
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Yanto menarik napas panjang mendengar pertanyaan ibu kandungnya.
“Jangankan menyentuhnya, melihatnya aja aku sudah malas Bu. Ibu tahu untuk menyentuh Fitri yang sudah resmi secara agama dan negara aja aku butuh waktu lama. Padahal kamu saling mencintai. Terlebih-lebih dengan guling bulat yang aku tidak cinta. Mana mungkin aku langsung bisa menyentuhnya.”
“Burhan tahu bagaimana aku dan dia mengatur siasat. Kami memang akan melakukan tes DNA setelah bayi itu lahir. Kami sedang menunggu waktu, aku sama sekali tak pernah merasa dia istriku, walau istri siri sekali pun.”
“Tapi kalau dia masih jadi istrimu, tentu kamu harus menanggung biaya melahirkan juga biaya yang lainnya misal segala perlengkapan bayi dan lainnya,” pancing Gendis.
“Ya biaya lainnya pasti aku harus tanggung Bu. Tapi memang aku sedang menunggu untuk tes DNA, karena aku yakin itu bukan anakku. Untuk biaya tes DNA serta melahirkan aku sudah menabung. Aku titipkan uang tersebut di Burhan karena aku tak ingin nanti saatnya butuh aku bingung cari. Aku juga tak mau mengganggu gugat uang yang memang akan aku gunakan untuk usahaku.”
“Rencananya setelah aku dapat hasil test DNA aku akan tuntut dia dengan kasus perbuatan tak menyenangkan, penipuan juga akan minta ganti rugi semua kerugian yang aku alami. Baik kerugian materi maupun kerugian non materi. Semua sudah aku dan Burhan perhitungkan.”
“Jadi benar sejak menikahinya kamu tak pernah menyentuhnya?” tanya Gendis lagi.
”Demi bayi yang ada dalam kandungan Fitri ini Bu, aku bersumpah aku tak pernah menyentuh dia sejak sebelum menikah maupun setelah dia sudah resmi menjadi istri siriku. Tak pernah satu kali pun aku berpikiran mempunyai perempuan lain selain Fitri.”
“Fitri cinta pertama dan terakhirku Bu. Aku mencintai dia sejak kelas 2 STM. Aku hanya berani memandangnya karena dia putri majikanku. Dia juga lebih kaya, bagaimana mungkin aku berani mencintai orang yang derajatnya lebih tinggi?”
“Aku hanya bisa mengharapkan dia bahagia, itu saja harapanku saat itu. Aku tak berharap bisa memilikinya, tak pernah aku merasa aku akan mendapatkan putri yang sangat aku idam-idamkan,” kata Yanto dengan jujur.
__ADS_1
Gendis dan Yanto tidak sadar saat itu Fitri mendengar semua pembicaraan mereka berdua. Ada bulir air mata yang jatuh dan mereka tidak lihat. Fitri sangat bahagia mengetahui suaminya tak pernah melakukan hal yang buruk di belakangnya.
Siangnya Suradi dan Erlina datang, mereka kaget mendapat berita dari suster bahwa Fitri kembali dirawat karena kondisinya lemah dan muntah-muntah. Setelah diceritakan mengapa Fitri bisa muntah mereka baru mengerti. Tentu saja Yanto merasa bersalah.
“Kamu jangan seperti itu, kamu pergi untuk periksa ‘kan bukan kemauanmu,” kata Suradi.
“Fitri tak boleh ikut ke tempat periksa juga bukan kemauanmu. Jadi kalian berdua enggak salah.”
“Nanti selanjutnya kalau kamu harus periksa, mungkin sebaiknya Fitri ikut. Biarkan dia di depan ruang periksa enggak usah masuk tapi enggak terlalu jauh, jadi enggak seperti ini,” kata Suradi lagi.
“Semoga aja tadi pemeriksaan terakhir.” harap Yanto.
“Aamiiin,” jawab Suradi.
“Kalau kamu boleh pulang, tentu Fitri juga akan ikut pulang. Memang sebaiknya kalian di rumah saja. Tidak ke mana-mana dulu,” pinta Erlina.
“Ibu tadi bawa apa?” tanya Fitri out of topic.
“Ibu bawa singkong goreng yang MEKROK. Kamu kan suka singkong goreng yang mekrok,” ucap Erlina.
Fitri pun makan singkong tersebut dengan lahap. Yanto hanya tertawa melihat bagaimana rakusnya sang istri. Singkong yang sudah dikukus lalu baru digoreng itu memang sangat empuk dan itu memang kesukaannya Yanto. Semua yang sekarang disukai Fitri adalah kesukaan Yanto. Entah mengapa dia bisa seperti itu.
__ADS_1
“Ibu besok aku minta pisang kepok kukus yang mengkal,” pinta Fitri.
“Jangan yang terlalu matang, aku enggak suka kalau yang lembek,” jelas Fitri lagi.
“Ya besok Ibu bawakan,” kata Gendis.
“Lho, kok Ibu Gendis lagi? Kan besok jatahnya Ibu Erlina,” ungkap Fitro. Yanto belum mengerti tentang jatah piket ini. Dia bingung.
“Enggak apa apa, Ibu bisa kok datang,” Gendis tak keberatan besok datang lagi.
“Enggak besok jatah Ibu Erlina, Ibu Gendis istirahat sudah seharian di sini,” tolak Fitri.
“Semoga aja besok semua kita boleh pulang,” kata Yanto.
“Kita lihat hasil cek dokter besok pagi,” kata Yanto lagi.
“Tapi hasil cek labnya kan belum bisa dilihat besok?” Kata Erlina.
“Iya sih Bu. Lusa baru ada hasilnya laboratoriumnya.”
“Semoga besok lusa boleh pulang semuanya jadi kita ngumpulnya di rumah,” harap Gendis.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.
__ADS_1