu anak kelas 2 STM tanpa penghasilan, naksir seorang mahasiswi  yang kaya raya. Apa yang bisa aku banggakan untuk maju perang saat itu?"



"Tapi kan kamu punya kemampuan, kamu punya cara untuk mendapatkan uang," sanggah Fitri.



"Yah uang receh seperti itu apa artinya dibandingkan satu kali kedip aja kamu bisa dapat lebih dari 25 kali yang aku dapatkan satu bulan."



"Rezeki bukan kita yang atur, aku juga enggak minta kok seperti ini. Dilahirkan oleh siapa dan jadi anak orang kaya kan kita enggak tahu," Fitri berkilah.



"Tolong tolok ukurnya jangan harta. Karena itu titipan, bukan milik kita," kata Fitri bijak.



"Setelah kamu lulus STM, penghasilanmu mapan. Kamu bisa mengirimi ibumu rutin, Bahkan kamu minta  ibumu berhenti bekerja, karena kamu sanggup membiayai adik-adikmu. Mengapa tetap tak berani mengungkap perasaanmu?"



"Benar penghasilanku mapan dan cukup untuk levelku. Tapi aku tetap merasa aku tuh bukan apa-apa dibanding kamu, jadi aku nggak pernah berani. Biarlah aku memendamnya sendirian. Aku akan bahagia bila kamu bahagia," kata Bambang.



"Tapi kebahagiaanku itu adalah bersamamu,"



"Mana aku tahu kalau itu yang ada di benakmu?  Aku takut orang akan mengira aku itu orang yang aji mumpung. Aku takut orang mengira aku hanya mencari kekayaanmu. Aku tidak ingin orang menuduhku seperti itu karena bukan itu yang aku inginkan. Aku ingin jadi kepala keluarga yang sesungguhnya bukan hidup di bawah bayang-bayang kekayaan istriku," jawab Bambang.



"Ayo kita tidur. Berupayalah menganggap aku adalah istrimu bukan anak majikanmu,"  kata Fitri.



Bambang pun membaringkan diri di kasur. Dia tetap belum berani menyentuh istrinya.



Keesokan paginya, Bambang bangun dan kaget. Dia tidur sambil memeluk Fitri dengan erat.

__ADS_1


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok



__ADS_2