BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
HABIS DI GULE


__ADS_3

“Wah iya juga ya, aku lupa kalau kejadiannya seperti itu. Aku cuma berpikir bahwa dia bermasalah. Tapi aku lupa kalau dia pernah menikammu,” kata Satrio.


“Itulah yang aku pikirkan. Seenaknya dia menikamku. lalu sekarang dia mau ikut bergabung dengan kita tanpa ada basa-basi permintaan maaf. Bukan aku gila hormat, tapi nggak begitu juga cara kita bersilaturahmi. Ada anggah ungguhnya. Walau aku anak kecil sekalipun.”


“Ya aku juga setuju. Memang dia sangat salah,” kata Tria.


“Iya Mas, aku minta maaf. Aku nggak memikirkan masalah itu. Tadi aku lupa,” kata Timah.


“Sekali lagi bukan aku gila hormat. Tetapi cara dia sangat salah. Dia tidak menghargai aku sama sekali. Kalau nanti dia kita terima dengan mudah, dia akan lebih menginjak aku lebih dalam.”


“Jadi pada pokoknya kita menolak permintaan dia.” putus Tria.


“Aku jelas menolak. Tapi kalau kalian, itu terserah kalian. Aku tak mau membatasi,” jawab Herry.


“Aku juga menolak! Karena aku tidak mau orang yang tidak sopan masuk di dalam peserta anak didikku.” kata Satrio.


“Lebih-lebih aku lah. Aku nggak berpikir sampai ke masalah anggah ungguh tadinya. Aku mohon maaf, aku juga menolak!” Kata Timah.

__ADS_1


“Kalau Mbak ngomong sama dia, jelaskan alasan kita menolaknya. Jadi dia tahu diri tidak semena-mena seperti itu. Kalau pun nanti dia sudah minta maaf, aku menolak,” kata Satrio.


“Karena permintaan maafnya itu akibat kita menolak dia. Bukan dari dasar hatinya, tentu sangat beda,” jelas Satrio melengkapi kalimat sebelumnya.


“Ya betul itu. Kalau dia menyusul minta maaf, itu berarti bukan dari hati tapi karena itu kita beritahu dia,” Timah setuju pendapat Satrio.


“Oke baik. Aku akan telepon dia di depan kalian. Agar kalian tahu apa yang aku bicarakan,” kata Tria. Dia langsung me-load speaker panggilannya pada Fabianto atau Totok.


“Apa kabar?” tanya Fabianto saat telepon tersambung tanpa memberi salam.


“Wa’alaikum salam,” sapa Tria seakan teguran tak langsung untuk Totok.


“Saya mau memberitahu tentang permintaan Kakak. Kemarin Kakak minta bergabung dengan tim saya dan Timah serta adik saya juga Herry. Sudah saya beritahu tim kami itu beranggotakan empat orang kan? Herry, saya, Timah dan Satrio.”


“Kami sudah diskusi dan jawaban kami, kami menolak permintaan Kakak,” jelas Tria menjawab permintaan Totok kemarin.


“Lho kenapa? Kan saya ingin belajar dengan benar. Kalau harus bayar, saya akan bayar,” kata Totok dengan percaya diri.

__ADS_1


“Itulah kepicikan Kakak. Kakak pikir semua akan selesai dengan uang? Kakak lupa, Kakak bermasalah dengan Herry tanpa dia tahu apa penyebab masalah itu. Kakak membuang racun di tambaknya, dia tidak bersalah, lalu Kakak tikam seperti itu,” jelas Tria.


“Tanpa permintaan maaf, Kakak minta bergabung dengan tim kami. Apa Kakak enggak ada sedikit otak atau jangan-jangan otaknya sudah habis digulai lalu Kakak makan sendiri?” kata Tria kasar karena dia tersinggung dikira mereka menolak karena tak dibayar.


“Kakak terlalu picik. Kami memang anak kecil. Tetapi kami punya otak lebih besar dari otak Kakak. Buktinya kami bisa berpikir bahwa seharusnya Kakak minta maaf dulu pada Herry, baru meminta pertolongan kami untuk mengajari Kakak berbisnis. Jadi silakan saja Kakak belajar bisnis secara berbayar. Tidak usah belajar secara gratis dengan kami yang anak-anak ini. Kakak bisa kursus di mana pun pada para pakar yang bayarannya puluhan juta agar usaha Kakak maju. Karena kami hanya punya visi untuk memajukan diri kami sendiri, tidak orang-orang idiot seperti Kakak. Terima kasih. Wassalamu’alaykum,” jawab Tria. Tanpa menunggu jawaban dia langsung menutup teleponnya.


“Untung saja nggak diterima.” kata Satrio.


“Pikirannya, semua semua bisa diselesaikan dengan uang. Mungkin karena terbiasa jadi anak papanya yang kaya raya.”


“Itulah yang aku tidak suka dari anak orang kaya, selalu berpikir semua mudah diselesaikan dengan uang,” balas Herry.


“Untungnya kami sejak dulu tidak seperti itu,” kata Satrio lagi. Tria hanya diam memang itulah kebiasaan anak orang kaya. Berpikir uang adalah segalanya dan bisa menyelesaikan segalanya juga.


“Aku nggak nyangka saja 6 bulan di dalam penjara bukan membuatnya berpikir lebih dewasa, bukan membuatnya menjadi lebih baik, dia masih saja seperti itu,” sesal Tria.


“Niatnya sih bagus. Dia mau maju, mau berupaya. Tetapi pola pikirnya belum berubah. Kalau dia mau menunduk sedikit saja, dia minta maaf dulu lalu baru menghubungi kamu, itu tentu berbeda. Aku mau kok berbagi dengan siapa pun. Mas Yanto mengajarkan : ilmu yang kita berikan itu tidak akan pernah berkurang! Jadi nggak perlu takut berbagi tentang ilmu apa pun,  karena belum tentu apa yang kita bagi itu bisa sama diterapkan oleh orang lain. Hasilnya bisa berbeda, bisa dibawah kita, tapi jangan salah banyak yang bisa berhasil di atas kita. Karena semua tergantung pelaksananya. Tetap saja ilmu kita tidak berkurang, sehingga kita tidak akan rugi berbagi ilmu dengan sesama,” kata Herry.

__ADS_1



__ADS_2