BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
TERKECUALI DIA


__ADS_3

“Wah anak Mama udah harum,” kata Fitri ketika Yanto keluar dari kamar membawa kedua putranya. keduanya sama-sama digendong kanan kiri oleh Yanto. Yanto mendudukkan keduanya di high chair.


Walau sudah hampir 4 tahun tetap aja untuk makan di meja makan Daffa tetap harus duduk di high chair biar sama tinggi dengan para orang dewasa.


“Ayo baca bismillah dulu, Mama suapin kalian ya. Mas Daffa juga mau berangkat sekolah kan?” kata Fitri. Kedua putranya lalu membaca bismillah dan Fitri mulai menyuapi keduanya.


Kalau pagi mau sekolah memang Daffa tetap disuapin tapi kalau makan siang dan makan malam sudah tidak disuapi. Dibiarkan makan sendiri walau berantakan sekali pun. Tujuannya agar motoriknya bekerja juga dia bertanggung jawab terhadap apa yang dia makan.


Kalau pagi tentu saja tidak. Karena nanti bajunya jadi kotor padahal sudah mau berangkat sekolah. Jadi kalau pagi memang sengaja disuapi dulu.


“Salim dulu sama mama dan eyang, kita berangkat sekolah ya nanti Mas ditinggal Papa enggak ditungguin. Kan sudah biasa kamu ditinggal di sekolah,” kata Yanto kepada Daffa. Memang beberapa waktu belakangan Daffa sudah tidak ditunggui di sekolah. Fitri hanya antar jemput saja.


“Iya, jawab Daffa. Dia tak takut akan ditinggal ayahnya bekerja.

__ADS_1


“Nanti yang jemput eyang ya. Eyang kakung akan jemput kamu naik sepeda.”


“Iya Pa,” jawab Daffa. Dia tentu senang naik sepeda atau naik motor karena lebih leluasa melihat pemandangan desa.


“Ini bekalnya Mas,” kata Fitri. Dia menyerahkan satu tas bekal berisi nasi, lauk, salad juga jus, untuk Yanto bekerja. Bukan baru sekarang Fitri menyiapkan semua itu. Dia melakukannya sudah 8 tahun. Sejak mereka tinggal di Jogja.


“Nanti kalau ada sesuatu yang ingin dibeli seperti biasa kamu tulis pesan aja ya,” ucap Yanto sambil memeluk dan mengecup kening istrinya.


“Iya Mas. Rasanya tak ada yang harus dibeli. Kan kita kemarin baru belanja?”


Jam 09.00 tiba-tiba rumah Fitri ramai, bukan rumah Fitri juga sih rumah Bu Gendis. Banyak orang tua siswa yang datang menengok. Mereka baru tahu ternyata selama ini Daffa tidak masuk karena ibunya mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit. Mereka baru tahu tadi saat Yanto pengantar Daffa sekolah Ada seorang nenek yang tanya ke mana Fitri kok tidak mengantar. Yanto menjawab Fitri baru pulang dari rumah sakit karena kecelakaan.


Itu sebabnya rombongan datang untuk menengok Fitri.

__ADS_1


“Terima kasih loh attensinya,” kata Fitri.


“Sebenarnya sudah tidak apa-apa sih. Hanya retak ini mungkin agak lama sekitar 5 sampai 6 bulan baru bisa dibuka gips-nya. Yang lainnya sudah lumayan kering. Yang masih terasa agak sakit adalah luka di lutut karena kan selalu bergerak sehingga basah lagi. Jadi lukanya tidak cepat sembuh,” kata Fitri.


“Iya kami tadi tanya sama mas Yanto,” kata seorang nenek.


“Kami tanya kenapa kok Fitri enggak datang, lalu Yanto bilang kamu kecelakaan jadi ya Nenek langsung ke sini aja.


“Iya, pengemudi mobil kijang yang menabrak aku ngebut dan mungkin sepertinya dia sedang kalut, sehingga akhirnya aku tertabrak terlempar jauh,” kata Fitri.


“Tapi yang lainnya enggak ada yang bahaya?” tanya seorang ibu.


“Alhamdulillah sudah di CT scan dan segala macam semuanya lengkap tidak ada yang mengkhawatirkan,” jelas Fitri.

__ADS_1


Hari itu hampir semua orang tua yang ada di sekolah datang menengok Fitri, kecuali satu orang. Bisa ditebak lah siapa dia. Mungkin dia gengsi atau malu mendatangi rumah Fitri yang sudah dia hina sedemikian rupa. Sekarang dirinya lah yang hina. Hanya tinggal di rumah kontrakan kecil tanpa mobil maupun fasilitas kantor lainnya.


__ADS_2