
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kamu bantu aku yuk Dek,” pinta Yanto pada Herry. Yanto baru selesai muntah di pagi hari. Sejak subuh tadi dia mual dan sekarang sudah mulai berkurang.
“Injih Mas,” jawab Herry. Mereka pun mulai membersihkan motor yang hendak dibongkar oleh Yanto. Sambil membongkar, Yanto memberitahu semua nama mesin, cara membongkar dan memasang serta cara membetulkannya.
“Kok dipretelin semua Mas?” kata Herry.
“Lha bannya udah kempes gini, bannya harus diganti semua luar dalam. Kalau luarnya ya masih bisa lah digunakan sementara karena kalau langsung beli 2 ban luar yo mahal. Tapi ban dalamnya harus diganti. Besok biar diantar sama sopir, diganti ban dalam keduanya,” jelas Yanto.
Yanto mulai serius membersihkan dan membetulkan mesin motor tersebut, dia juga membetulkan remnya.
“Memang mau buat apa sih motor itu dibetulin?” tanya Fitri sambil mengelap keringat di kening dan leher suaminya.
“Kalau ini bisa jalan Yank, setidaknya kalauHerry mau ke warung atau kepasar masih bisa dipakai. Atau kalau dia tidak malu, dia bisa pakai ke sekolah. Ini masih bisa dipakai, yang penting dia tidak ke jalan raya karena nomornya mati. Selain nomornya mati juga bahaya dia kan memang belum waktunya punya SIM,” tegas Yanto.
Herry tak percaya ternyata motor yang sedang dikutak kutik mas Yanto akan dijadikan kendaraannya. Tentu pemuda kecil itu sangat senang.
“Oh iya juga ya Mas. Malah bisa berguna kalau itu bisa jalan,” kata Fitri dia kagum pada pemikiran suaminya.
“Paling enggak kalau disuruh ibu beli apa-apa jadi cepet,” ucap Yanto.
“Ibu juga dulu sih bisa naik motor, tapi sekarang janganlah,” kata Yanto.
“Bahkan sebelumnya ibu juga sering bawa mobil sendiri kalau ayah enggak pakai mobil.”
“Ya sudah kalau gitu bawa aja nanti dibetulkan ke bengkel aja,” kata Fitri ringan.
__ADS_1
“Kamu tuh aneh Yank, kita mau buka bengkel, kok motor kita mau taruh di bengkel tuh piye? Ya Mas aja yang bongkar lah, kamu bayar sama aku,” kata Yanto menggoda istrinya.
“Siap. Aku siap bayar kok,” balas Fitri. Yanto mengerti apa kata siap yang Fitri katakan.
”Weh mantap kuwi,” jawab Yanto.
“Aku kesin mau kasih tau, ada sukun goreng, Mas mau enggak? Kalau mau nanti aku bawa sini. Aku mau langsung bawa takutnya kamu enggak suka baunya,” ucap Fitri sambil kembali mengelap keringat suaminya.
“Wah mau sukun goreng. Itu enaknya pakai sambel terasi goreng Yank.”
“Iya, aku memang bikin kayak gitu, sukun goreng pakai sambal. Mantap Mas.”
“Ya sudah bawa sini aja, kamu suapin ya, tanganku kan kotor gini,” pinta Yanto manja.
“Siap komandan,” kata Fitri.
“Alhamdulillah bisa ini Yah, tinggal rodanya besok dibawa ke tukang roda diganti ban dalamnya,” ucap Yanto.
“Oh baguslah dari gudang malah bisa dipakai lagi,” ujar Suradi.
“Lah memang selama ini kenapa Yah?” tanya Yanto.
“Awalnya sih cuma susah di starter lalu pada males pakai, lama-lama ya sudah nganggur aja dia di gudang,” jawab Suradi. Motor itu memang motor operasional orang-orang dapur dulu. Dan tak ada yang peduli saat rusak. Sang majikan pun memilih beli motor baru buat operasional. Akhirnya motor tersebut hanya sebagai penghuni gudang saja.
”Aku rencananya motor ini biar dipakai wira-wiri Herry aja buat ke warung atau ke sekolah. Tadi sudah bilang sama Fitri,” ucap Yanto.
“Ya jangan!” kata Suradi melarang Yanto menggunakan motor itu buat Herry.
__ADS_1
Yanto jadi serba salah, dia nggak enak ternyata dia lancang mau ngambil barang mertuanya.
Herry pun sedih mendengar niat baik kakaknya dilarang pak Suradi.
“Kalau buat Herry itu belikan yang baru, jangan ini,” Suradi tahu yanto mungkin tersinggung akan larangannya barusan. Padahal bukan itu maksudnya. Memang maksudnya kalau buat Herry jangan pakai barang yang seperti ini.
“Jangan Yah, ini aja cukup lebih dari cukup. Jangan dibelikan yang baru karena dia memang belum umurnya. Ini kan motor juga nomor pajaknya mati, jadi biar hanya bisa dipakai di dalam kampung saja. Dia tidak akan berani keluar kampung karena bila dia ditangkap polisi saya enggak akan bantu urus.”
“Biar ini bisa dipakai ke warung atau ke sekolah aja, nggak boleh ke mana-mana,” kata Yanto.
“Saya tidak ingin dia ugal-ugalan di jalan raya.”
Herry sangat senang akan mendapat kendaraan operasional seperti itu, dia tidak akan malu. Barang seperti itu pasti akan dia openi, dia sama seperti Yanto yang rajin bongkar pasang sesuatu dia akan mempercantik motor tersebut.
“Iya Yah, saya jangan dibelikan yang baru. Ini saja kalau buat ke warung dan buat ke sekolah.”
“Nanti pagi saya bisa antar Dek Timah dulu baru saya sekolah,” kata Herry.
Suradi tersenyum mendengar perkataan Herry, dia kagum terhadap Gendis dan suaminya yang mempunyai anak-anak yang sangat luhur, tidak mau yang lebih dari yang seharusnya mereka dapat. Suradi sangat bangga bisa menjadi besan Gendis dan menjadi orang tua bagi Timah serta Yanto dan Herry.
“Ya sudah kalau kayak gitu. Tapi ingat loh ya enggak boleh bawa ke jalan raya.”
“Injih Yah, pasti saya ingat. Saya enggak bakal berani melawan perintah Mas Yanto dan ibu,” jelas Herry dengan senang karena sekarang sudah pasti motor itu akan diberikan padanya.
“Alhamdulillah, kamu juga harus terus berprestasi. Enggak usah gaya-gayaan. Nanti nek sudah SMA atau mau masuk STM juga, kamu tinggal disini,” kata Suradi.
“Injih Yah.”
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok.
__ADS_1