
“Apa Fitri tahu soal ini?” tanya Yanto pada mertuanya.
“Ayah sudah bilang pada Ibu, ceritakan saja nggak apa-apa. Itu semua masa lalu kami berdua. Kami sudah menyadari kesalahan kami, tapi Ibu tidak mau menceritakan katanya itu adalah aibnya Ayah. Ibu tak ingin Fitri mengalaminya. Tapi kalau cerita ke kamu memang Ibu waktu itu pernah bilang seharusnya diceritakan ke kamu agar kamu mawas diri tidak tergelincir seperti Ayah.”
“Insya Allah saya akan berupaya selalu menjaga hati saya. Saya mohon Ibu dan Ayah juga membantu saya berjalan lurus. Beri tahu saya bila saya mulai terlihat menyimpang atau sedikit miring jalannya,” kata Yanto sebelum dia pulang. Tadi dia sudah mendapat izin untuk pergi honeymoon sehabis adik-adik dapat raport.
“Nanti Ayah dan Ibu juga akan menjaga anak-anak,” ucap Suradi.
“Menjaga nggak perlu sih Bu, Yah. Karena siang sudah banyak orang dan TiMa juga mau bawa teman-temannya untuk main ke rumah saja. Jadi dia tidak keluar selama awal liburan. Sehingga aku yakin nggak kekurangan orang,” kata Yanto.
“Yang penting aku sudah pamit sama Ayah dan Ibu. Jadi Ibu tahu apa tujuan aku untuk pergi liburan kali ini. Karena selama menikah memang Fitri-nya yang tidak mau diajak pergi. Ini saja dia nggak berani pergi jauh. Alasannya takut kalau ada apa-apa kami tidak bisa langsung meluncur pulang. Jadi dia hanya maunya ke Jogja saja,” kata Yanto.
__ADS_1
“Untuk tahap awal kamu ikuti saja seperti itu,” kata Suradi.
“Nanti pasti di waktu berikutnya bisa lebih jauh.”
“Iya Yah. Aku juga berharap seperti itu. Untuk tahap awal dia mau meninggalkan rumah saja itu sudah hal yang sangat bagus,” jawab Yanto.
“Mau jalan ke mana Ma?” tanya Yanto saat mereka sudah selesai makan.
“Oke siapa takut? Nanti begitu lapar kita jajan lagi ya?” kata Yanto menggoda istrinya.
“Kayaknya sampai di titik nol kita bisa beli wedang ronde deh Pa. Kan sudah turun makanan yang barusan kita isi ke lambung,” balas Fitri.
__ADS_1
“Apa di titik nol ada penjual? Kan sekarang daerah Malioboro sampai titik nol ini tidak ada asongan apa pun?” jawab Yanto.
“Iya juga ya? Belum tentu di titik nol ada wedang ronde.”
“Mungkin kalau masuk sedikit ke arah ALUN-ALUN LOR bisa jajan Ma. Di alun-alun lor walaupun tidak seramai alun-alun kidul tapi banyak pedagang. Yang pasti di sana ada wedang ronde.” kata Fitri selanjutnya.
“Iya kalau alun-alun kidul kan memang dikondisikan untuk tempat wisata sejak dulu. Kalau yang lor kan tidak,” kata Yanto.
“Kalau alun-alun kidul itu bisa memutari lapangannya, kalau yang lor kan tidak karena kepentok dengan lokasi Taman Sari atau lokasi apa pokoknya sudah masuk ke keratonnya. Sehingga tidak bisa dikelilingi alun-alunnya,” kata Yanto lagi.
“Ya udah yang penting kita bisa isi perut lagi, nanti kalau kita sudah lapar,” kata Yanto lagi. Mereka pun berjalan ke arah titik nol kota Jogja. Apa pun yang mereka lihat, langsung mereka bahas. Pokoknya semua di luar kerutinan.
__ADS_1