BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KETAHUAN


__ADS_3

Tak ada yang tahu bagaimana perkembangan hubungan Herry dan Tria. Mereka menyembunyikannya dari umum bahkan dari adik-adik mereka. Hari ini sudah dua minggu sejak mereka jadian.


“Bawa langsung ke rumah sakit saja kalau seperti ini. Tak bisa kita tangani dengan tim di UKS,” kata Herry melihat ada seorang siswi kelas 10 yang terluka dan sepertinya tulangnya retak saat terjatuh ketika bermain basket.


Kebetulan siswi tersebut bermain lawan kelas 12 IPS atau kelasnya Tria.


“Tapi tak ada yang bisa menyopiri mobil untuk membawa Indri ke rumah sakit. ada mobil sekolah sopirnya tak ada,” kata seorang guru piket.


“Kalau boleh biar saya yang bawa,” jawab Herry. Sejak SMP dia sudah mahir menyetir mobil walau belum ada SIM.


“Saya juga bisa,” kata Tria.


“Ya sudah kalian bawa saja yang penting nanti saya akan bertanggung jawab pada sekolah bahwa kalian memang saya izinkan karena kondisi darurat,” kata guru piket tersebut.


Herry, Tria bersama dua orang teman lelaki membawa Indri ke rumah sakit terdekat agar cepat ditangani, sepertinya Indri mengalami retak tulang di lengan kirinya akibat jatuh.


Mereka pun mengisi data diri Indri saat tiba di rumah sakit.


“Kalian tunggu sebentar di sana ya, biar kami periksa,” kata seorang suster.


“Baik Suster,” jawab semuanya. Mereka segera mencari tempat duduk di depan ruang IGD rumah sakit tersebut.

__ADS_1


“Mas, itu bukannya Mbak Fitri ya?” bisik Tria pada Herry.


Herry memalingkan wajah, benar di sana ada Mbak Fitri yang sedang menunggu giliran diperiksa atau menunggu resep. Entahlah karena itu sudah bukan di ruang poli.


“Ayo kita samperin,” ajak Herry.


“Mbak Fitri sedang apa? Sakit apa?” tanya Herry.


“Kalian ngapain di sini?” Fitri balik bertanya.


“Temannya Tria ada yang patah tulang. Aku dan dua teman lainnya membawa Indri ke sini untuk berobat Mbak,” jawab Herry.


“Mbak belum jawab pertanyaan kami loh,” desak Tria.


“Apa?” tanya Herry tak percaya.


“Ya dia hamil sejak kami pulang dari Jogja dulu,” jawab Yanto dengan senyumnya yang jarang terlihat bila tak sedang bersama keluarganya.


“Kok nggak bilang-bilang setiap kita di rumah?” protes Tria.


“Jangankan kamu, aku aja yang adik kandungnya nggak dikasih tahu,” ucap Herry keqi.

__ADS_1


“Kami memang belum ingin memberitahu. Nanti setelah agak besar baru kami akan memberitahu kalian,” kata Yanto. Sedang Fitri hanya senyum-senyum saja.


“Wah senangnya. Apa pun bayinya aku berharap Mbak dan bayi sehat saat melahirkan nanti. Aku tidak mau mendoakan ini akan dapat perempuan, karena nanti tentu kecewa kalau tidak dapat,” kata Tria bijaksana.


“Benar. Mbak juga tidak mau di USG ini perempuan atau lelaki. Sama seperti ketika hamilnya Daanish. Mbak tak mau terlalu berharap dan kecewa. Biarlah kami mendapat apa pun jenis kelaminnya. Yang penting sehat,” kata Fitri.


“Iya Mbak. Yang penting semua sehat.”


“Kami balik lagi ya Mbak. Tak enak nanti bila teman-teman mencari,” pamit Herry.


“Iya, maaf Mbak. Kami balik lagi ke IGD. Takutnya rekan-rekan kami mencari,” kata Tria menoleh tempat teman-temannya berada. Yanto dan Fitri melihat dua rekan Tria yang menunggu di kejauhan.


“Memang kalian ngapain ke sini?” kata Yanto yang tadi belum tahu alasan Herry dan Tria ke rumah sakit.


“Teman Tria sepertinya patah tulang karena bertabrakan saat sedang main basket Mas dan aku sebagai ketua OSIS yang bertanggung jawab untuk membawa mereka,” jawab Herry. Dia tak ingin Yanto mencium kedekatannya dengan Tria.


“Oh ya sudah. Hati-hati,” jawab Yanto.


“Iya Mas,” jawab Herry.


“Wah jadi ketahuan sebelum waktunya ya Yank,” ujar Yanto.

__ADS_1


“Padahal niatnya nanti malam kita mau lapor sama ibu,” ucap Fitri.


“Ya udah aku akan bilang Herry, jangan bilang Timah dan ibu dulu,” kata Yanto sambil mengambil ponselnya. Dia mengirim pesan pada Tria dan Herry jangan mengatakan sesuatu dulu pada ibu dan Timah karena mereka yang akan bicara.


__ADS_2