
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Kira-kira kapan kita mulai bisa buka showroom?” kata Fitri saat dia dan suaminya santai di ruang tengah sambil berbaring di kasur lantai yang mereka gelar.
“Kalau Papa sudah terlalu capek kayak gini lebih baik kita percepat saja yuk, biar kita konsentrasi di pengobatan,” kata Fitri lagi. Tadi dia lihat Yanto sangat lelah sepulang kerja karena pas dia turun ada bus mogok dan montir kosong sehingga Yanto turun tangan, tentu dengan upah montir karena di luar pekerjaan sopir.
Yanto mengambil buku tabungannya di lemari.
“Ma, buku ini selalu ada di situ ya. Aku enggak pernah ambil, enggak pernah juga utak-atik semuanya ada di sini. Kartu ATM nya juga sengaja aku tinggal agar tidak aku ganggu. Kamu lihat ini uang kita yang buat usaha,” kata Yanto memperlihatkan buku tabungan modal usaha mereka.
“Kalau Mama mau cek dan tak bisa nge print buku, pin ATM nya adalah tanggal ulang tahun Mama,” jelas Yanto tersenyum.
__ADS_1
“Selain uang gaji ini kamu lihat ya Yank. Tiap bulan juga ada uang sisa operasional yang selalu aku setor walau jumlahnya enggak pasti.”
Fitri memang melihat selalu ada uang rutin sebesar slip gaji yang Yanto setor dan jadang ada tambahan debet. Padahal selama ini Yanto tak pernah minta uang padanya dan sesekali masih membeli kebutuhan dapur dan rumah tangga mereka yang kebetulan luput dari pengamatan Fitri.
“Apa segini belum cukup modalnya? tanya Fitri kaget melihat uang tabungan mereka. Hampir sebanding dengan uang tabungan miliknya pribadi dari gaji dan uang kost.
Uang usaha kost Fitri tentu beda rekening lagi. Yang masuk ke rekening Fitri hanya persentase sejak sebelum dia menikah. Tak Fitri naik kan persentase itu walau dia yang mengelola uang usaha.
“Kenapa nggak 3 mobil dulu Mas. Kita mulai dari awal tapi setidaknya kamu nggak seperti ini,” bujuk Fitri. Walau sudah punya panggilan mama ~ papa mereka tetap biasa saling sebut dek dan mas juga yank.
“Oke 1 tahun lagi ya kita buka usaha, sekalian pas rumah habis kontrak,” Yanto akhirnya memberi gambaran kapan dia akan memulai usaha yang dia cita-citakan sejak sekolah dulu.
__ADS_1
“Ini kan sudah mau habis waktu kontrak nya Pa. Kalau satu tahun lagi ya sudah lewat lah. Papa kan dulu ambil 3 tahun. Sekarang sudah 2 tahun 4 bulan,” Fitri mengingatkan Yanto.
“Ya oke, habis kontrakan ini kita enggak usah beli rumah dulu ya, kita kembali ke Solo buka usaha di Solo,” usul Yanto.
“Jadi Papa mau buka usahanya di Solo bukan di Jogja?” tanya Fitri tak percaya.
“Di Solo aja ya Yank. Kasihan kedua orang tua kita, baik ibu Gendis maupun Ibu Elina. Lebih baik kita di sana aja. Jadi habiskan kontrakan ini. Kamu juga bersiap-siap resign dari kantor. Sudah cukup kan kamu berbakti di kantormu. Bagaimana?” tanya Yanto dengan senyum manisnya.
“Oke Pa. Jadi kita sekitar 8 bulan lagi?” Fitri sangat bersemangat karena akan membuka usaha dan membuat suaminya berhenti jadi sopir bus antar kota.
“Ya 8 bulan lagi kita kembali ke Solo,” kata Yanto dengan pasti.
“Alhamdulillah,” Fitri mengucap syukur.
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok