
“Terima kasih ya sudah boleh ikut ngobrol di sini paling tidak walaupun tidak jadi tim aku bisa sesekali ikutan menimba ilmu,” ucap Harry. Dalam benaknya Harry bertekad akan hunting aneka mie yang tak umum ada di warung atau mini market. Dia akan cari di supermarket yang lengkap.
“Iya nggak apa-apa ngobrol di sini,” jawab Tria pemilik lokasi pertemuan kali ini.
“Maaf ya aku tinggal ada beberapa konsumen yang butuh aku untuk menjawab karena mas Pujo sudah memberi tanda,” kata Tria melihat tanda dari Pujo.
Saat itu ada dua orang konsumen dan biasanya Pujo tidak mau sendirian karena takutnya satu orang dia layani, satu orangnya memegang kelinci dengan tidak sesuai dengan keharusan sehingga kelinci bisa stress. Terlebih kalau kelinci yang hamil tentu nanti bisa bahaya atau kelinci bayi jadi memang Pujo memberi kode pada Tria agar berbagi tugas menemani konsumen.
“Aku juga banyak lihat iklan kelincinya. Hebat ya?” puji Harry.
__ADS_1
“Ya kami memang mengiklankan semuanya. Baik kambing, ikan, kelinci maupun belut. Bahkan sekarang ikan juga banyak yang beli ecer. Dan mereka tak keberatan mengambil ditempatkan. Kami tidak mengirim sama sekali. Setidaknya banyak juga petambak lain di sekitar tambak aku yang kecipratan, karena mereka juga banyak yang beli,” ucap Herry.
“Alhamdulillah kalau seperti itu,” ucap Harry.
“Nanti mungkin kamu bisa lihat peternakan kambing dan ayam petelur serta ayam negeri yang diliarkan seperti ayam kampung milik Timah. Mungkin untuk membuka wacanamu saja. Dulu saat aku mau memulai bisnis, aku juga diperlihatkan semuanya oleh Timah. Tapi aku tak tertarik pada apa pun. Aku hanya tertarik pada cara ibu dan kakaknya Timah memanfaatkan botol-botol atau plastik bekas. Itu yang membuat aku menjadi penyuluh pertanian atau lingkungan hidup. Jadi bukan karena kamu melihat bisnisnya Timah lalu kamu nanti akan seperti itu. Tidak bisa. Dari apa pun yang kita lihat, kita lalu punya ide sendiri kok,” kata Satrio lagi.
“Siap. Aku akan minta Herry menemaniku saat aku diajak berkeliling oleh Timah,” ucap Harry. Rupanya Harry masih belum berani hanya berdua dengan Timah. Dia takut kabar itu sampai ke abi dan uminya. Nanti malah dia bisa jadi bahaya. Dia tidak mau Timah terbawa-bawa dengan kasus rumor yang hangat sekarang.
“Mas, mampir beli buah, barusan Mbak Fitri bilang kita diminta beli buah sesuai yang ada aja. Sama mampir beli jeruk nipis karena ada pepaya yang masak di pohon,” Timah menyampaikan pesan Fitri pada Herry.
__ADS_1
“Oke, buahnya enggak ditentukan kan?”
“Enggak Mas. Yang ada aja, yang bisa buat juice. Aku sih pengennya buah naga,” ucap Fitri.
“Semoga ada,” jawab Herry sambil menyerahkan helm untuk adiknya.
Di kios khusus buah langganan mereka, Timah mengambil alpokat, buah naga melon kuning serta sawo. Dia ingin mencoba juice sawo. Tapi kalau tak ada yang suka nanti sawo akan dia makan tanpa diolah.
“Sawo? Enak enggak Dek?”
__ADS_1
“Belum tahu Mas. Coba beli aja, kita buat untuk dua gelas. Kalau enggak enak, ya dimakan biasa,” jawab Timah. Sebenarnya dia ingin beli sirsak, tapi sirsaknya masih muda-muda. Herry malah beli satu buah cempedak besar untuk dimakan begitu saja tanpa di buat juice. Setidaknya nanti digoreng juga cempedak itu enak.