BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
RELA MELEPAS FITRI


__ADS_3

“Benar keadaannya enggak apa-apa?” tanya Suradi. Lelaki itu memastikan berita yang dia dengar dari menantunya.


“Enggak Yah. Ini aku sudah di sini kok. Sudah urus surat administrasinya.” jawab Yanto.


“Bagaimana dia bisa celaka? Memang ngapain dia ke kota sendirian? Kenapa enggak sama kamu?” desak Suradi lagi.


“Ceritanya panjang Yah. Nanti aku ceritain selengkapnya di sini ya. Aku tunggu Ayah di sini mungkin bisa jemput Ibu Gendis kalau Ayah enggak keberatan. Karena tadi dia mau ikut cuma aku bilang enggak usah nanti bareng Ayah.


“Ya, nanti Ayah jemput ibumu.”


Suradi Erlina dan Gendis datang ketika Fitri sudah di ruang rawatnya. Fitri masih belum sadar. Suradi dan Erlina serta Yanto sudah tahu Fitri pergi ke kota karena mau ganti kartu ATM-nya yang sudah expired seperti yang perempuan itu katakan ketika pamit pada Gendis.


Tapi mereka belum tahu bagaimana kejadiannya sampai Fitri bisa tabrakan.


“Ini bagaimana ceritanya Nto?” tanya Suradi.


Yanto menceritakan keseluruhannya. Dia bilang semua ada di CCTV bengkel. Bisa dicek benar atau salah omongan dia.


“Ngapain sih dia pakai ke tempatmu? Memang kalian ada hubungan apa?” Kata Erlina ketus. Dia tak suka putrinya sampai seperti itu.


Walau bukan kemauan Yanto mendatangi perempuan tersebut tetapi dari kata-kata perempuan yang menghampiri Yanto, jelas Yanto dan Tini punya hubungan lebih dari sekadar teman biasa.

__ADS_1


“Sudah saya bilang Bu, saya sudah lama sekali tidak bertemu dengan dia sejak saya tamat SMP. Saat SMP saya enggak terlalu dekat. Saya dekat dengan dia saat SD. Jadi saat di TU sekolah itu saya merasa seperti anak-anak aja enggak pernah punya rasa lain.”


“Tini karena merasa ditolak lalu menghampiri saya. Itu sih intinya. Karena ternyata akibat perlakuannya dia dia dipecat oleh Yayasan karena merusak nama baik yayasan. Banyak orang yang menggunjingkan kelakuan pegawai yayasan yang bergelayut di lengannya tamu,” jelas Yanto.


“Lalu maksudnya mendatangi kamu buat apa?”


“Belum tahu Bu, Kami belum bicara apa pun dan saya memang sudah tak mau bicara dengan dia sejak dia datang. Ibu bisa tanya pegawai saya. Saya sudah minta dia diusir, tapi tetap dia menerobos masuk. Saya juga sudah malas menemui perempuan yang sudah diberitahu tetap aja ngeyel tetap mau menemui saya.


“Saya sudah bilang sama dia langsung waktu di rumah calon konsumen saya, jangan pernah menghubungi saya atau bicara dengan saya.” Yanto menceritakan saat dia hendak membeli motor. karena itu akhirnya Tini dapat kartu nama miliknya yang ada di meja adik sepupunya sehingga Tini mendatangi bengkelnya.


“Kalau perempuan sudah nekat seperti itu memang apa pun yang kita katakan tetap salah. Kita bilang jangan datang ya dia tetap datang. Wong perempuan enggak bener.” kata Suradi kesal.


“Ibu kok makin gregetan ya sama yang namanya Tini ini,” kata Gendis.


“Masalahnya Ibu sudah dengar kok Fitri berpesan sama Heru waktu di rumah kota, kalau jangan pernah satu kali pun Tini ingin bertemu dengan Fitri atau menghubungi Fitri. Heru juga marah karena mengetahui Tini sudah menghubungi Yanto dengan 5 nomornya.”


“Masalahnya Fitri itu melarang Tini menghubungi atau menemui dia. Tidak melarang menemui Yanto. Jadi Tini pikir punya kesempatan bertemu dengan Yanto,” kata Erlina.


“Betul, memang tidak ada larangan untuk bertemu dengan Yanto dari Fitri tapi dari tindakan Yanto kan sudah terbukti dia tidak mau menerima telepon Tini sampai 5 nomor apa itu kurang jelas?” kata Gendis.


“Buat perempuan edan kayak gitu, enggak ada kata-kata jelas kalau belum terucap dengan verbal. Kalau hanya penolakan kita secara blokir itu enggak ada gunanya. Waktu itu kan Ayah sudah bilang percuma diblokir dia pasti akan ganti nomor. Harusnya bicara dulu maki-maki dulu baru blokir,” jawab Suradi.

__ADS_1


Yanto baru sadar ternyata salah dia tidak bicara dengan Tini sebelum blokir karena akhirnya seperti ini.


“Sekarang apa yang harus saya lakukan Yah? karena Fitri sudah sangat salah duga. Kalau soal kejadian tadi Insya Allah CCTV ada karena kan bengkel kami memang dibuat full CCTV kecuali di kamar mandi dan kamar tidur kami. Kamar tidur pun kalau tidak ada kami CCTV dinyalakan karena takutnya ada orang masuk dan berbuat jahat karena laptop kerja kami ada di sana.”


“Ayah juga bingung untuk membuat Fitri tenang karena masalah ini sangat ruwet. Tidak seruwetnya waktu kasus kamu dengan Yani karena pada saat kasus Yani, Yaninya kan sama sekali tidak aktif tidak seperti ini. Sepertinya Tini memang sengaja membuat semuanya panas. Persoalan ini sama dengan Aisy yang sengaja ngejar kamu.”


“Hanya motifnya beda. Aisy karena dia cinta kamu, Tini karena dia merasa kamu adalah sahabat terdekatnya. Tapi ya enggak tahu kalau memang dia ingin lebih dari itu.”


“Kasihan Fitri kalau harus tertekan seperti ini terus Yah. Jujur sejak kejadian itu dia tak pernah mau bicara lebih dulu pada saya. Fitri masih menjawab manis dan sopan. Masih menyediakan saya makan juga hal lain sebagai istri yang baik. Tapi dia tak mau bicara lebih dulu pada saya.”


“Ibu sampai bilang, Ibu sedih melihat rumah tangga kami. Terlebih saya yang menjalani. Saya tidak tega melihat Fitri seperti ini. Kalau memang karena kejadian ini Fitri ingin bercerai dengan saya, saya mau bilang apa?”


“Kalau dia lebih senang bebas dari saya, saya akan mengabulkan demi cinta saya pada dia,” kata Yanto. Dia tak mau mengikat Fitri dan membuat perempuan satu-satunya yang dia cintai sebagai istri itu menjadi terluka.


Tak ada yang memperhatikan ada tetes air mata di pelupuk mata Fitri mendengar kata-kata Yanto akan melepas dia agar dia bahagia.


“Yang Ayah dan Ibu harus tahu, saya tak pernah ingin selingkuh. Saya tak pernah ingin menduai Fitri apa pun kenyataannya. Saya kemarin khilaf karena saya merasa masih menjadi anak kecil saat SD ketika bertemu dengan Tini. Itu aja kekhilafan saya. Tapi untuk bermain asmara sama sekali tidak ada. Dan sejak awal saya sudah minta dia tidak mendekati saya. Saksinya adalah montir ketika saya mau beli motor. Saya langsung pulang lebih dulu karena saya tidak mau terjadi kejadian seperti waktu Aisy.”


“Ayah sama Ibu bisa cek di bengkel semua orang di bengkel maksud saya anak buah saya di bengkel tahu bahwa saya sudah menyuruh mereka mengusir Tini. Tapi memang perempuan itu aja yang ndableg, dia tetap nyerobot masuk ke ruangan kerja.”


“Untungnya ruangan kerja sesuai dengan permintaan Fitri semuanya dibuat berdinding kaca, sehingga orang bisa melihat bahwa kami tidak melakukan hal-hal terlarang. Kalau dindingnya tembok dan pintu tertutup tentu orang bisa menduga yang tidak tidak.”

__ADS_1


__ADS_2