
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Yanto mengingat-ingat apa yang telah dia lakukan atau dia katakan sejak mereka tiba di rumah, dia runut satu per satu kata-kata apa yang keluar dari mulutnya juga kelakuan apa yang dia kerjakan yang membuat Fitri terluka seperti sekarang. Sejak makan malam istrinya tak mau bicara apa pun.
Yanto tak bisa tidur akhirnya dia bangkit dan duduk di sofa kamar tersebut dia langsung mengambil ponselnya, mencari bahan dagangannya baik mobil maupun motor di mobilnya. Dia cari iklan yang sekiranya besok bisa dia hubungi.
Fitri yang tak sengaja bangun melihat Yanto sedang asyik bermain ponselnya. Tentu saja itu makin membuatnya curiga bahwa Yanto memang sedang berkirim pesan dengan Aisy.
‘*Memang benar dia mulai berpaling. Saat ini aku harus meyiapkan diri. Aku tak akan pernah menerima kembali orang yang hatinya pernah terbagi. Aku bisa bertahan dengan anak-anak saja*.’
Fitri langsung menyiapkan sarapan saat dia bangun sesudah salat Subuh duluan dari Yanto. sebelumnya tak pernah dia salat lebih dulu dari suaminya. Fitri juga sudah menghangatkan ASIP untuk Daffa, sudah dia letakkan di meja makan. Sebentar lagi dia akan memberi ASI pada Daanish bila lelaki kecilnya itu terjaga.
“Masak apa Nduk?” tanya Gendis melihat menantunya pagi-pagi sudah sibuk di dapur. Biasanya Fitri belum keluar kamar. Bukan belum bangun, tapi sejak subuh menantunya akan sibuk di kamarnya sebelum anak-anaknya bangun. Lalu sibuk dengan anak-anak, sampai kedua anaknya rapi baru Fitri akan keluar kamar.
“Enggak bikin apa-apa Bu, aku kok kepengen banget lupis, ini lagi mau ngerendam ketan. Masih ada sedikit ketan, Aku pengen bikin jadi lupis aja,” jelas Fitri.
“Wah enak kuwi,” kata Gendis.
“Iya buat sore, nanti kita bikin ya Bu. Beras ketannya kan harus direndam dulu,” jelas Fitri.
__ADS_1
”Sarapan sudah siap?” tanya Gendis sambil memeriksa nasi.
“Nasi putih sama rendang dan tumis pepaya semalam masih ada Bu. Pagi ini aku akan tambahin pakai dadar telur biar habis dulu itu,” Fitri mengambil daun bawang di kulkas untuk dia bikin dadar.
“Oh ya sudah, memang jangan banyak-banyak keluarin kalau enggak habis,” Gendis ingat saat dia susah dulu sehingga apa yang sudah dimasak itulah yang harus dimakan lebih dulu. Bukan karena sekarang mereka berlebih lalu bisa sembarangan makanan semua dikeluarkan. Untungnya anak-anaknya terbiasa hidup prihatin jadi sarapan dengan lauk tadi malam tak ada yang protes.
“Kok Yanto tumben belum bangun?” tanya Gendis.
“Mungkin sudah bangun tapi lagi ngurusin Daanish atau Daffa Bu. Atau mungkin juga belum karena tadi malam dia sibuk dengan ponselnya. Aku tidur aja dia masih sibuk dengan ponselnya,” kata Fitri dia tak tahu kalau suaminya sudah di belakangnya.
“Memangnya ngapain malam-malam malah sibuk dengan ponsel?” tanya Gendis.
“Mana aku tahu, wong aku nggak lihat Bu. Mungkin pacaran,” jawab Fitri datar. Tak ragu dia mengatakan hal itu pada ibu mertuanya. Dulu ketika Yanto ketahuan selingkuh juga dia lapor pada Gendis lebih dulu daripada ke Erlina.
“Astagfirullah, nek ngomong yang benar. Jangan seperti itu,” tegur Gendis.
‘*Kamu mencurigai aku pacaran Yank? Itu sebabnya kamu marah ke aku*?’ kata Yanto masih dalam hatinya. Dia masih ingin mendengar apalagi omongan istrinya apa yang diungkapkan oleh Fitri.
__ADS_1
Apa yang diungkapkan pasti itu yang ada dalam otaknya, itu sebabnya Yanto tidak mau langsung memutus pembicaraan mereka. dia masih ingin mendengarkan apa saja yang Fitri ucapkan.
“Kita mana tahu Bu dalam hati orang. Aku juga enggak bisa ngelarang kan. Biar bagaimana pun namanya istri bisa bilang apa kalau suaminya berpaling? Ada bekas istri tak ada bekas anak ya kan Bu?” kata Fitri sambil terus mengocok telur untuk dia dadar.
“Enggak ah, enggak akan seperti itu,” tepis gendis. Dia tak ingin membayangkan hal seperti itu terjadi.
“Dulu aja sama istri sirinya pun enggak pernah berkirim pesan walaupun secara agama mereka sudah resmi,” ucap Gendis.
“Kalau sama yang Bogor kan dia enggak suka Bu. Kalau sama yang lain bisa aja kirim-kiriman pesan tengah malam biar istrinya enggak tahu karena dia suka,” Kata Fitri.
Fitri ungkapkan semua yang dia rasa. Yanto tambah tak percaya ternyata Fitri menduga seperti itu padahal jelas-jelas tadi malam dia mencari iklan mobil dan motor buat usahanya karena dia tidak bisa tidur. Biasanya juga tak pernah dia mencari iklan saat tengah malam karena begitu baca iklan akan langsung dia hubungi.
Yanto langsung mundur, tak ingin membuat keributan di dapur. Yanto kembali ke kamarnya Daffa dan Daanish. Kamar tidur Daffa dan Daanish terletak di sebelah kamar Fitri, tapi ada pintu penghubung antara kamar itu.
Yanto melihat Daanish sudah bangun tapi Daffa belum. Yanto langsung menggantikan diapers Daanish.
“Wah anak Papa sudah bangun ya? Yuk kita keluar yuk. Kita temuin Mama,” kata Yanto berupaya setenang mungkin. Dia tak ingin memicu keributan dengan Fitri. Entah mengapa Fitri punya pikiran bahwa dia berselingkuh itu yang harus Yanto pecahkan dulu. Karena tak mungkin untuk menjabarkan sesuatu yang sudah tersimpan dalam otak istrinya bila dia belum tahu penyebabnya.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN yok.
__ADS_1