
“Ada apa sih Mbak kok sampai manggil aku ke sini. Enggak bisa kita bicarakan melalui telepon?” Timah memberondong pertanyaan begitu tiba di kandang milik Tria.
“Ini Dek, aku mau diskusi sama kamu. Harus on the spot enggak bisa by phone,” jawab Tria. Satrio mendengar panggilan dari Tria pada Timah adalah DEK. Seperti panggilan Yanto dan Fitri pada orang yang lebih muda termasuk dirinya. Satrio sering mendengar Yanto memanggilnya dengan sebutan dek padahal dia tak pernah satu kali pun memanggil Timah dengan panggilan itu.
‘Aku harus membiasakan diri memanggil dia dek. Begitu pun pada anak kecil lainnya. Kata-kata dek itu memang lebih sopan. Jangan yang tua saja mau dipanggil Mas atau Mbak tapi tak mau memanggil yang muda dengan sebutan dek,’ batin Satrio.
“Mbak aku belikan mie ayam bakso lho,” ucap Timah sambil menyodorkan bawaannya.
“Sambil makan kita ngobrol. Atau ini masih ada dua roti burger tadi aku bawakan buat Mas Iyok,” kata Timah.
“Kamu tahu lah kalau ada makanan apa pun begitu ada mie ayam ya aku mending milih mie ayam,” jawab Tria menolak burger dari Timah.
“Memang ada apa Mbak manggil aku. Bikin aku penasaran saja nggak mau cerita ditelepon,” kata Timah lagi.
“Bukan enggak mau Dek, tapi enggak bisa. Aku merasa ada kelinciku yang mulai hamil Dek dan aku sudah mempelajari cara mengecek kehamilan pada kelinci. Rasanya memang bener ada janin di dalam perut indukan kelinci-kelinci itu. Makanya aku mau kamu juga ngecek bareng aku,” ucap Tria.
“Ada berapa kelinci yang mulai hamil?”
“Kelinci lokalnya ada dua kelinci, yang hollanlopnya ada satu,” jawab Tria.
__ADS_1
“Wah seneng rasanya. Semoga cepat berhasil. Tapi Mbak nggak tahu ya itu sudah berapa hari?”
“Koq berapa hari?” tanya Satrio.
“Iyalah, kelinci itu cuma hamil 30 sampai 33 hari. Jadi nggak perlu lama dia sudah punya anak,” jawab Timah.
“Oh begitu, kirain dia hamil berbulan-bulan,” Satrio memang belum mempelajari tentang kelinci.
“Enggak hamilnya cepat kok,” jawab Tria.
“Nanti habis makan kita cek ya Mbak. Ayo kita makan dulu. Mas Iyok mau makan sekarang atau nanti?” kata Timah sambil mengambilkan tiga mangkok untuk Tria sekalian.
“Tapi enak loh burgermu itu. Isinya ayam ya. Benar-benar maknyus.” puji Satrio.
“Iya benar tadi ibu yang matangkan ayamnya, tapi yang bikin isinya itu masih Yanto.”
“Apa? Mas Yanto yang bikin?”
“Iya. Mas Yanto itu jago masak kok. Dia biasa bikinkan kami burger atau masakan lain tergantung permintaan kami apa. Dia pasti akan berupaya buiatkan.”
__ADS_1
“Kalian ini orang-orang hebat ya. Apa saja dikerjakan,” kembali Satrio kagum.
“Kami hanya mencoba. Kalau berhasil Alhamdulillah. Bila tak berhasil kami akan coba lagi sampai berhasil,” kata Timah.
“Benar-benar hebat prinsip kalian,” balas Satrio.
“Harus seperti itu Mas. Kalau tidak, manusia ini nggak ada yang berjalan tegak.”
“Apa hubungannya dengan berjalan?” tanya Satrio.
“Mas coba perhatikan bayi yang baru belajar jalan, berapa kali dia jatuh dan menangis? Besoknya jatuh lagi dan menangis lagi sampai dia bisa jalan. Kalau dia kapok pada saat jatuh pertama kali, maka nggak ada manusia yang bisa jalan kan?” kata Timah lagi.
‘Astagfirullah, kenapa aku jadi terlalu bodoh ya dibanding anak kecil ini?’ kata Satrio dalam benaknya. Dia benar-benar tak percaya pola pikir anak SMP kelas 1 yang bisa membuat analisa tersendiri.
‘Dia bisa menganalogikan sesuatu dengan kegiatan sehari-hari. Benar-benar hebat dan tidak semua orang berpikiran seperti itu.’
“Sepertinya bicara dengan kamu itu aku harus pegang notebook dan pensil untuk mencatat semua apa yang kamu ucapkan. Aku pernah dengar dari kamu nggak usah malu apabila tidak mencuri atau mengemis. Lalu aku juga pernah dengar bahwa kita tidak bisa menutup mulut orang karena itu tutuplah telinga kita agar nggak denger suara sengau di sekeliling kita. Dan sekarang aku dengar lagi dari kamu kita harus mencoba terus jangan pernah lelah dan putus asa. Benar-benar hebat.”
“Zaman sekarang itu nggak perlu bawa buku dan alat tulis ke mana-mana. Tinggal Mas tulis saja di note ponsel ada atau pakai voice note. Bisa pakai media apa pun. Jangan apa-apa dipersulit. Pakai yang ada saja dipergunakan dengan baik,” kata Timah. Dia mulai meracik mie untuk dirinya yaitu tanpa kuah dan banyak saus sambal.
__ADS_1
Kalau Tria senang ada kuahnya walau sedikit.