
“Jadi bagaimana?” tanya Gultom sambil membakar rokoknya. Habis makan tentu dia langsung merokok dan minum kopi. Mereka sudah berada di ruang tengah.
“Amang pasti sudah tahu kiprahnya Mbak Tria. dia bisa jungkir balik sendirian bekerja tanpa ada yang bantu dari keluarga dan dia juga punya modal penuh tanpa minta bantuan siapa pun.”
“Alhamdulillah aku sudah berkenalan dengan keluarga angkatnya Mbak Tria yang mensuport Mbak Tria dalam hal cinta dan kasih sayang serta mensupport Mbak Tria dalam hal inspirasi sehingga Mbak Tria bisa bangkit menjadi seperti sekarang.”
“Keluarga itu adalah keluarga Herry orang yang jadi titik pangkal persoalan saat masalah keracunan tambak. Padahal mbak Tria sama sekali tak salah.”
“Sebelum aku cerita apa planningku, aku kasih tahu dulu, ada anak kecil dari kelas 5 SD dia sudah beternak kambing. Sekarang dia kelas 1 SMP dan peternakannya lumayan menjadi besar. Anak kecil ini sekarang juga punya peternakan ayam petelur, juga ayam kampung eh ayam negeri yang dipelihara seperti ayam kampung. Aku sangat terinspirasi dengan dia. Kata-katanya lebih bijaksana dan lebih berisi daripada orang tuaku, atau para guru-guru. Dia sangat-sangat menginspirasi.” Satrio tak ragu mengatakan kedua orang tuanya tak bicara bijak.
__ADS_1
“Amang percaya tidak, anak kelas 1 SMP itu tidak mau aku traktir baso atau apa pun!”
“Kenapa?” kata Riana.
“Dia bilang aku tidak pantas mentraktir dirinya, karena uang yang aku dapat adalah uang dari orang tuaku. Beda dengan dia. Dia punya uang sendiri dari hasil jual anakan kambing, jual ayam, jual telur bahkan dari jual kotoran kambing. Dia juga termasuk siswa beasiswa di sekolahnya. Dari dia aku terinspirasi. Tadinya aku tidak mau bisnis sama sekali. Aku terinspirasi untuk menjadi penyuluh lingkungan saja.”
“Tapi untuk memulai bisnis, aku terkendala sama modal Amang, Bude. Terus terang kalau Mbak Tria bisa nabung sebanyak-banyaknya, aku itu malah minus. Bude sama Amang mungkin mengira aku boros. Hanya kepada Bude dan Amang karena saat ini aku butuh bantuan, maka aku cerita. Uang dari papa atau mama, walau papa jarang kasih aku, itu aku gunakan untuk semua kegiatanku. Aku jadi penyandang dana dalam berbagai kegiatan yang orang tuaku nggak tahu. Kadang aku minta juga tambahan dari mereka walau dengan resiko aku di caci maki lebih dulu.”
Gultom dan Riana kaget dengan kejutan dari Satrio. Saat ini mereka tak menyangka sebenarnya anak-anak Husein dan Riani itu sangat bagus. Mereka cari jalan sendiri termasuk Eka. Hanya jalan yang mereka taak sama. Eka menempuh jalan yang salah. Kalau Tria dan Satrio jalan yang ditempuh benar.
__ADS_1
“Sekarang aku ingin buka satu toko pakan ternak khusus binatang yang bersih. Jadi aku tidak akan jual makanan ayam seperti dedak dan segala macamnya karena nanti akan kumuh.”
“Aku ingin buka toko kecil dengan kemasan-kemasan kecil saja. Bukan untuk peternakan. Hanya untuk hewan peliharaan rumah tangga. Aku ingin jadi agen seperti itu Amang. Tapi seperti tadi aku bilang, aku ada kendala di modal awal.”
“Jadi aku ke sini berniat mengajukan pinjaman sama Amang dan Bude. Aku tidak minta. Aku akan kembalikan dalam jangka waktu tertentu dengan cara diangsur,” kata Satrio dengan lugas.
“Kenapa kamu tidak minta papa dan mamamu? Tanpa pinjaman pasti mereka memberikan,” pancing Riana. Bukan dia tidak mau memberi, dia hanya ingin tahu alasan keponakannya ini.
“Orang seperti mereka itu mindsetnya jelek. Mereka selalu apriori terhadap aku. Buat apa aku menunjukkan kelemahanku lagi di depan mereka? Mereka pasti akan bilang Tria saja bisa memenuhi kebutuhab modal tanpa aku beri. Kenapa kamu pinjam? Itu akan membuat aku menjadi lebih kecil di mata mereka. Jadi lebih baik aku cari pinjaman orang lain. Kalau Amang dan Bude tidak mau membantu, mungkin aku akan ke pinjaman online. Tapi aku sadar pinjaman online itu nanti akan mencekikku di belakang. Jadi untuk tahap awal memang aku bertanya dulu pada Amang atau Bude bisakah membantuku.”
__ADS_1