
“Wah hebat. Ini bunganya nggak pahit, rasa tekstur ikannya juga enak. Aku suka cuma pedasnya kurang,” Herry memberi nilai pertama.
“Kalau pedas itu relatif! Kan sudah kita bilang kalau pedas jangan buat bahan penilaian,” Satrio memberi komentar atas resume Herry.
“Benar,” jawab Yanto.
“Kalau pedas tentatif, kita nggak bisa nilai. Tapi kalau untuk rasa, tekstur bunganya juga enak, ikannya juga mantap. Terus daun jeruknya kerasa. Maknyuuz,” puji Yanto.
“Buat Ayah ini kepedesan pasti, tapi enak banget,” jawab Suradi.
“Wah keren Dek, masakanmu dipuji semua orang,” Tria memberi apresiasi pada adiknya. Dia menganggap Timah memang adiknya. Sama seperti Satrio. Mereka senang punya adik.
“Plecingmu juga super hebat kok Mbak. Minggu lalu semua juga menikmatinya,” kata Timah.
“Harry apa pendapatmu?” tanya Fitri. Fitri menduga Harry belum terbiasa dengan situasi keluarga mereka jadi malu berpendapat.
“Speechless, saya,” jawab Harry.
“Kenapa?” tanya Gendis.
“Nggak kebayang saja Bu ternyata dua gadis ini jago-jago masak ya. Benar-benar hebat, karena yang saya tahu dari Herry mereka itu masaknya tidak pakai guru. Benar-benar hanya otodidak. Mereka melihat dari YouTube saja. Saya benar-benar enggak percaya dan biasanya saya cuma lihat bunga ini tergantung saja di depan rumah, nggak kepikiran bakal enak seperti ini. Bahkan kalau ada pohon pepaya gantung sering dibuang karena dianggap tak menghasilkan,” kata Harry.
__ADS_1
Tadi Harry juga melihat kebunnya Fitri dan Gendis bahkan di rumah pak Suradi mereka juga yang menanam. Rupanya Satrio mencontek dari sini dan ilmu itu dia kembangkan. Benar-benar hebat.
“Ada usulan untuk program menu berikutnya?” tanya Fitri.
“Coba bikin patin kuah kuning,” kata Suradi.
“Biasanya itu dimakan dengan papeda makanan khas orang Indonesia Timur baik dari Ambon, Papua, kayaknya beberapa daerah dari suku Sulawesi juga ada yang makan papeda.”
“Kalau dari Indonesia Timur bahan dasarnya pasti ikan laut. Kalau pakai ikan air tawar tentu berbeda. Ayah rasa itu sedikit tantangan buat kalian berdua,” saran Suradi yang sekarang main senang saja karena anaknya jadi bertambah banyak dengan hadirnya Tria dan Satrio jadi “anaknya” juga.
“Apa itu nggak sama dengan masakan patin yang waktu itu Mbak Tria bikin. Apa Mbak waktu itu Mbak Tria bikin masak apa namanya? Bahan dasarnya ikan patin. Aku lupa,” ucap Timah.
“Pindang. Maksudnya pindang patin yang dari Palembang?” jawab Satrio.
“Oke siap Mbak, nanti kita bikin lagi ya,” jawab Timah antusias.
Harry benar-benar tak percaya mereka berdua bukannya bersaing dalam hal yang buruk tapi bersaing terus untuk menjadi maju. Biasanya dua gadis yang seperti itu pasti bersaingnya saling menjatuhkan. Tapi ini saling menunjang.
“Aku jadi semakin ingin terus belajar seperti kalian,” kata Harry saat mereka sudah duduk di teras belakang. Saat itu mereka berlima sedang mempersiapkan rujakan karena Timah ingin bikin rujak serut.
“Semua itu kalau dimulai dari hati pasti tidak akan membosankan dan akan terus tertantang untuk belajar,” ujar Tria.
“Iya, aku juga selalu ingin terpacu karena kalian benar-benar hebat dan aku sudah tahu apa yang ingin aku lakukan buat bisnisku dan itu sudah mulai berjalan sejak minggu lalu,” ucap Harry.
__ADS_1
“Kok kamu nggak ceritaan kamu sudah mulai buka bisnis sejak minggu lalu?” kata Herry.
“Bukan bisnis sih. Aku cuma punya satu wahana untuk cari uang atau cari income,” ujar Harry.
“Apa itu?” tanya Timah sambil memarut kasar bangkoang dengan parutan khusus.
“Menulis!” jawab Harry tak percaya diri. Dia mengatakan dengan lirih.
“Wah hebat!” puji Herry spontan membuat Harry tak percaya.
“Betul! Menulis sekarang juga bisa menjadi sarana untuk mendapatkan uang. Kamu menulis apa saja?” Satrio pun antusias akan kegiatan Harry.
“Aku menulis kegiatan. Sebenarnya aku belum mau lapor kalian, tapi karena sudah ngomong, sekarang aku kasih link yang sudah aku bagikan di YouTubeku. Nanti ada monetisasi, sehingga siapa yang buka link aku itu akan menghasilkan dana untukku. Setidaknya dari situ aku akan ada uang untuk operasional, ada uang buat beli pulsa, untuk beli bensin,” ucap Harry senang. Nada bicaranya sudah berubah.
“Aku meliput kegiatan yang Satrio lakukan selama satu minggu ini. Semuanya langsung ada linknya,” Harry langsung membagikan link 3 link yang sudah dia buat pada kegiatan Satrio.
“Nanti aku juga akan buat tentang peternakannya Timah dan segala macamnya semua akan aku buat di channel YouTubeku,” kata Harry.
“Kereeeeeeeeen, jadilah dirimu sendiri Mas. Semangaaaat,” kata Timah mensupport Harry.
“Karena dengan menulis itu kan menyuarakan aspirasi, menyuarakan pikiran kita. Bukan pikiran orang lain. Berarti hebat mas Harry sudah bisa menjadi dirinya sendiri. Walau untuk berpendapat lisan di depan orang itu belum bisa. Seperti beberapa kali aku lihat mas Harry masih ragu mengemukakan pendapat. Padahal kalau di keluarga kita ungkapkan saja tidak apa-apa. Nanti kalau sudah biasa di keluarga pasti akan terpacu untuk keluar.”
Harry makin tak percaya, Timah bisa menilai dirinya seperti itu.
__ADS_1
‘Anak kecil multi talenta!’ batin Harry makin suka pada sosok gadis kecil adik sahabatnya.