BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
WACANA MASAKAN BERIKUTNYA


__ADS_3

“Jadi minggu ini kita akan belajar masak apa nih?” pancing Gendis.


“Kan kami sudah mulai sekolah, Bu,” kata Timah.


“Enggak apa-apa, kalau misal tidak lolos  satu minggu mungkin dua minggu, sehingga tidak tiap hari latihannya tapi paling tidak ada satu menu baru yang kalian kuasai,” kata Fitri melengkapi permintaan Ibu mertuanya.


Erlina, Gendis dan Fitri memang sudah mengatur strategi agar kedua gadis ini belajar masak tanpa paksaan dan tanpa merasa diwajibkan.


“Oke nanti malam aku akan googling masakan apa yang akan aku pelajari,” kata Timah.


“Dan ingat Dek jangan yang pedas karena kasihan yang tidak kuat seperti ayah,” ucap Yanto.


“Ralat, Ayah bukan enggak kuat pedas, tapi tak boleh makan pedas lagi,” Suradi protes dibilang tak kuat pedas.


“Atau kita bikin dua macam Mbak, aku mnggu ini pedas, Mbak Tria yang enggak. Berikutnya kebalik, mbak Tria yang masak pedas, aku yang enggak. Tapi kita diskusikan berdua dulu pilihan kita apa,” ujar Timah.

__ADS_1


“Oke siap,” kata Tria. Mereka tentu saja senang bisa diskusi dulu sebelum akan memajukan makanan apa yang mereka ingin coba.


“Sepertinya aku usulkan kalian bikin yang sederhana seperti kangkung plecing dari Bali. Bahannya sudah sangat banyak di sini maupun di kandang serta di rumah depan kandang. Itu bisa kita panen anytime kan?” kata Satrio.


“Wah boleh tuh, jadi Mbak Tria yang masak kangkung plecing aku masakan lainnya,” kata Timah. Karena memang bahan baku tak perlu dari hewani. Dari sayuran pun mereka tetap akan coba.


“Rasanya Timah pakai yang ada di rumah saja, kamu belum pernah kan masak kembang pepaya. Selalu Ibu yang masak,” usul Gendis.


“Aku pernah lihat Ibu nyiangin kembang pepaya. Kok beda ya Bu kembang pepaya yang Ibu siangin dengan kembang pepaya yang biasanya,” ujar Tria.


“Itu memang hanya berkelamin jantan saja, jarang yang sempurna seperti buah pepaya pada umumnya,” lanjut Yanto lagi.


“Oh gitu, pantas dia berupa dompolan Di ranting kecil lagi, bunganya kecil nggak seperti yang bunga pepaya tunggal,” kata Satrio.


“Baik, aku akan masak itu. Tentu yang pedas ya yang aku masak. Jadi Mbak Tria masak yang tidak pedas,” ucap Timah.

__ADS_1


“Jangan sekali waktu bersamaan dong. Masa sayuran dua-duanya barengan. Kalian harus gantian biar kami menilainya engak rancu,” ucap Fitri.


“Kembang pepaya itu campurannya bisa menggunakan ikan asap atau ikan asar kalau di Indonesia Timur. Bisa menggunakan udang, bisa menggunakan ikan teri, bisa menggunakan ayam atau bahkan ada yang pakai kambing atau maaf, kalau di yang non muslim pakai babi.”


“Dicampur apa pun dia pasti enak, tanpa dicampur dengan hewani hanya sayuran juga nggak apa-apa, tetap enak,” jelas Gendis.


“Ada yang dicampur pete,” kata Erlina.


“Baik, aku akan coba itu,” kata Timah.


“Apa itu langsung ditumis seperti sayuran pada umumnya?” tanya Tria.


“Bila langsung ditumis akan pahit. Jadi harus rebus dulu lalu buang airnya dan cuci bersih. Kalau di beberapa daerah ada yang merebusnya menggunakan batu bata atau tanah liat agar tidak pahit. Sepertinya tanpa itu pun bisa, Ibu tak pernah menggunakan batu bata, arang atau tanah liat tetap tidak pahit kok.” Gendis menjawab pertanyaan Tria.


“Oke siap. Nanti aku googling apa yang harus aku siapkan untuk bumbu-bumbunya,” kata Timah.

__ADS_1



__ADS_2