
“Alhamdulillah persoalanmu selesai. Itulah gunanya kita diskusi dengan pikiran jernih sehingga semua akan terpecahkan masalahnya,” kata Fitri ketika semua sudah sepakat tentang beasiswa yang Timah dapatkan.
“Iya Mbak, matur nuwun juga dukungannya Mbak selama ini,” jawab Timah.
“Jadi kamu sudah diskusi duluan dengan Mbakmu?” selidik Gendis. Dia tak marah, malah sangat senang karena dengan ipar anak-anaknya tak ada jarak.
“Iya Bu, sebelum matur ( bicara ) ke Ibu aku sudah diskusi dengan Mas Herry dan Mbak Fitri lebih dulu, karena kalau langsung masuk ke ibu aku takut salah ucap,” jawab Timah jujur.
“Alhamdulillah, Ibu senang dan bangga kalian bisa rukun antara saudara. Ibu ingin kalau pun Ibu sudah tidak ada semua tetap seperti ini. Semua tetap guyub rukun,” ucap Gendis.
“Ibu ngendiko nopo tho?” kata Yanto. Dia menegur Gendis, ibu bicara apa sih? Maksudnya karena Gendis bicara tentang kematiannya.
“Bukan soal bicara atau tidak. Tapi kan itu kenyataan. Pasti terjadi,” balas Gendis.
__ADS_1
“Benar Bu. Semua memang harus diskusikan. Aku sangat merasa manfaat diskusi dalam keluarga. Maklum dulu aku anak tunggal jadi semua semua aku pendam sendiri,” ungkap Fitri. Yanto mengusap lengan istrinya lembut.
“Kadang aku salah bicara terhadap ibu, tapi kalau ke ayah aku memang lebih terbuka sehingga hubungan kami lebih dekat,” lanjut Fitri.
“Atau aku juga sering salah waktu bicara, aku enggak mikir apakah waktu aku bicara itu tepat tidak. Jadi sering ibu marah-marah padaku. Aku memang lebih dekat dengan ayah sih,” kata Fitri menyadari bagaimana dia dulu menjadi anak tunggal. Untung dia tak jadi egois dan untung pula Yanto bisa ngemong dirinya yang sering keras kepala. Kelembutan dan ketegasan Yanto lah rem untuk diri Fitri.
“Jadi kapan kamu akan mendaftar itu?” tanya Yanto kembali pada topik beasiswa Timah agar Fitri tak makin larut menyesali takdirnya menjadi anak tunggal.
“Ini tinggal laporan ke sekolah yang bersangkutan Mas. tapi harus orang tua yang mendaftarkan. Tak boleh datang sendiri walau aku bisa,” jawab Timah.
“Hari Senin aku ikut ya Mas,” pinta Fitri.
“Kalau begitu kita menginap saja di rumah kota dari hari Jumat sore,” jawab Yanto. Dia tak tanya mengapa istrinya ingin ikut. Dia langsung membolehkan apa pun yang Fitri mau.
__ADS_1
“Nanti hari Jumat kamu ikut aja Her, hari Minggu kamu pulang bisa naik angkot kan?” kata Yanto.
“Atau kamu mau tetap di sini sendirian?”
“Kalau keluarga kumpul apa pun alasannya, aku akan ikut kumpul kok Mas. Aku bukan anak kecil yang takut naik angkot untuk pulang ke rumah. Hari Minggu sore aku akan pulang ke rumah naik angkot,” jawab Herry.
“Ya nanti Mas antar kamu sampai terminal,” jawab Yanto.
“Enggak usah diantar pun enggak apa-apa kok Mas,” tentu sebagai bujangan Herry tak mau merepotkan kakaknya.
“Enggak apa apa lah. Di sana kan banyak motor juga. Bisa kok Mas antar naik motor aja,” jawab Yanto.
“Ya sudah pokoknya aku tetap akan ikut Mas. enggak akan mungkin aku menyia-nyiakan acara kumpul dengan keluarga besar. Biar bagaimana pun aku besar dan tumbuh dalam keluarga ini,” kata Herry. Saat anak seusianya tak betah di rumah, Herry dan Timah lebih nyaman berada dalam dekap hangat keluarganya. Sama seperti Yanto dulu. Lebih senang di rumah padahal tak ada larangan main oleh orang tua mereka.
__ADS_1