
“Ini enak banget,” kata Tria.
“Aku tahunya belut itu yang kecil-kecil dan biasanya kami beli itu kayak keripik. Apa ya, pokoknya disebutnya keripik belut gitu lah. Digoreng garing pakai tepung gitu. Dan belutnya cuma terasa tulangnya saja karena sangat kecil, seperti nggak ada dagingnya. Tak seperti ini,” ulas Tria lagi.
“Memang beda. Belut seperti itu pembelinya biasanya khusus orang-orang pengrajin peyek belut atau keripik belut. Mereka mengambil size belut yang masih sangat kecil.”
“Dan kalau yang dibikin abon belut mereka minta yang size besar-besar sekali, karena kami juga menyediakan yang seperti itu. Seperti juga abon lele. Mereka minta size yang super jumbo. Jadi kami bikin sampai 3 atau empat kali size normal yang biasa ada di pasar,” jelas Herry.
“Aku tahunya kalau belut hanya itu. Bahkan digoreng pun di rumah tak pernah merasakan, karena nggak pernah masak belut,” jawab Tria.
Hari ini Fitri memang sengaja bikin pepes belut kesukaan suami dan anak-anaknya. Sedang patinnya dia bikin kuah asam. Hanya dua masakan itu yang mereka buat hari ini. Tentu dengan tambahan sambal tomat mentah dan tempe goreng serta beberapa lalapan dari kebun. Menu sederhana untuk makan siang mereka satu keluarga ditambah Tria.
“Terima kasih lho Mbak ilmunya. Aku akan coba besok,” kata Tria lagi.
“Iya kamu bawa saja bahan bakunya. Untuk kamu coba di rumah besok,” kata Fitri.
__ADS_1
“Siap Mbak, sama yang penting belimbing wuluh. Kayanya belimbing wuluh aku takut nggak dapat di warung,” balas kata Tria tanpa malu.
“Belimbing tinggal petik saja Mbak di belakang. Aku tadi juga petik koq,” timpal Timah.
“Siap Dek, nanti ingatin aku ya untuk petik belimbing dulu sebelum pulang. Secukupnya saja jadi nggak banyak yang ke buang. Sayang kalau samppai bersisa banyak,” Tria terus bicara tapi sambil menikmati makanan yang menggugah selera itu.
“Iya benar. Petik seperlunya saja,” kata Bu Gendis.
“Bukan nggak ngasih. Tapi memang sayang kalau terbuang. Di sini biasa Ibu panen kalau buahnya banyak. Lalu Ibu berikan ke tukang sayur gratis biar mereka bisa jual. sayang kalau banyak yang rontok tanpa bisa digunakan.”
“Buat apa? Masa Ibu Jual satu kresek gitu? Biar saja digunakan oleh penjual sayur nggak perlu Ibu yang jual.” jawab Gendis dengan tersenyum.
“Wah ini juga enak banget Mbak. Aku beneran baru ngerasain sayur ikan dimasak asem seperti ini,” kata Tria pada Fitri.
“Mbak juga waktu itu berkata seperti itu Dek. Benar-benar norak banget kan kita berdua ini?” kata Fitri. Yanto hanya tersenyum-senyum mendengar kata-kata istrinya. Dia ingat bagaimana ekspresi Fitri saat pertama kali makan pepes patin dan kuah asam ketika gadis itu datang pertama ke desa. Patinnya pun Fitri beli tak sengaja saat jalan-jalan bersama Timah dan ada yang sedang panen di tambaknya.
__ADS_1
“Mungkin sama noraknya sama aku, kalau aku makan steak atau makan sesuatu yang buat kalian itu biasa,” kata Timah.
“Benar,” kata Gendis dengan bijaksana.
“Semua itu tergantung kebiasaan kita saja. Waktu Ibu hidup di Singapura juga seperti itu. Kadang Ibu bingung yang tak ada harganya di sini di sana di puja-puja dan di bangga-banggakan, sedangkan yang di sana tak ada artinya di negara kita itu sangat berharga. Jadi itu semua karena kebiasaan dan lingkungan saja,” kata Gendis.
“Ya benar,” kata Yanto.
“Seharusnya seperti itu bukan dijadikan ejekan. Banyak orang mengejek suatu hal yang dia anggap biasa padahal buat orang lain wah!”
“Iya, makanya aku bilang kan, aku yang norak. Bukan orang lain,” kata Fitri dengan lembut. Dia paling tak suka membully orang.
“Iya Mbak. Memang seperti itulah yang kita rasakan,” Tria pun setuju dengan pendapat Fitri.
Herry malah hanya diam melihat semua yang di meja makan itu bicara. Dia hanya tak percaya Tria malah sudah bisa masuk ke dalam obrolan keluarganya dengan hangat.
__ADS_1