BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TAMU UNDANGAN WIJOYO


__ADS_3

Hari ini kelulusannya Herry dari SMP. Setelah diskusi panjang dengan Fitri dan Yanto akhirnya Herry memutuskan masuk SMA tidak seperti sang kakak yang masuk di STM. Selain tabungannya untuk sampai di kuliah juga cukup, Herry, Yanto dan Timah sekarang sudah punya usaha sehingga tidak ketakutan bila harus putus sekolah tidak seperti Yanto dulu yang harus cari makan untuk keluarga ketika masih STM. Sekarang untuk makan mereka sudah tak kesulitan lagi.


“Mas enggak pengin kuliah?” tanya Fitri saat malam hendak tidur. Dia bicara ketika mengetahui Herry sudah langsung diterima di SMA favorit tanpa test karena prestasinya sangat bagus.


“Enggak Yank, cukup lah. Sekarang mengejar kuliah buat apa? Kecuali aku mau kerja di tempat orang lain atau instansi pemerintah uang butuh ijazah.” jawab Yanto.


“Bukan cuma soal uang yang Mas pikirkan. Tapi waktu akan terbuang banyak. Waktu yang seharusnya bisa buat Daffa dan Daanish. Mas tak mau mereka kehilangan waktu berharga mereka denganku,” jawab Yanto.


“Apa kamu malu punya suami hanya tamatan STM seperti aku sedang kamu sarjana?” tanya Yanto. Kalau memang itu dasar pemikiran Fitri, dia akan kuliah agar istrinya tak sedih sepanjang hidup rumah tangga mereka.


“Enggak Mas, enggak begitu. Aku berpikir kamu menyesal karena enggak sempat kuliah, maka aku mikir kamu mau melanjutkan kuliah saat ekonomi kita sekarang sudah sanggup membiayai kamu.”


“Enggak Yank, aku enggak menyesal, karena dengan jerih payah tanganku adik-adik bisa makan dan sekolah dulu saat kami kesusahan. Itu merupakan kebanggaanku. Aku yakin mereka enggak akan pernah lupa dan aku tidak minta balasan apa pun. Yang aku minta mereka sukses itu saja.”


“Aamiiiin,” jawab Fitri. Dia setuju dengan suaminya. Sekarang waktu mereka hanya untuk Daanish dan Daffa.


Sudah 10 hari sejak kasus bergulir. Fitri masih belum mencabut laporan tapi memang belum diteruskan untuk jadi pengajuan perkara. Fitri menunggu sampai Aisy kalau kabut karena sampai saat ini baru satu kali Aisy bisa bertemu dengan ibu Nurbaiti.

__ADS_1


Maklum ibu itu memang mengulur waktu. Sengaja tidak bisa ditemui agar tidak ada negosiasi. Padahal itu adalah strateginya dia sebagai seorang pengacara. Dia tahu bagaimana membuat Aisy kalang kabut.


Ibu Nurbaeti tahu kasus itu tidak akan diteruskan oleh Fitri, hanya sebagai shock terapi saja.


“No kamu sama Ningrum besok ke rumah ya,” pinta Wijoyo melalui telepon pada adik kandungnya.


“Ada apa Mas?” Darno tentu bertanya agar tak salah taangkaap.


“Aku ingin makan malam kejutan saja,” ucap Joyo.


“Kamu tolong minta Ningrum masak untuk 10 orang diam-diam tanpa Menik tahu. Nanti kamu bawa sudah matang semua termasuk nasi. Uangnya aku transfer ke rekeningnya kamu atau rekening Ningrum.” Wijoyo meminta adik iparnya yang menyiapkan hidangan bagi para tamu dadakannya.


“Ningrum aja yang ngatur terserah dia, pokoknya untuk 10 orang dan enggak malu-maluin,” jawab Joyo.


“Baik Mas,” jawab Darno. Walau dia tak mengerti apa tujuan masnya tapi dia akan menerima tugas tersebut.


Menik tak menyangka hari ini kedua orang tuanya datang, suatu hal yang jarang karena sejak dulu Menik tak terlalu dekat hubungannya dengan kedua orang tuanya. Sejak dia menolak dijodohkan dengan Wijoyo dulu.

__ADS_1


“Tumben Romo sama Ibu rawuh,” kata Menik dengan tak mengindahkan toto kromo.


“Kamu memang tak pernah sopan. Orang tua datang kok dibilang tumben.” kata romonya yang sudah lumayan sepuh.


“Lah memang kenyataannya toh,” jawab Menik santai.


“Kamu memang tidak waras. Harusnya kamu yang sebagai anak datang ke tempat kami,” jawab ibunya dengan ketus.


Wijoyo salim pada kedua mertuanya, saat itu juga datang dua adik Menik satu perempuan dan satu lelaki yang masing-masing bersama pasangannya.


Tak lama kemudian datang Darno beserta Ningrum yang membawa makanan untuk makan malam. Dari tadi datang tamu pun Menik tak berpikir untuk menyiapkan makan malam.


Aisy tiba dari kantor di rumahnya ada Mbah Kakung dan Mbah Putri serta para pakeik dan buleknya. Kebetulan Bapak dan ibu Aisy sama-sama anak sulung.



__ADS_1


![](contribute/fiction/7055660/episode-images/1691140498825.jpg)


__ADS_2