BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK

BETWEEN ( TERMINAL ) GIWANGAN ~ BUBULAK
SINAU DHODHOLAN


__ADS_3

Hari yang dinanti tiba. Riana dan Husein mendapat undangan dari Gultom by phone. Mereka tidak tahu toko apa yang dibuka oleh Gultom  nama tokonya juga antik. Nama toko bahan pakan ternak milik Satrio adalah SINAU DHODHOLAN.


Seperti ketika Tria maka Satrio menyiapkan snack dari bakery. Dia juga sudah tahu jumlah yang diundang lalu ditambah dengan persiapan untuk tamu tidak terduga.


Tidak seperti usaha Tria yang dibuka resmi oleh pamong setempat. Di tempat usaha Satrio tidak ada seperti itu. Dia hanya syukuran kecil saja. Tapi tetap Satrio mengundang RT dan RW sebagai pengenalan bahwa dialah pemilik usaha tersebut.


“Ada apa Abang mengundang kami ke tempat itu?” tanya Husein.


“Datang saja tepat waktu. Aku mau tunjukin kamu sesuatu,” begitu jawaban Gultom saat Husein menanyakan mengapa dia diundang ke sebuah toko yang akan dibuka besok.


Acara pembukaan tidak resmi dari toko Satrio itu juga berlaku non formal. Satrio santai saja tanpa batik apalagi jas. Dia tetap menggunakan t-shirt, jeans juga sneakers. Saat itu sudah ada Timah. Tentu saja dari pagi juga ada Tria yang diberitahu tadi pagi sebelum Satrio berangkat.


Tria kaget ternyata selama ini Satrio bekerja sama dengan Timah tanpa melibatkan dirinya.


Sejak pagi Tria dan Timah sudah ada di toko begitu pun dengan pegawainya. Mereka berempat jungkir balik menyiapkan semuanya. Satrio memesan tenda kecil di depan ruang usahanya sehingga nanti para tamu bisa duduk dengan nyaman. Kalau tidak menyewa tenda tentu ruangan tokonya tidak cukup menampung tamu. Dan tak ada kursi pula. Walau hanya untuk 20 orang. Tetap saja butuh kursi dan tenda.


“Snack datang jam berapa?” Tanya Tria.


“Kita pesan jam 09.00,” jawab Timah.

__ADS_1


“Oke siap. Apalagi yang belum? Dokumentasi bagaimana Satrio?”


“Dokumentasi siap. Teman aku yang biasa di penyuluhan lingkungan sudah membawa di dgcam. Juga kamera untuk segala macamnya. Aku nggak ngerti. Pokoknya ada dua kamera yang siap.”


“Mas Yok, kan nanti Mbak Tria mau jual anakan kelincinya. Bagaimana kalau Mas Iyok titip jualannya di kandang Mbak Tria. Jadi kalau ada pembeli anakan mungkin ada yang mau beli pakan ternaknya, sudah tersedia dalam kemasan kecil.”


“Boleh. Kita nanti konsinyasi,” ucap Satrio. Dia tak percaya pagai-pagi dapat saran jitu dari Timah.


“Oke boleh saja, aku nggak keberatan kok,” jawab Tria.


“Iya jangan beli putus. Kasihan Mbak Tria terbebani. Toh dia juga nggak mau menjual itu. Jadi memang lebih baik konsinyasi. Mbak Tria akan membayar yang sudah laku saja.”


Gultom datang jam 09.00 bersamaan dengan kue. Dia memang ingin datang lebih dulu dari Husein. Diamati toko milik Satrio. Tentu saja dia kaget ternyata anak itu juga berjiwa seni dan bisa menata toko dengan baik.


“Amang perkenalkan ini Timah yang aku ceritakan.”


Gultom menatap anak kecil yang tersenyum manis padanya.


“Wah ternyata ini temannya Tria yang hebat itu,” kata Gultom.

__ADS_1


“Saya tidak hebat Om. Saya biasa saja,” balas Timah.


“Tante ini minumnya,” kata Timah. Riana makin kagum terhadap anak tersebut.


Saat itu Tria membantu pegawainya Satrio untuk mengatur kue yang baru mereka terima. Mereka pun menghitung ulang dari jumlah tumpukan kue yang datang. Takut salah.


“Tria bagaimana usahamu?” tanya Gultom yang tak diundang saat pembukaan usaha Tria.


“Alhamdulillah Amang, kelincinya sudah mulai melahirkan. Sekarang jumlah anakan aku sudah 22 ekor. Padahal baru satu setengah bulan usahaku.”


“Bulan depan atau paling tidak satu setengah bulan lagi aku sudah mulai bisa jualan anak kelinci.”


“Wah hebat kamu ya,” puji Gultom.


“Kami bukan hebat, kami hanya belajar,” kata Tria.


“Makanya aku jadi iri dengan nama usahanya Satrio. Kalau aku tahu begini aku juga akan tulis nama usahaku pakai kata SINAU,” kata Tria lagi.


Sinau artinya belajar. Sedang dhodholan artinya jualan. Memang itu yang Satrio terapkan. Dia baru belajar jualan.

__ADS_1


Satu persatu rombongan datang dimulai dari Yanto dan Fitri, Pak RW, Pak RT dan Husein juga Riani. Tentu saja mereka kaget karena dua anaknya ada di sana.


__ADS_2