
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Aku ke toilet dulu ya Mas,” pamit Fitri.
“Mas temani ya,” jawab Yanto.
“Enggak usah, *koyo cah cilik wae*,” balas Fitri
“Kamu itu cah cilik yang sudah punya dua cah cilik,” ujar Yanto memandang wajah imut istrinya. Tak ada yang percaya kalau dia menikahi perempuan yang lebih tua darinya.
“Mas tunggu sini aja, sebentar kok aku enggak bakal kabur,” Fitri berseloroh pada suaminya.
Yanto pun melihat-lihat baju bayi anak perempuan, rencananya mereka besok mau jagong bayi atau menengok seseorang atau tetangga yang punya anak bayi. Kebetulan besok yang akan di tengok bayinya perempuan. Itu sebabnya tadi Fitri ngajak ke tempat baju bayi perempuan.
“Bambang kan?” sapa dua orang perempuan.
“Iya, saya Bambang,” jawab Yanto dengan ragu. Dia tak ingat dengan dua perempuan ini. Entah pernah kenal di mana.
“Lagi apa Mas? Belanja?”
“Enggak iseng lihat-lihat saja.”
“Apa khabar?” tanya seorang perempuan dari dua orang yang menegurnya itu.
“Baik, alhamdulillah,” Yanto masih saja bingung siapa kedua orang ini.
“Mas kok enggak pernah datang sih kalau acara reuni sekolah?”
“Maaf kita bareng saat kapan ya?” tanya Yanto. Alternatifnya dua, saat SD atau SMP. Karena di STM hanya ada 3 siswa perempuan dan Yanto ingat mereka karena beda penampilannya.
“Kita itu satu SMP Mas masa lupa cuma memang kita enggak satu kelas,” kata perempuan tersebut yang sekarang memanggil Yanto dengan awalan kata mas, sudah umum di Solo siapa pun dipanggil mas.
“Aku Aisyah biasa dipanggil AISY dan ini Indri. Masa Mas lupa sih? Dulu aku sering main lho ke rumahmu, apa rumahmu masih di desa Harjamukti?”
“Masihlah, mau ke mana lagi,” kata Yanto. Walaupun dia bukan di Harjamukti lagi sebenarnya. Sejak rumahnya di jual, Gendis membeli tanah di Harjomulyo.
__ADS_1
“Nanti kapan-kapan aku boleh main ke sana lagi ya?”
“Ada perlu apa ya?” tanya Yanto tak mengerti apa tujuan para perempuan ini.
“Memang ada yang larang ya Mas kalau aku main ke rumahmu?” tanya Aisy.
“Mas enggak tahu ya sejak SMP Aisy naksir kamu loh,” kata Indri, Aisy mencubit lengan Indri yang keceplosan memberitahu rahasianya. Indri tentu saja menjerit kesakitan.
“Sampai sekarang dia tetap enggak mau menikah karena nungguin kamu, katanya waktu SMA dia cari-cari enggak ketemu, ada yang bilang kamu sekolah di kota,” lanjut Indri. Kalau Aisy dan Indri SMA, Yanto STM kan? STM mah dia sudah jatuh cinta pada Fitri.
“Saat kuliah banyak yang naksir dia, tapi dia enggak mau.”
“Loh kok begitu kan enggak ada urusan sama saya,” kata Yanto mulai tak suka dengan arah pembicaraan.
“Ya ada lah Mas. Orang dia naksirnya sama kamu dari SMP enggak bisa pindah ke lain hati,” bantah Indri.
“Wah seharusnya cari yang lain saja. Saya sudah punya anak dua. Dan kalau pun belum punya, saya tak mau menikah dengan perempuan yang tak saya cintai,” Kakak Yanto.
“Ya sudah tungguin aja di sini sampai istri saya kembali, nanti saya kenalin sama istri saya ya,” kata Yanto datar.
“Mas ini serius kah?” desak Aisy tak percaya.
“Serius, saya sudah punya anak dua,” jawab Yanto tanpa ada keraguan.
“Kok aku enggak pernah tahu ya kapan Mas nikah. Kalau temen-temen nikah kan kita pasti tahu. Dan kebanyakan di usia kita menikah yang perempuan, bukan laki-laki. Terlebih sudah punya dua anak,” ucap Indri.
“Maaf saya enggak pernah bergabung di komunitas sekolah,” kata Yanto lagi Padahal waktu SMP Yanto adalah siswa yang pintar, ganteng dan kaya. Tapi memang sejak STM dia langsung tidak mau bergabung dengan teman-teman yang hanya melihat harta saja. Saat STM dia sudah jatuh miskin.
“Mana istrinya, bohong kan Mas. Itu cuma cari alasan aja,” Aisy masih saja tetap ingin meyakinkan kalau Yanto hanya berbohong.
“Aku dari tadi di sini kok Mas, aku dengar semuanya,” kata Fitri yang memang dari tadi berada di belakangnya Yanto.
“Loh Yank, kok sudah kembali enggak bilang-bilang. sudah ke toiletnya?” tanya Yanto lembut.
__ADS_1
Aisy dan Indri kaget melihat wanita cantik yang di sapa YANK oleh Bambang.
“Perkenalkan istri saya tercinta, ibu dari dua anak kami,” Yanto memperkenalkan istrinya.
“Mbak main ke rumah Yuk. Kenalan sama anak-anak kami,” kata Fitri dengan manisnya.
“Enggak percaya kan kalau Mas Bambang ini sudah punya dua anak? Ppadahal gayanya enggak gaya anak muda lho ya, dia enggak begajulan dan sudah bergaya bapak-bapak, tapi kenapa enggak dipercaya dia sudah punya anak dua ya?”
“Apa di dahinya harus aku tulis AYAH DUA ANAK gitu?” kata Fitri.
Aisy hanya diam
“Mbak cinta dari SMP kok diem aja sih Mbak? Kalau dari SMP ngomong mungkin Mas Bambangnya akan perhatiin kamu.”
“Sayangnya sejak STM aku cuma cinta sama kamu Yank,” kata Yanto.
“Jangan gitu lo. Mbaknya jadi sedih. Nanti dia patah hati karena kamu udah tinggalin dia nikah,” ucap Fitri.
“Mbak kami duluan ya, kami masih banyak yang harus dibeli. Kasihan anak-anak kelamaan di rumah sama eyangnya.”
“Oh iya,” jawab Indri. Dia jadi malu sendiri. Aisy hanya diam, dia benar-benar nangis darah karena patah hati. Sejak SMP menunggu Bambang, ternyata begitu ketemu sudah punya anak dua.
“Jadi beli yang mana Yank?” tanya Yanto melihat baju baby girl.
“Sepertinya yang hijau aja ya Mas. Biar enggak bosan karena pasti banyak yang kasih baju pink,” kata Fitri.
“Ya sudah boleh beli aja yang hijau,” jawab Yanto.
“Terus tambahannya apa?”
“Sepatunya lah yang hijau, sama topi, bajunya sudah ada bandananya hijau,” Fitri semangat memilih baju untuk baby girl.
Aisy dan Indri hanya memperhatikan pasangan tersebut.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok.
__ADS_1