
“Kamu bareng naik motor aku?” tanya Andre pada Tria.
“Enggak Kak, aku sendiri saja. Karena nanti kalau Kakak punya keperluan ke kanan dan aku punya keperluan ke kiri saat pulang sekolah malah repot. Kalau memang kita sama-sama satu keperluan terus, nggak apa-apa. Tapi kalau nggak, itu jadi beban salah satu. Biar saja aku tetap seperti ini. Berangkat dan pulang sendiri. Nggak masalah. Paling kita jalan bareng saja,” jawab Tria pada Andre.
“Ayo kita jalan,” ajak Satrio yang sudah siap tempur di hari pertama semester ini.
“Kamu nggak lupa bawa bekalmu?” tanya Tria.
“Enggak dong. Aku bawa bekal, pepesnya sudah aku buka bungkus daunnya,” ucap Satrio.
“Mbak bekal apa?” tanya Satrio pada Tria. Maklum Tria hari pertama belum berkegiatan penuh seperti dirinya. Jadi mungkin kakaknya merasa tak perlu bawa bekal.
“Sama ama kamu. Mbak juga bawa 2 pepes dan plecing kangkung yang uji coba tadi pagi sama lauk kerupuk deh,” balas Tria. Mereka memang menyediakan sendiri apa yang mau mereka bawa dan berapa banyak. Sehingga wajar Satrio tanya apa yang dibawa Tria. Bila disiapkan oleh ibu atau pembantu tentu dibuat sama. Tapi mereka memang tak disiapkan. Jadi sesuai selera dan kebutuhan mereka.
“Aku jadi dibikinin kan?” tanya Andre.
__ADS_1
“Ya. Sudah aku bikinin sama kok sama buat punya aku. Tapi mulai besok semua yang bawa-bawa bekal itu bikin sendiri-sendiri. Jadi kalau mau bawa bekal ya bikin! Aku sama Satrio saja masukin sendiri-sendiri kan tinggal masukin saja nggak perlu masak,” jawab Tria.
“Bener banget. Karena kan porsi makan kita beda, terus aku juga tadi selain kerupuk aku tambah tempe pastinya. Terus aku juga bikin roti buat istirahat pertama. Karena nasi nanti aku bikin buat istirahat kedua,” kata Satrio.
“Perut kita nggak sama jadi memang harus bikin sendiri seperti contoh dari Timah dan Herry. Mereka tetap bawa sendiri-sendiri kecuali jus tinggal ambil saja.”
“Eh, kamu bilang juice, aku lupa belum bawa juice,” kata Tria sambil lari ke dalam.
“Aku mau juga dong jusnya,” seru Andre.
“Nanti siang semua aku ambil kok,” kata Tria.
“Sekalian aku ngambil beberapa baju. Jadi sedikit-sedikit aku bawa ke sini.”
“Aku nggak tahu siang ini bisa ke sana enggak. Aku ada jadwal pelatihan untuk masyarakat dekat sekolah. Aku ragu kalau harus ke rumah kandang sepulang kegiatan, karena takutnya sudah sore ada mama dan papa. Aku malas ketemu mereka,” kata Satrio.
__ADS_1
“Kalau mau ke sana jam pulang sekolah saat mereka nggak ada. Ambil barang-barang lalu nongkrong di kandang sampai sore itu nggak masalah,” ucap Tria.
“Hari ini aku belum yakin mau ke sana.”
“Enggak apa-apa yang penting jus sudah dibawa semua jadi tiap hari kita bisa bawa jus.”
“Dan ingat ya Kak Andre, tempat makan dan botol bawa pulang lagi. memang botolnya murah, tapi kalau tiap hari dibuang itu juga perusakan lingkungan dan pemborosan. Jadi tiap hari bawa pulang,” kata Satrio.
“Siap! Semoga aku nggak lupa,” balas Andre.
“Untuk tahap awal mungkin belum biasa. Kita masih kasih toleransi. Tapi kalau terus-terusan ya nggak ada toleransi lagi lah,” kata Tria.
Mereka pun jalan bertiga persamaan ke sekolah, nanti di sepertiga jalan Satrio pisah karena sekolahnya berbeda arah dengan Tria dan Andre.
__ADS_1