
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Fit bagaimana kalau kita pindah rumah sakit? Kita pindah ke Solo aja biar lebih dekat dengan rumah?” Suradi mengusulkan pada Fitri agar mereka lebih bisa menjaga Yanto dengan leluasa bila di Solo.
“Kita tanya dulu ke dokter apakah bisa kita pindah ke rumah sakit terdekat dengan rumah Yah, jangan Rumah Sakit tempat Ayah dirawat yang dekat dengan kantor Ayah,” Fitri senang usul ayahnya. Kalau bisa di Solo tentu lebih baik
“Ya waktu itu Ayah di sana kan karena dari kantor bukan dari rumah jadi dibawanya ke rumah sakit dekat kantor,” kata Suradi.
“Kan yang kedua waktu Yanto bawa juga dekat rumah. Yanto pilih rumah sakit yang enggak jauh dari rumah koq,” lanjut Suradi lagi
“Ya yang di situ aja yang terbaik dan terbesar aja ya dekat rumah jangan yang dekat kantor Ayah,” Fitri setuju kalau di rumah sakit besar dekat rumah mereka di Solo.
“Ayo kita ke ruang dokter, kita tanya kemungkinan bisa enggak kita pindahkan dan bawa dengan ambulans serta perawat dari sini untuk dimutasi ke rumah sakit yang kita tuju,” kata Suradi bersemangat.
Mereka menuju ruang dokter yang menangani Yanto untuk konsultasi meminta agar Yanto dipindahkan ke rumah sakit yang mereka inginkan di Solo.
Ternyata dokternya sedang melakukan operasi sehingga tidak bisa ditemui saat itu. Suster yang membantunya mengatakan akan memberitahu dokter setelah selesai operasi.
’Ya udah kita makan dulu yuk,” Suradi mengajak Fitri makan di lesehan depan rumah sakit.
“Kamu walau pun tidak nafsu makan harus dipaksa makan, kamu tidak boleh sakit,” Suradi tahu anaknya tak akan mungkin mau makan karena memikirkan Yanto.
“Aku makan kok,” Fitri lalu memesan sate kambing dengan sedikit lontong ditambah gule kambing dengan sedikit kuah.
Suradi minta nasi dan tongseng kambing. Memang mereka akhirnya tidak jadi makan di lesehan karena tempatnya penuh mereka akhirnya mampir di tenda penjual sate dan masakan menu kambing lainnya.
Suradi melihat nafsu makan Fitri sangat bagus malah lebih dari biasanya. Fitri makan dengan lahap dan banyak tak terganggu dengan pikirannya yang sedang kalut. Tentu Suradi senang melihat anaknya makan dengan banyak.
Sehabis dari makan baru mereka kembali menuju ruang dokter menunggu agar dokter kembali dari ruang operasi. Mereka duduk di ruang tunggu setelah Suradi kembali lapor mereka sudah ada kembali. Tadi Suradi memang memberitahu petugas dia keluar makan sambil menunggu dokter siap menerima mereka.
“Ada yang bisa saya bantu Bapak Ibu?” tanya dokter dengan ramah padahal dia baru selesai melakukan operasi pasien kecelakaan yang butuh penangannan segera.
__ADS_1
“Dok saya mertua dari Bambang Putranto, sopir bus yang kecelakaan dini hari tadi. Saya sudah mendengar kondisi menantu saya dari istri dan anak saya ini.” Suradi memeprkenalkan jati dirinya.
“Apa saya boleh bawa dia untuk pindah ke rumah sakit di Solo karena kami sulit wira-wiri Solo~ Purworejo nya?” Suradi memeberitahu tujuan kedatangannya pada dokter tersebut.
“Kalau saya lihat kondisinya walau pun kritis dia stabil bila dipindah di dalam ambulans,” dokter melihat data pasien yang ditanyakan dari laptop di mejanya. Sekarang cari data pasien yang dia pegang tak perlu minta ke bagian rekam medik. Cukup klik dia bisa lihat semuanya.
“Pasien bisa dipindahkan karena pasti orang-orang medis dalam ambulans tidak akan sembrono. Tapi saya akan cek dulu apakah rumah sakit yang Bapak tuju itu ada tempat atau tidak. Karena percuma Bapak asal bawa, tapi ternyata di sana tidak terima,” jelas dokter. Selanjutnya dokter melakukan panggilan telepon pada seorang petugas administrasi.
“Coba tolong cek Rumah Sakit Prima Medika di Solo ada ruang tidak buat pasien dengan kategori seperti Bambang Putranto sopir bus kecelakaan tadi dini hari,” kata dokter.
“Kalau disana bisa terima langsung buat saja data pengiriman pasien, pindahkan saja minta uangnya VIP karena permintaan keluarga seperti itu,” kata dokter yang didengar Suradi dan Fitri dengan jelas.
Rupanya petugas yang dihubungi dokter minta waktu untuk mencari info ke rumah sakit di Solo.
“Oke saya tunggu secepatnya, langsung hubungi saya,” jawab dokter tersebut lalu dia putuskan sambungan teleponnya.
“Sebenarnya kalau masih di ICU enggak perlu minta VIP Pak, tapi saya sudah minta kan, nanti kalau ada kita tunggu jawaban dari petugas ya Pak karena yang menghubungi adalah petugas rumah sakit ini ke petugas rumah sakit yang Bapak tuju,” jelas dokter lagi.
Cukup lama mereka berbincang Suradi bertanya bagaimana kondisinya Yanto dari dokter langsung, sejak tadi yang dia dengar dari istri mau pun dari Fitri.
Tak lama dokter mendengar telepon di saluran mejanya.
“Iya bagaimana?” Tanya Dokter.
“Oh iya pindahkan saja, kapan rencananya?” Tanya Dokter.
“Baik, terima kasih.”
”Bapak ini sudah ada jawaban dari Rumah Sakit Prima Medika di Solo. Mereka disana siap menerima pasien dengaan kondisi pak Bambang. Bapak urus dulu administrasi pembayaran di sini karena kalau di sini belum beres belum bisa dipindah ke rumah sakit tujuan.”
__ADS_1
“Saya lihat pembayaran di sini kan ditanggung oleh PO dan Jasa Raharja. Bapak harus bayar kan lebih dulu agar bisa dipindah nanti urusan PO dan Jasa Raharja Bapak urus pribadi aja ya. Kalau menunggu agar PO atau Jasa Raharja yang melunasi lebih dulu nanti akan makan waktu,” Kata dokter memberi saran pada Suradi.
“Nanti apabila sudah keluar dari ICU saat ini yang kosong hanya ada kelas 1 tidak ada VIP, tapi kan saat ini masih di ICU jadi mungkin nanti pas ada keluar bisa ada VIP yang kosong tapi sudah didaftarkan di kelas 1 lebih dulu,’ jelas dokter lagi.
“Baik akan saya urus administrasinya secara personal dulu bukan dari PO mau pun dari Jasa Raharja sesuai saran Dokter. Nanti Jasa Raharja dan PO biar berurusan dengan saya,” kata Suradi.
Suradi dan Fitri pun pamit dari ruang dokter dan langsung menuju bagian administrasi keuangan rumah sakit tersebut.
Cukup lama Suradi mengurus administrasi. Setelah selesai lalu pasien pun disiapkan juga ambulans.
Sambil menunggu Suradi mengurus pembayaran Fitri langsung mengabari Ibu Gendis juga Ibu Erlina.
“Assalamu’alaykum Mbak,” sapa Herry.
“Wa’alaykum salam. Lagi belajar?” tanya Fitri.
“Enggak Mbak. Sudah selesai. Sedang menonton sepak bola,” jawab Herry jujur.
“Bisa bicara dengan Ibu? Apa Ibu sudah sare ( tidur )?” Fitri ingin bicara langsung dengan Gendis.
“Ibu sedang nderes ( membaca ayat-ayat suci atau berzikir ), sebentar ta’ ke kamare,” sahut Herry.
““Assalamu’alaykum Bu, maaf ganggu Ibu sedang nderes,” sapa Fitri pada ibu mertuanya.
“Wa’alaykum salam nduk. Enggak apa apa. Ada khabar apa?” tanya Fitri dengan ketakutan. Dia sudah harus siap menerima khabar terburuk yaitu anak sulungnya tak kuat bertahan.
“Barusan aku dan ayah konsultasi ke dokter. Ayah minta mas Yanto dipindahkan ke rumah sakit dekat rumah di Solo. Dan sebentar lagi kami siap ke sana beriringan dengan ambulans Bu,” Fitri memberikan khabar bahagia itu.
Gendis tak percaya, Suradi masih saja sangat baik pada dirinya padahal Yanto telah melukai hati anak tunggalnya.
“Alhamdulillah bila bisa dirawat di Solo, matur nuwun. Sampaikan terima kasih Ibu buat ayahmu,” jawab Gendis terbata. Tentu saja Ibu Gendis senang karena kalau di rumah sakit Solo, dia dan Herry serta Timah bisa jalan sendiri tanpa perlu antar jemput dari Fitri.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul LOVE FOR AMOR yok
__ADS_1