
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
Sampai di Jogja Yanto bingung tak bisa lagi kembali ke rumah kontrakannya. Tentu dia tak enak. Dia menunggu agak malam agar tak bikin ribut bila dia diusir oleh Fitri. Dia lihat rumah menyala lampu luarnya saja. Yanto yakin Fitri tidak pulang ke Jogja. Yanto pun mengambil beberapa baju untuk ganti di mess, yang terpenting adalah baju seragamnya. Lalu dia kembali keluar tak berani bertemu Fitri sedang marah.
Lusanya Fitri ke rumah Jogja. Fitri melihat kertas yang di tindih gelas kosong tengkurap. Dia baca surat yang Yanto kirim untuknya.
‘Yank, Mas barusan pulang cuma ambil baju seragam, nanti kita bicara setelah kamu cooling down ya. Mas akan ceritakan semuanya. Mas enggak pernah menduakan kamu. Di dalam hati hanya ada kamu. Yang terjadi kemarin itu adalah jebakan. Tapi Mas terlalu bodoh sehingga tidak ingat kalau Mas itu sulit punya anak. Mas hanya ketakutan saat dia mengancam.’
Itu saja itu yang Yanto tulis dan letakkan di meja makan. Yanto tak mengambil apa pun lagi selain baju seragam saja. Fitri melihat bahkan buku tabungan usaha dan kartu ATM masih tak berpindah.
‘Kalau dia mau, itu semua kan hasil kerja dia sejak bujangan. Mengapa enggak dia bawa?’ Fitri terpaku melihat buku itu. Dia akan titipkan pada bu Gendis saja.
__ADS_1
Fitri memerintah orang yang dia bawa untuk membereskan rumahnya dia mengosongkan rumah kontrakannya dia akan pindah kembali ke Solo.
‘De, pinjam ponselmu sebentar,” pinta Fitri sebelum naik mobil untuk kembali pulang. Barusan dia menurunkan semua barang ke rumah bu Gendis.
“Ini Mbak,” Herry menyerahkan ponselnya.
“Sebentar ya Dek. Nanti Mbak kembalikan. Mbak mau bicara dulu dengan ibu.”
“Ibu matur nuwun untuk semuanya. Biar bagaimana pun aku tetap anak ibu. Maaf aku titip barang-barang disini. Kalau ada yang Ibu tak suka boleh Ibu buang saja.” Fitri berkata pada mantan mertuanya.
“Aku titip ini Bu. Buku tabungan usaha mas Yanto dan kartu ATM-nya, mungkin dia mau gunakan. Kasihan kalau dia cari ke rumahku,” Fitri menyerahkan amplop coklat berisi kartu AYM dan buku tabungan milik mantan suaminya.
“Saya pamit ya Bu. Assalamu’alaykum,” Fitri mencium tangan ibu mertuanya. Gendis memeluknya sambil terisak.
__ADS_1
“Enggak usah sedih. Aku tetap anak ibu,” bisik Fitri. Timah yang tak tahu mengapa ibu dan kakaknya menangis hanya bingung.
Fitri mengembalikan ponsel Herry sesaat sebelum mobil yang membawanya jalan, dia serahkan sebelum dia menutup pintu mobil.
“Wa’alaykum salam. Mana Mbakmu?” tanya Yanto membalas salam yang diberikan oleh Herry. Barusan dia menerima pesan dari nomor Herry yang Yanto yakin di tulis oleh Fitri. Pesan kaku tanpa salam apalagi menyebut Pa, Yank atau Mas.
‘Semua barangmu dan barang rumah tangga kita ada di rumah Ibu Gendis. Rumah Jogja sudah aku kosongkan. Kunci sudah aku kembalikan karena aku sudah pindah kembali ke rumah Ayahku. Buku tabungan usaha serta kartu ATM ada pada Ibu. Selamat tinggal.’
“Sudah pulang Mas. Barusan aja. Mbak cuma matur sama ibu bahwa semua barang rumah dari Jogja di titip di sini kalau Mas cari. Yang dibawa sama mbak Fitri hanya barang-barang dia aja,” jawab Herry.
Mendengar fakta itu Yanto terpuruk dengan kenyataan seperti itu jelas kalau Fitri sudah tak mau lagi bersama dengannya.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~
__ADS_1
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok