
Timah mengajak Satrio mampir ke tambaknya Herry. Dia menjelaskan tentang pagar dari listrik yang diberi tegangan rendah untuk kejutan bagi maling yang masuk. Kabel kejutan listriknya itu ditaruh di pagar sebelah dalam bukan pagar luar. Jadi siapa pun yang menyentuh pagar luar tidak akan terkena sengatan listrik tersebut. Bila masuk tanpa izin pasti akan kena dampak sengatan tersebut. Itu memang di buat khusus untuk maling saja.
“Yang kemarin terkena dampak kasus racun apa tambak ini?” tanya Satrio.
“Oh yang di sebelah sana, bukan yang ini. Ada satu tambak yang diracun oleh temannya Mbak Tria,” kata Timah. Rupanya tambak itu tidak terlewat kalau dari arah rumah Suradi ke rumah Gendis. Jadi Timahtidak mampir ke tambak tersebut.
“Ayo masuk Mas,” ajak Timah ketika sudah sampai ke rumahnya.
“Kenalkan itu Mas Herry,” kata Timah pada Satrio. Satrio dan Herry pun saling berkenalan.
__ADS_1
“Ibu ini Mas Satrio, adiknya Mbak Tria,” kata Timah kepada Gendis. Satrio pun memberi salam pada Gendis dengan hormat. Dari cerita Timah tadi, Satrio sangat kagum pada ibu tegar ini. Pernah menjabat sebagai kepala kantor cabangnya di Singapura, begitu bangkrut dia tak malu jadi buruh cuci baju.
Timah juga mengenalkan Satrio pada Mbak Fitri. Saat itulah Yanto masuk. Dia baru pulang kerja. Satrio melihat kehangatan hubungan suami istri antara Yanto dan Fitri. Dia lihat Fitri memberi salim pada suaminya yang Satrio tahu usianya lebih muda sang suami.
“Lho kalian kok baru masuk rumah? Bukannya pulang dari tadi?” tanya Yanto.
“Iya Mas. Tadi kami ke rumah yang ada kandang ayamnya dulu, juga ngelihat ke tambak baru ke sini,” jawab Satrio karena saat itu Timah sedang berganti pakaian.
“Sudah Mbak. Tadi saya sudah ke sana,” jawab Satrio lagi.
__ADS_1
“Saya juga sudah lihat tambaknya yang kita lewatin saja. Karena tadi Timah bilang kalau yang nggak dilewatin besok-besok saja. Takut buang waktu.”
“Ayo Mas kita ke kebun,” kata Timah yang sudah berganti pakaian. Saat ini dia memakai t-shirt sederhana dengan celana di bawah lutut.
‘Kamu sangat manis dan menggemaskan,’ kata Satrio dalam hati melihat penampilan anak kecil itu.
“Ini lho kandang kambing aku. Dulu Aku mau dibelikan sepeda oleh ayah. Tapi aku tidak mau karena aku pikir sepeda itu tidak bisa berkembang biak dan tidak bisa menghasilkan. Bukan aku tidak butuh, tapi aku pikir aku lebih baik punya sesuatu yang bisa berkembang biak dan bisa dijual saat aku butuh buat sesuatu hal. Awalnya ayah cuma beliin aku 3 ekor yaitu satu jantan dan 2 indukan betina.”
“Tapi sebelumnya ayah sudah bikinkan kandang seperti ini. Kandang ini bukan seperti kandang biasa Mas. Jadi dibuat kemiringannya lantainya. Lihat deh lantainya miring, lalu nanti penampungannya langsung ke bak penampungan tersendiri. Di bak penampungan nanti kotoran terpisah. Kotoran padat dengan kotoran cair akan tersaring. Nah kotoran cairnya kita gunakan buat menyiram semua pohon di sini atau di rumah ayah Suradi. Kadang ada beberapa tetangga yang minta, tapi tidak tiap hari. Kami berikan secara gratis. Begitu pun kotoran kambingnya.”
__ADS_1
“Kalau kotoran kambing itu bisa dijual Mas. Kita jual per bagor kalau di sini atau kita bilang per karung. Sudah ada pengepul yang ngambil. Jadi kita enggak gotong lagi. Kita tinggal beli bagor bersih setiap panen. Biasanya aku beli langsung satu atau dua kodi sekalian. Tinggal masukin pada saat panen kotoran,” kata Timah