
Andre sadar setelah dia semakin dekat dengan Tria dia mulai berkurang temperamen panasnya. Terlebih sejak Tria tinggal bersamanya. Andre melihat Satrio dan Tria benar-benar anak yang bisa menjaga emosi, kalau ingat bagaimana sikap orang tua mereka. Pasti mereka sangat depresi lah. Siapa sih yang nggak sedih dengan secara langsung dibuang oleh mama dan papanya?
Tapi Satrio dan Tria benar-benar bisa membalikkan situasi. Mereka malah berprestasi. Mereka menunjukkan tanpa Husein dan Riani mereka bisa survive! Itu membuat Andre juga ingin berubah. Selama ini benar dia tidak nakal ke arah yang negatif yaitu narkoba misalnya, tapi kekerasannya sudah sangat menakutkan. Sering Gultom dipanggil karena dia berantem di mana-mana. Sekarang Andre sudah mulai bisa meredam sedikit emosi. Itu adalah kemajuan besar buat dirinya.
Untungnya dia tak terlibat masalah dengan polisi. Kalau itu terjadi tentu Gultom akan sangat marah karena akan merusak reputasinya sebagai pengacara. Dan sekarang Andre sadar hal itu. Dia tak mau merusak reputasi yang papa dan mamanya bangun dengan susah payah.
“Wah biasa aku makan bunga kecombrang ini. Aku sudah biasa. Kalau buat kami di Medan dan opung juga biasa masak. Tapi tentu tak dibuat pecel seperti ini,” kata Andre dengan mata berbinar.
“Di sini juga jarang terong telunjuk. Kami di Medan biasa masak itu,” ulas Andre sambil mulai mengambil makan siang mereka kali ini.
“Terong telunjuk seperti apa?” kata Harry.
__ADS_1
“Terongnya panjang kecil berbentuk pipa bukan bulat. Makanya disebut telunjuk karena tak terlalu jauh size-nya dengan telunjuk laki-laki,” jawab Andre.
“Buah dewasa warnanya hijau garis putih dan biasa kami masak bukan buat lalap,” jelas Andra.
Tentu saja Harry senang karena sekarang dia bisa mencicipi pecel yang Herry bawa. Dia tadi hanya membawa sedikit lontong. Harry sudah pesan pada pembantu di rumahnya untuk membelikan lontong dan dia hanya membawa lima saja buah saja.
“Ternyata makan dengan bakwan saja enak ya,” kata Tria.
“Kemarin mas Yanto ngidamnya seperti itu. Dia makan pecel hanya dengan bakwan saja tak pakai nasi atau lontong,” jelas Herry sambil menambah kerupuk yang Tria bawa.
“Ya seperti itulah. Katanya sih karena terlalu cinta sehingga disebut kehamilan simpatik, kalau dalam bahasa Inggrisnya apa aku lupa tapi seperti itulah,” ungkap kata Herry.
“Memang suaminya yang ngidam, Mbak Fitri memang tidak merasakan ngidam atau muntah-muntah suaminya yang merasakan itu jadi memang ditukar.”
__ADS_1
“Malah enak ya kalau seperti itu. Mbak Fitri konsentrasi pada kesehatan bayi dan tubuhnya sendiri,” ujar Tria.
“Iya memang seperti itu. Karena yang aku tahu banyak ibu yang kesulitan ketika hamil. Dia tidak bisa makan atau selalu muntah,” kata Andre.
“Itu yang dialami kakakku. Dia sampai bedrest dan kakak juga harus kehilangan bayi pertamanya karena kondisinya sangat lemah. Pada saat bayi kedua dia dua kali dirawat di rumah sakit,” kata Harry. Kakaknya baru melahirkan 3 bulan lalu dan dia membeli kambinga aqiqah pada Timah.
“Satu kata untuk kejadian itu! Itu adalah peringatan bahwa kita harus selalu hormat pada ibu karena penderitaannya ada sejak kita dalam perut,” kata Herry. Dia tak sadar, Tria paling sensitive kalau bicara kasih sayang ibu. Karena dia tak merasakan kasih sayang tulus seorang ibu.
“Benar Alhamdulillah kita semua bukan anak yang pembangkang. Walaupun ada adikku yang ibunya tidak mengerti bahwa dia membangkangnya bukan karena membenci sang ibu tapi karena kelakuan ibunya.” kata Andre.
“Itu manusiawi,” kata Harry.
“Semua manusia pasti ada yang buruk. Kebetulan Tria mendapat ibu yang kurang baik yang hanya mencintai satu anak dan tidak atau kurang mencintai yang lainnya. Tapi aku yakin dia tidak akan seperti itu,” lanjut Harry.
__ADS_1
“Aaamiiin,” kata Tria dan Andre bersamaan. Herry hanya menjawab Aaamiiin dalam hatinya. Dia yakin Tria akan menjadi ibu yang baik dan Herry berharap semoga Tria adalah jodohnya.