BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
GIGIH


__ADS_3

DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Siang ini, Fitri sengaja menunggu Bambang di depan sekolah Bambang.



"Ngapain kamu ke sini?" Tanya Bambang bingung karena anak majikannya malah nungguin dia.



"Enggak boleh ke sini karena ada ceweknya di sini kan?" Bukan menjawab, Fitri malah menuduh dia dilarang ke sekolah karena Bambang tak ingin ketahuan pacarnya.



"Kita bukan mau cari ribut seperti itu,  saya tanya kamu ngapain ke sini? Harusnya kamu kan kuliah."



"Enggak ada kuliah." Jawab Fitri ketus.



"Trus mau ngapain enggak kuliah koq malah ke sini?"



"Mau nuntasin yang tadi malam,"



"Tadi malam saya sudah jelaskan kan. Kurang apa lagi? Dan semalam yang banting pintu kamar saya siapa?" sahut Bambang masih sabar.



"Kenapa jadi SAYA KAMU lagi ya? Kenapa jadi kembali mundur?"



"Terus gimana? Aku harus ngomong apa?" Bambang makin tak mengerti apa maunya Fitri.



"*Wedokanmu po mBang*?"



"*Koq ra dikenalke pacare mBang*?”



Beberapa rekan menggoda Bambang. Meminta dikenal kan dengan Fitri yang dikira pacar nya Bambang.

__ADS_1



"Pindah yuk, di sini kan jadi bikin heboh karena kehadiranmu."



"Kamu malu kan aku datangin," Fitri malah menyulut emosi Bambang.



"Siapa yang malu? Cuma orang jadi ngira yang nggak nggak. Ya sudah pulang aja yok."



"Kita ngomong dulu," Fitri menolak pulang.



"Enggak ada yang perlu diomongin."



Fitri ngotot tak mau langsung pulang.



"Mau apalagi?"




"Aku harus maju masa terus-terusan begini?"



"Apa mungkin karena jadi sopir pribadi itu nggak ada prestise-nya?" Desak Fitri.



" Bukan soal ada atau nggak ada prestise,  tapi aku ingin berkembang. Aku butuh dana banyak. Adik-adikku butuh sekolah dengan lebih banyak biayanya, kamu ngertiin itu," kata Bambang. Mereka sekarang di warung bakso.



"Aku bisa kasih kamu lebih," ujar Fitri.



"Enggak seperti itu,  bukan soal di kasih lebih. Aku kepala keluarga, aku harus menghidupi kedua adik dan ibuku. Aku sudah minta Ibu berhenti kerja. Ibu sudah sakit-sakitan kasihan kalau Ibu terus kerja."



"Oke kalau memang itu maumu. Aku terima kamu berhenti kalau kamu sudah terima ijazah," Fitri menawar keputusan Bambang.


__ADS_1


Fitri berpikir kalau belum ada ijazah, Bambang kan masih kerja serabutan. Bukankah lebih baik dia jadi sopir yang gajinya sudah pasti.



"Oke baik aku akan tunggu sampai aku terima ijazah.  Habis itu aku berhenti," jawab Bambang.



"Biar aku aja," cegah Fitri saat Bambang akan membayar bakso yang mereka makan.



"Biar aku. Aku yang bayar atau aku keluar dari rumah kostmu." Ancam Bambang.



"Baiklah,"  jawab Fitri, dia pun mengalah dibayarin Bambang.



"Please jangan pernah berpikir aku hanya sopir dan aku anak kost jadi aku nggak bisa bayarin."



"Apa selama ini kamu selalu bayarin teman kencan mu?" Tanya Fitri.



"Aku enggak pernah kencan tapi aku sering bayarin beberapa teman. Aku enggak mau dipandang sebelah mata karena aku orang desa dan tak punya orang tua. Aku punya penghasilan kok, aku bisa traktir mereka," Fitri pun diam.



Mereka naik becak sampai rumah karena memang sekolah Bambang tidak jauh dari rumah kost. Biasanya jalan kaki sih tapi Bambang kasihan kalau Fitri harus jalan kaki ke rumahnya.



Gadis seperti Fitri tentu jalan kaki sejauh itu cukup lumayan tidak seperti Bambang yang memang biasa jalan kaki.



"Kok naik becak bareng Bambang?" tanya  Bu Erlina ke Fitri.



"Aku ke sekolahnya Bambang buat bujukin dia buat balik jadi sopir aku. Ya paling tidak sampai dia selesai ujian habis itu sehabis diterima ijazah dia boleh berhenti," kata Fitri.



"Berhasil?"



"Berhasil lah," Bu Erlina melihat kegigihan Fitri untuk terus disopiri oleh Bambang.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel yanktie yang lain dengan CINTA DITOLAK DUKUN SANTET BERTINDAK  yok

__ADS_1



__ADS_2