
“Aku sudah mendengar dia mulai beternak kambing sejak kelas 5 SD. Dan banyak cerita lainnya,” ucap Satrio.
“Sebenarnya alasan dia waktu itu ingin punya uang lebih. Saat itu kondisi kami memang belum seperti sekarang. Kami baru mulai merangkak hidup dengan pas-pasan, bukan minus seperti sebelumnya. Waktu itu belum berlebih. Ayahnya Mbak Fitri menawarkan Timah sepeda. Timah lebih memilih untuk minta dibelikan kambing saja. Saat itu dia berpikiran bisnis karena saat itu anak kecil seusia Timah cuma memikirkan kalau kambingnya dijual saat idul qurban tentu dia akan dapat uang lebih. Dia tidak berpikir bahwa kambing juga bisa dijual kepada penjual sate atau pada saat orang butuh buat aqiqah. Benar-benar pikiran Timah saat itu hanya buat dijual ketika idul kurban saja.”
“Assalamu’alaykum,” sapa Timah yang baru datang.
“Wa’alaykumsalam,” jawab semua yang ada di dalam ruangan itu termasuk beberapa teknisi juga dua konsumen yang sedang menunggu motornya di service.
“Nah itu yang namanya Timah,” kata Tria karena Satrio memang belum pernah bertemu dengan.
“Timah ini adik aku,” ujar Tria kepada Timah saat keduanya saling mencium pipi.
Timah tersenyum dan mengulurkan tangannya pada adiknya Tria yang seumuran dengan Herry. Sedang Satrio menatap takjub gadis kecil hitam manis yang dia tahu berotak diatas rata-rata. Dia mengagumi sosok Timah secara lengkap. Bukan hanya wajah polos anak kelas 1 SMP itu.
“Lho Mas Iyok kelas 1 SMA?” kata Timah saat Tria menyebut Satrio kelas 1 SMA. Satrio menyukai panggila Timah untuknya : IYOK.
__ADS_1
“Benar, jawab Satrio.
“Berarti sama dengan Mas Herry ya. Kenapa nggak satu sekolah dengan Mbak Tria?”
“Aku memang nggak milih sekolah itu sama sekali, agar tidak satu sekolah dengan Mbak Tria. Aku tidak ingin Mbak Tria kena imbas bila aku dipanggil karena perbuatan nakalku,” jawab Satrio jujur yang memang sejak SMP orang tuanya sering dipanggil guru ke sekolah.
“Bilang saja kamu nggak nggak berani bersaing melawan prestasiku,” jawab Tria. Satrio hanya tersenyum.
“Aku kepengen banget ke rumah kamu untuk melihat semua yang tadi Mas Yanto ceritakan,” ucap Satrio.
“Main saja,” jawab Timah ramah.
“Ya oke. Nanti aku janjian dengan Mbak Tria ya. Aku jemput kamu di sekolah lalu kita jalan bareng sama Mbak Tria,” balas Satrio antusias.
“Boleh nggak apa apa kok ke rumah,” kata Yanto menguatkan. Dia ingin merekatkan anak-anak yang memang harus dia rangkul seperti yang Gendis dan Fitri inginkan.
__ADS_1
Satrio juga sudah mencatat nomor ponsel Timah dan nomor ponsel Yanto yang bisa dihubungi. Mereka pun pulang bersamaan. Tria dan Satrio berbeda motor karena memang berbeda sekolah. Dan motor Satrio bukan bebek matic.
“Mas, mampir toko buku ya,” pinta Timah.
“Kenapa Dek?”
“Ada buku paket yang harus aku beli. Tadi di perpustaan sudah habis di pinjam. Jadi aku harus beli. Kalau selalu lihat di gogle tentu enggak leluasa,” jawab Timah.
“Oke, Nanti Mas sekalian hubungi Mbak Fitri tanya keperluan Daffa. Mungkin ada yang ingin dia beli,” balas Yanto.
“Lho Mbak?”
“Eh, kamu ke sini juga?” Tria kaget bertemu Timah yang datang belakangan.
“Ha ha ha, iya Mbak. Ada buku paketku yang harus aku cari,” balas Timah. Dia lihat tas plastik transparant belanja milik Tria sudah ada dua buku.
__ADS_1
“Aku langsung yo Mbak, khasian mas Yanto dan enggak enak sama mbak Fitri,” pamit Timah.
“Iya Dek,” balas Tria. Dari sudut komik, Satrio memperhatikan Timah sedang mengarah ke buku pelajaran SMP