BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
KUNCINYA : MINTA MAAF


__ADS_3

“Ini sambelnya mau dipakai seberapa banyak?” tanya Erlina. Fitri langsung melihat bakso yang dibelikan adalah salah. Jelas salah karena bakso telur itu besar, kalau bakso urat itu ukurannya sedang. Juga yang dibelikan Yanto pakai mie sedangkan yang dia pesan tadi tidak pakai mie.


Fitri hanya diam melihat bakso yang tak sesuai pesanannya. Artinya Yanto sama sekali tak membuka pesannya.


“Pakaikan semuanya aja sambelnya Bu.” kata Fitri.


Biasanya dia tak sebanyak itu makan sambel tapi untuk meluapkan amarah dia ingin menangis karena kepedasan agar tidak ketahuan bahwa dia menangis karena hatinya pedih.


Sesuai permintaan, Erlina pun menuangkan semua sambal ke piring bakso. Dan benar Fitri menangis karena kepedasan.


“Kamu tidak makan Nto?” tanya Suradi di teras kamar.


“Sudah Yah. Tadi saya sudah makan mie ayam kok,” jawab Yanto.


“Kamu harus jaga kesehatan juga Nto.”


“Iya Yah, saya jaga kesehatan kok,” jawab Yanto.


Suradi tak bisa berkata-kata apa lagi. Dia sudah hilang ide mau bicara apa lagi pada menantunya yang aslinya memang tak banyak bicara.


“Ayah pulang cepat ya, habis Fitri makan Ayah pulang,” kata Suradi lagi. Dia sengaja pulang cepat agar sebelum Fitri tidur Yanto dan Fitri bisa bicara.

__ADS_1


“Iya Ayah tidak apa-apa kok. Memang sudah tugas saya menjaga Fitri saat sedang seperti ini.”


“Habiskan baksonya aja, kalau mienya tidak kuat. Kamu sih tadi minta sambelnya semua,” Erlina memaksa Fitri menghabiskan baksonya.


“Enak Bu, jadi keringetan,” jawab Fitri.


“Pa, bisa bantu aku?” pinta Fitri pada Yanto yang sedang menonton televisi. Yanto sama sekali tak mendekati Fitri kalau tidak dipanggil. Apalagi kasih attensi seperti biasa dan ngajak ngobrol.


“Ya, ada apa?” jawab Yanto. Yanto tahu Fitri memanggil karena butuh saja. Bukan untuk bercengkerama seperti biasa.


“Aku mau buang air besar, jadi harus ke kamar mandi,” kata Fitri. Padahal dia sama sekali tak berniat buang air besar hanya untuk mencari perhatian Yanto saja.


Yanto mendorong tiang infus agar nanti di kamar mandi Fitri bisa membasuh dirinya sendiri. Walau sulit Fitri memang membasuh sendiri kalau buang air besar.


Yanto mendudukkan Fitri di kloset, lalu dia keluar kamar mandi. Sengaja pintu kamar mandi tidak ditutup rapat agar kalau terjadi apa-apa bisa segera menolong.


“Kalau sudah selesai bilang,” kata Yanto sambil keluar.


“Ya ampun, aku harus bagaimana lagi?”


“Aduh aku salah!” kata Fitri.

__ADS_1


“Seharusnya aku minta maaf, bukan hanya sekadar bicara. Kuncinya diminta maaf dulu,” kata Fitri.


“Baik, habis ini aku akan minta maaf.” Tekad Fitri yakin.


“Pa …,” panggil Fitri.


“Ya,” jawab Yanto cepat.


“Tidak jadi Pa. Mama tidak bisa buang air besar,” kata Fitri sambil memegang lengan Yanto yang memapah dirinya.


Yanto hanya diam, dia bawa istrinya kembali ke brankar dan dia bantu sampai naik dan membereskan selimutnya juga infusannya agar tidak berantakan. Biasanya kalau sedang normal pasti Yanto akan membahas mengapa Fitri tak bisa buang air besar dan akan memintanya makan buah dan sayuran agar terhindar dari sembelit.


Suster terakhir malam ini baru saja masuk ruangan. Fitri senang karena habis ini dia akan bicara tanpa gangguan. Tadi dia mau bicara takut terputus dengan kehadiran suster.


“Ibu Ini infus terakhir ya. Habis ini inpusnya dibuka. Bapak nanti kasih tahu aja kalau cairan inpusnya habis. Ini sekitar 2 jam lagi selesai,” suster memberikan estimasi cairan itu akan habis.


“Baik Suster,” kata Yanto.


“Mas sini deh,” Panggil Fitri sambil menepuk sisi ranjang tempatnya berbaring. Dia minta Yanto duduk di situ.


Kenapa?” tanya Yanto.

__ADS_1


__ADS_2