
Sejak tadi Suryono atau Suryo mencatat semua apa yang Fitri ucapkan.
“Ini fotocopy tentang laporan polisi kami, ini fotocopy laporan pada perangkat desa dan ini fotocopy hasil pengecekan laboratorium dari petugas penyuluh pertanian dan peternakan desa,” kata Yanto sambil memberikan berkas yang dia sebut barusan. Yanto memberikan berkas tersebut pada Bu Nurbaiti dan Suryo, masing-masing pegang satu bundel.
“Kemarin katanya punya data tentang Tria?” tanya bu Nur.
“Saya hanya tahu nama serta beberapa poin penting ini Bu,” kata Yanto memberikan tentang data diri Fitriani.
“Baik kalau seperti itu, nanti akan kami cek. Ini bapaknya pejabat di departemen keuangan Solo?” tanya Suryono sambil memandang berkas yang ada di tangannya.
“Benar seperti itu yang saya dapat infonya,” jawab Yanto.
“Kalau yang tentang Totok-nya belum tahu?” tanya bu Nurbaiti.
“Kalau info tentang Totok belum ada data nanti bisa kita lacak. Maaf saya akan main ekstrem sedikit,” kata Suryo.
__ADS_1
“Maksudnya bagaimana ya?” kata Yanto.
“Tenang aja, saya tidak akan cari Totok secara langsung, tapi nanti orang tua Tria yang akan bertindak menembak Totok,” ulas Suryo.
“Nah ini nih liciknya anak kecil ini,” kata Bu Nurbaiti.
“Dia selalu bermain seperti ini, sasaran kita diberikan kepada orang lain jadi bukan kita yang nembak tapi orang lain yang akan nembak. Dia tenang-tenang aja main bersih. Kalian lihat aja, jadi kalian jangan kaget kalau nanti agak belok dikit dulu baru ketemu siapa pelakunya,” kata Bu Nurbaiti.
“Wah asyik nih kalau mainnya seperti itu, tapi ngomong-ngomong kita makan dulu Bu. Ikan bakar patin dan sambalnya sudah menanti,” kata Fitri mengajak 2 tamunya untuk makan siang. Tentu saja Bu Nurbaiti tidak menolak dia memang ingin merasakan makanan yang Yanto masak.
“Maaf ya ini kalau mblenger. Menunya benar-benar HANYA patin. Mas Yanto bikin ikan bakar patin sesuai request bu Nur, dengan sambal dan lalapannya. Lalu sayur kuahnya adalah asam pedas patin. untuk tambahan lauknya ada pepes patin. Jadi bener-bener hanya patin nih,” kata Fitri di meja belakang yang mereka gunakan untuk makan siang kali ini.
“Makanya ayo Bu kita makan, jangan menunda dan ingat nasi masih banyak di magic jar, kalau memang butuh tambah,” kata Fitri.
Tanpa malu Suryo langsung mengambil piring dia menunggu Bu Nurbaiti ambil nasi.
__ADS_1
Fitri mengambilkan nasi untuk Yanto lalu dia berikan satu potong pepes ditambah sambal dan lalapan.
“Wah Bu Erlina benar-benar nggak salah ngomong. Ikan bakarnya maknyus, ternyata pepesnya juga enak. Tinggal nanti bagaimana yang sayur kuahnya. Ini benar-benar pepes dan ikan bakarnya nggak ada tandingan. Saya baru merasakan ini,” kata Bu Nurbaiti. Mereka pun makan siang dengan lahap.
“Terima kasih makan siangnya ya dan jangan kapok ngajakin makan lagi entah makan siang atau makan malam,” kata Suryo.
“Perasaan kemarin yang minta lauk saya, kenapa jadi kamu yang keenakan?” kata Bu Nurbaiti pada anak buahnya.
“Masalahnya makanannya itu nggak umum Bu. Daripada kita makan di resto besar belum tentu senikmat ini. Tiga lauk dari patin ini benar-benar tak akan terlupakan. Sebenarnya masakan sederhana tapi nikmat banget karena rasanya juga beda,” kata Suryo.
“Di kesempatan lain kita makan menu belut dari tambak ya,” ucap Yanto.
“Nah, ditunggu undangannya Pak,” jawab Suryo.
“Oh iya Pak Yanto, tidak apa-apa kan saya menghubungi ke nomor personalnya. Bukan ke nomor bengkel?” kata Suryo.
__ADS_1
“Nggak apa-apa. Biasa saya pakai nomor itu juga buat ke Bu Nurbaiti. Begitu pun Fitri. Untuk masalah ini pakai nomor personal juga nggak apa-apa,” kata Yanto.
“Dan jangan panggil Pak lah, kesannya saya tua banget. Panggil dek aja,” goda Yanto. Tentu saja mereka semua tertawa.